Malvin tidak langsung pulang. Ia duduk di sebuah taman kecil yang jaraknya tak jauh dari flat Niki, hujan kembali turun tipis, membasahi tubuhnya secara perlahan.
Nama itu kembali muncul di kepalanya tanpa undangan. Bukan sebagai wajah. Bukan sebagai suara. Hanya sebagai pengingat jika dia tidak boleh melupakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Nama itu di ukir agar dia tak lupa, apa yang sudah dia lakukan di masalalu. Nama itu di ukir seakan sebagai penentu jika Malvin bukan lagi kepunyaan dirinya sendiri.
Ia menutup mata. Berharap menghapus semuanya. Namun tak semudah itu, keinginannya untuk berandai-andai, jika saja kejadian itu tak terjadi mungkin dia sudah melanjutkan mimpinya menjadi seorang pemain basket profesional. Rasa sesal ini seharusnya tak perlu muncul, jika Niki tidak datang ke kafe malam itu, jika tak datang ke Negara itu.
Tempat yang ia jaga mati-matian agar tetap terpisah dari urusan pribadi. Seharusnya tidak sakit sendirian. Dan justru karena itu Malvin tahu, ini akan jadi masalah. Dia tau saat ada Niki bersamanya, dia ingin semua kembali seperti dulu, dia ingin berbagi keadaan apapun pada Niki, namun ia juga takut menyeret Niki dalam masalah pribadinya. Dia takut apakah Niki bisa menerima keadaannya lagi atau tidak.
Malam itu, Malvin tidak tidur. Ia berdiri di dapur, membuka laci obat, kebiasaan lama. Tangannya bergerak otomatis, mengecek tanggal, dosis, ketersediaan. Semua rapi. Selalu rapi. Seakan tak membiarkan siapapun datang dan mengacak semuanya.
Ia menuang air, meneguknya perlahan. Pantulan dirinya di kaca kabinet terlihat asing pria dewasa dengan hidup terkendali oleh masalalu, tapi mata yang selalu siaga seolah menunggu alarm berbunyi.
Tangannya jatuh ke sisi rusuknya.
Primus Amor.
Bukan cinta yang pertama.
Yang pertama pergi. Namun apakah dia akan kembali lagi?
Tangannya turun lebih rendah, ke perut bawah, ke tato yang jarang ia ingat dan selalu ia rasakan.
Lily.
Nama itu tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Bahkan sekarang, di apartemen kosong.
Malvin duduk di kursi dapur, bahunya sedikit merosot. Niki sakit tadi pagi. Pucat. Goyah. Terlalu mirip dengan ingatan yang tidak mau ia susun ulang.
Ponselnya bergetar. Pesan singkat masuk dari Niki.