Two Continents Between Us

Ntalagewang
Chapter #17

Bab 17

Hujan turun lagi, seperti siklus yang enggan berhenti. Butirannya rapat, memantul di trotoar dan menciptakan genangan yang memantulkan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya hati yang sedang terlalu penuh untuk membedakan suhu.

Malvin berdiri di bawah kanopi kafe, satu tangan dimasukkan ke saku jaket, satu lagi menggenggam ponselnya yang tak ia buka sejak lima belas menit lalu. Ia tidak sedang menunggu siapa pun. Setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Lalu ia melihat sosok itu dari ujung jalan. Niki berjalan cepat menghindari hujan, tasnya ia angkat sedikit agar tidak terkena cipratan air. Rambutnya sedikit basah, menempel di sisi wajahnya. Ia tidak melihat ke arah Malvin sampai jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah.

Mereka berhenti hampir bersamaan. Tidak direncanakan. Pertemuan yang tak bisa di hindari. Keduanya berdiri dengan jarak selebar satu lengan. Ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala Niki, segala hal yang tadi sudah di katakan oleh Kenny namun tidak di jelaskan apa penyebabnya.

“Niki,” ucap Malvin pelan.

Niki mengangguk. “Malvin.”

Suara hujan mengisi ruang di antara mereka. Beberapa detik berlalu tanpa kata.

“Aku nggak akan tanya,” kata Niki lebih dulu, "sampai sekarang aku akan terus menunggu sampai kamu mengatakannya." Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya, padahal ia ingin sekali menahan diri.

Malvin menatapnya, sedikit mengernyit. “Nggak akan tanya apa?”

“Apa pun yang kamu sembunyikan.” Suaranya tenang.

Malvin merasa dadanya mengencang.

“Tapi,” lanjut Niki, menatap lurus ke matanya, “aku nggak mau dengar semuanya dari orang lain.”

Kalimat itu jatuh perlahan. Hujan semakin deras, angin membawa percikan air hingga ke ujung sepatu mereka.

Malvin menghela napas panjang. “Kenny bicara sama kamu? kamu bertemu sama Kenny?”

Niki tidak langsung menjawab. Itu saja sudah cukup menjadi jawaban. Terdengar jelas dari nada Malvin jika dia tidak suka apa yang dia sembunyikan di ketahui oleh Niki.

“Apa yang dia bilang?” Suara Malvin berubah lebih tegang, lebih waspada.

“Dia cerita tentang awal kamu di kota ini.” Niki menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. “Tentang pinjaman. Tentang gedung. Tentang bagaimana kamu datang dalam kondisi… yang katanya menyedihkan.” Niki menahan diri untuk tidak menangis. Merasa kesal, kenapa hal seperti ini dia harus tau dari orang lain.

Rahang Malvin mengeras.

“Dia nggak berhak cerita itu.”

“Mungkin.” Niki mengangguk pelan. “Tapi itu bukan poinnya.”

“Lalu apa?”

Lihat selengkapnya