Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #14

Bab 14

Niki berhenti mengirim pesan. Bukan karena ia menyerah. Tapi karena ia belajar menahan diri. Dia mengikuti apa yang di katakan oleh Becky. Dia juga ingin tau sampai kapan Malvin akan terus berdiam diri.

Ponselnya berkali-kali ia buka, layar percakapan dengan nama Malvin masih ada di sana dan tidak dihapus, tidak diarsipkan. Ia hanya berhenti menambahkan apa pun. Terakhir kali ia hampir menulis, “Bagaimana kabarmu?” Lalu ia menghapusnya sebelum terkirim.

“Aku nggak bisa terus begini.” Gumamnya pelan pada diri sendiri.

Ia tidak tahu sampai kapan ia mampu menahan diri seperti ini. Menahan dorongan untuk tahu kabar Malvin. Menahan keinginan untuk menjadi tempat pulang, seperti dulu.

Semalam, ia mengikuti akun istri Steven. Ia belum berani menyapa, apalagi memperkenalkan diri. Ia hanya memantau. Yang muncul hampir selalu foto anak mereka, senyum bayi, mainan berserakan, dan tingkah konyol lainnya.

Namun bagi Niki, itu bukan sekadar foto. Ia seperti sedang mencari celah, sebuah kemungkinan kecil bahwa suatu hari nanti akan ada informasi yang ia butuhkan. Sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan jarak antara dirinya dan Malvin. Atau mungkin hanya alasan untuk tetap merasa terhubung.

Ia membenci dirinya yang masih berharap. Seberapa keras ia mencoba, pikirannya selalu tertuju kepada Malvin.

Niki juga menahan diri untuk tidak menanyakan kabar kedua orang tua Malvin. Dulu, ketika hubungan mereka retak, ia selalu datang ke rumah itu. Ibu Malvin akan menyediakan makanan dan minuman yang enak untuknya, Ayahnya berbicara dengan suara tenang dan menghibur Niki.

“Kalian cuma keras kepala, sudah lama bersama masih saja bertengkar karena masalah kecil.” Kata ibunya suatu waktu. Dulu masalah yang mereka hadapi memang hanyalah masalah kecil namun sekarang, ia bahkan tak tau lagi bagaimana cara untuk menyelesaikannya, karena Malvin begitu dingin padanya.

“Keras kepala yang saling sayang,” tambah ayahnya, "kalau nanti ngambek-ngambekan seperti ini, rindu dan sayangnya pasti bertambah." Itulah yang terjadi saat ini, saaat ia berusaha menjauh, kerinduannya pada Malvin semakin bertambah.

Kini Niki tidak tahu apakah ia masih berhak mengetuk pintu itu.

Ia kembali pada rutinitas lamanya, seperti saat ia tinggal di Jerman. Bangun pagi, berjalan kaki menyusuri taman kota, membeli kopi hitam tanpa gula. Ia pergi ke perpustakaan, duduk di dekat jendela, menulis hal-hal yang tak pernah ia kirimkan pada siapa pun.

Ia membeli makanan yang ia suka tanpa perlu bertanya pada siapa pun, “Kamu mau makan apa?”

Ia bepergian sendirian. Ia kembali mengisi hari dengan hal-hal yang dulu ia tinggalkan demi seseorang. Namun di sela-sela itu, ada kepedihan kecil. Seperti serpihan kaca yang tak terlihat, tapi sesekali menusuk saat ia terlalu lama diam.

Hari itu, hujan turun tipis ketika Niki memasuki perpustakaan.

Ia memilih meja di pojok, membuka buku, mencoba fokus pada kalimat-kalimat di depannya. Ia sedang membaca, tetapi pikirannya berjalan ke tempat lain.

Ia tidak menyadari seseorang berdiri tak jauh darinya.

Malvin. Ia datang untuk mencari buku atau mungkin sama seperti Niki, berusaha untuk mengalihkan pikirannya sendiri. Itu alasannya. Atau mungkin bukan. Ia sendiri tak yakin mengapa kakinya membawanya ke sini.

Lalu ia melihat Niki. Sehat. Tenang. Rambutnya sedikit lebih panjang. Wajahnya tidak lagi terlihat lelah. Dan yang paling menyakitkan ia terlihat baik-baik saja.

Malvin berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Dadanya seperti ditekan dari dalam. Ia mengira, jika suatu hari mereka bertemu lagi, akan ada ledakan, amarah, atau setidaknya kegugupan.

Lihat selengkapnya