Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #15

Bab 15

Kenny bukan perempuan yang naif. Ia mengenal Malvin dalam versi yang paling hancur, versi yang penuh utang, penuh ambisi, dan penuh rasa bersalah. Ia tahu bagaimana lelaki itu bekerja, bagaimana ia menekan diri sendiri, bagaimana ia menukar tidur dan perasaannya dengan bekerja keras.

Karena itu, perubahan sekecil apa pun tak pernah luput dari perhatiannya. Belakangan ini, Malvin lebih sering diam. Bukan diam yang dingin atau marah. Tapi diam yang jauh. Ia duduk di hadapannya saat makan malam, namun matanya seperti menatap tempat lain. Kenny sadar, dari dulu Malvin tidak pernah menaruh perasaan pada Kenny, namun perubahan yang terjadi pada Malvin membuatnya sangat kesal dan marah. Ketika Kenny berbicara tentang beberapa rencana untuk perkembangan kafe Malvin, tentang peluang sponsor, Malvin hanya mengangguk terlalu cepat dan kosong.

Tubuhnya ada. Pikirannya tidak.

Malam itu Malvin dan Kenny duduk berduaan di kafe, sambil memperhatikan pengunjungan yang datang kesana.

“Kamu jatuh ke lubang lama,” katanya datar, "apakah kamu tidak sadar, sudah sejauh apa kamu berjuang selama ini?"

Malvin beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri di dekat jendela tidak langsung menoleh. Lampu memantul di kaca, membuat bayangannya tampak terbelah dua.

“Aku tidak tahu maksud kamu.” Jawabnya akhirnya. Bagi Kenny, Malvin yang ia kenal sudah pulih, tetapi dia tidak tau, seberapa keras Malvin menahan rindu, seberapa sering dia merutuki dirinya dan menyesal.

Kenny tersenyum tipis. “Jangan bohong sama orang yang bantu kamu bangkit.”

Kalimat itu tidak terdengar manis. Itu pengingat, jika keberadaannya sekarang karena bantuan Kenny. Malvin pun ingat akan hal itu.

Malvin berbalik, menyandarkan punggungnya ke dinding. Wajahnya lelah. “Aku cuma lagi lelah.”

“Bukan. Kamu lagi memikirkan dia. Perempuan itu.”

Hening. Ia tidak menyangkal. Tidak membenarkan.

Kenny berdiri, berjalan mendekat beberapa langkah. “Kau tau Malvin.. aku selalu ada di sampingmu dan kondisi apapun. Aku tidak perduli dengan hal apapun, aku hanya mau kau selalu bersandar padaku. Jangan menghawatirkan perempuan itu lagi, karena kau akan tau akibatnya.”

Malvin tidak nyaman dengan ucapan Kenny, namun dia memilih untuk tidak menyanggahnya.

***

Beberapa hari kemudian, perubahan itu semakin jelas. Malvin mulai menolak beberapa ajakan Kenny untuk menemaninya. Ia lebih sering pergi sendiri, menghabiskan waktunya di kafe, atau saat senggang dia akan bermain basket.

Kenny memperhatikannya. Dan ia tidak suka. Dia tidak suka Malvin mengabaikannya.

Suatu sore, saat mereka berada di ruang kantor kecil di belakang kafe, Kenny meletakkan map tebal di atas meja dengan suara sedikit lebih keras dari biasanya.

“Kontrak sewa unit ini,” katanya, “mulai bulan depan biaya sewanya akan naik.”

Malvin membuka map itu, membaca sekilas. Angka yang tertera disana sangat besar, dan dengan penghasilan kafe nya saat itu, tampaknya ia tak akan sanggup membayarnya. selama ini dia mendapatkan harga murah karena Kenny, dan sejujurnya dia merasa harga dirinya di injak, namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena memang dia butuh.

Lihat selengkapnya