Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #10

Bab 10

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah tirai, dan jatuh di lantai apartemen. Kota di luar masih setengah terjaga.

Niki membuka mata perlahan.

Langit-langit disana terasa asing, membuatnya butuh beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada.

Apartemen Malvin.

"Kenapa Malvin tidak membangunkan aku?"

Ia menggeser tubuhnya sedikit. Perutnya masih terasa hangat tidak sepenuhnya nyaman, tapi jauh lebih baik dari malam sebelumnya. Selimut tipis masih menutupinya.

Di lantai, tak jauh dari sofa, Malvin tertidur setengah duduk, bersandar pada sisi sofa. Lehernya sedikit miring, rambutnya berantakan, saat itulah dia bisa menatap Malvin lebih lama, pemandangan seperti itulah yanh sudah lama ia rindukan.

Niki menahan napas.

Ia tidak menyangka Malvin benar-benar begadang dan menjaganya disana.

Saat Malvin bergerak dalam tidurnya, lengannya terangkat refleks untuk menutup mata dari cahaya pagi. Tanpa sengaja lengan baju tersingkap, naik hingga siku.

Dan di sana, di sisi dalam lengan kirinya terlihat garis tinta gelap.

Bukan besar. Tidak mencolok. Sebuah simbol sederhana, hampir tersembunyi di lipatan kulit.

Sebuah kompas kecil. Garisnya halus, bersih, dengan satu huruf N yang ditebalkan namun terlihat sangat kecil, karena warna mencolok yang jelas hanyalah kompas.

Niki terdiam.

Kompas itu tidak seperti Primus Amor. Tidak puitis. Tidak emosional. Seolah dibuat untuk mengingat arah, bukan perasaan.

Malvin mengerang pelan, lalu membuka mata.

Tatapan mereka bertemu.

Malvin langsung menyadari arah pandang Niki. Ia menarik lengannya cepat, menurunkan lengan bajunya.

“Kamu sudah bangun,” katanya, nada datar, sedikit serak karena tidur, "kenapa nggak bangunin aku?"

“Maaf.” Ucap Niki spontan, meski tidak yakin untuk apa ia minta maaf.

Malvin berdiri, merapikan bajunya. “Perutmu?”

“Masih terasa… tapi nggak sakit kayak kemarin.”

Malvin mengangguk kecil. Ia berjalan ke dapur, menyalakan mesin kopi. Suaranya memecah keheningan.

Niki menatap punggungnya.

“Vin.” Panggilnya pelan.

Malvin tidak menoleh. “Kalau mau nanya soal tato, jangan.”

Nada itu bukan marah. Lebih seperti peringatan.

Niki tersenyum kecil. “Aku cuma mau bilang… kompasnya bagus.”

Malvin terdiam sejenak. Mesin kopi masih berdengung.

“Fungsinya bukan buat dilihat.” Jawabnya akhirnya.

Niki memiringkan kepala. “Buat apa, kalau bukan dilihat?”

Lihat selengkapnya