Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #11

Bab 11

Niki mengerang pelan, sambil mengucek matanya. Dia bangun sendirian. Selimut masih menutupinya, tapi apartemen itu sudah kembali terasa terlalu rapi, terlalu sunyi seolah malam sebelumnya hanya persinggahan yang tidak pernah diizinkan tinggal lama.

Tidak ada Malvin disana. Tidak ada suara apapun. Semuanya terasa sangat hening. Niki menyibak selimut tipis yang menutupi tubuhnya lalu bangun dan duduk. Matanya terpaku pada secarik kertas kecil di meja.

Jangan telat minum obat. Pintu terkunci dari luar. Aku kembali sore.

Tulisan Malvin singkat, lurus, tanpa embel-embel. Tapi Niki menangkap sesuatu di sela kalimatnya, ia pergi tanpa pamit karena tidak sanggup menunggu Niki bangun atau dia sengaja pergi dan mengunci pintunya dari luar agar Niki tetap berada disana.

Perutnya masih terasa aneh. Bukan sakit lebih seperti kosong yang sensitif. Ia minum obat sesuai catatan, lalu duduk di sofa, menatap apartemen itu dengan mata yang lebih jeli sekarang.

Rak buku, kompas kecil di dinding, dan bingkai foto yang tetap menghadap ke bawah.

Niki tidak membaliknya. Ia tahu ada batas yang harus dihormati kalau ingin tetap diizinkan berada di sini meski hanya sementara. Dia juga tidak ingin hatinya tersakiti jika apa yang akan dia lihat, tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Hari kemarin sudah cukup memberikan sakit padanya, dia sudah cukup sakit dengan apa yang terjadi.. tato di tubuh Malvin, semua punya arti dan tak semuanya Niki tau. Mencoba untuk bersikap santai tanpa perlu menuntut mungkin itu akan lebih baik, tetapi Niki sendiri tidak yakin dia bisa melakukannya.

Sore hari datang bersama hujan yang tersisa. Pintu terbuka. Malvin masuk dengan hoodienya yang sedikit basah, wajahnya kembali ke mode yang dikenal Niki, tertutup, terkendali.

“Gimana keadaan kamu?” tanyanya sambil melepas sepatu.

“Lebih baik.” Jawab Niki jujur. Dia memiliki banyak waktu untuk istirahat walaupun tak bisa berpikir tenang.

Malvin mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Tidak mendekat. Jarak di antara mereka kembali seperti sebelum malam itu, aman, tapi dingin.

Malvin pergi kearah dapur, meletakan makanan yang baru dia beli untuk Niki.

“Aku pesan sup,” katanya. “Bukan ramen.” Dia melangkah perlahan sambil melepaskan hoodienya.

Lihat selengkapnya