Orang-orang mulai keluar dari tempat berteduh, ketika hujan benar-benar sudah berhenti. Suara langkah kaki, pintu kafe yang dibuka, dan percakapan ringan kembali memenuhi jalan. Kota kembali bergerak, seolah tidak pernah tahu bahwa di bawah kanopi kecil itu dua orang baru saja membuka luka lama yang selama ini mereka sembunyikan.
Niki masih terdiam disana, masih mematung melihat jalanan yang baru saja di lewati oleh Malvin. Niki menarik napas kecil.
“Aku harus pergi,” katanya pelan, setelah setiap kalimat yang di ucapkan oleh Malvin terus mengulang di kepalanya. Niki melangkah melewati beberapa orang dengan langkah yang cepat.
Namun saat ia hendak belok ke gang yang lain, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Niki berhenti.Ia menoleh sedikit, cukup untuk melihat wajah Malvin dari sudut matanya.
“Aku akan bereskan semuanya.” Kata Malvin. Tidak ada janji besar dalam kalimat itu. Tapi nada suaranya membuat Niki tahu bahwa Malvin tidak sedang berbicara hanya untuk menenangkannya.
Niki menatapnya beberapa detik.
“Aku cuma butuh kamu jujur. Dan satu lagi Vin, entah apapun yang terjadi pada masalalu, aku mau kau tetap berada di sampingku dan tidak menanggung semuanya sendirian. Aku mau kau menganggap keberadaanku seperti dulu.”
Malvin mengangguk.
Stelah mengatakan itu, Niki benar-benar pergi. Dia akan menunggu, apakah Malvin akan datang padanya dan berkata jujur, atau dia akan tetap memendam apa yang terjadi namun tidak menjaga jarak dengan Niki. Niki akan menunggu kapan waktu itu akan tiba. Niki akan menjadi orang yang akan membantunya tanpa dia harus menurunkan harga dirinya.
Malvin berdiri di tempat yang sama, memperhatikan punggungnya menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Ada sesuatu yang terasa berbeda di dadanya bukan lagi rasa tercekik seperti sebelumnya.Tapi juga bukan rasa lega. Niki bilang akan menunggu, entah hal apa yang nanti masih harus dia pendam, setidaknya Niki masih ada di sampingnya.
***
Malam itu, Malvin kembali ke kafe lebih lambat dari biasanya. Lampu di dalam masih menyala. Beberapa karyawan sedang membereskan meja, sementara suara mesin kopi berdengung pelan dari belakang bar.
Kenny berdiri di dekat meja kasir, memeriksa laporan penjualan hari itu. Ketika ia melihat Malvin masuk, ekspresinya langsung berubah sedikit tajam, waspada.
“Kamu dari mana?” tanyanya.
Malvin melepaskan jaketnya, menggantungnya di kursi. “Jalan.”
Kenny menutup tablet di tangannya.
“Kamu ketemu dia lagi.”
Malvin tidak menjawab. Ia hanya mulai menyibukan dirinya disana.
“Kamu bahkan tidak berusaha menyangkal sekarang,” Kenny tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. "Apa saja yang dia katakan padamu? apakah dia sudah memutuskan untuk pergi, setelah dia tau pria yang dia suka, hidupnya begitu menyedihkan." Kenny menyilangkan tangan.