Di sebuah hutan purba yang gelap, bersemayam monster-monster buas yang selalu menanti mangsa. Di sana tinggallah seorang putri yang seharusnya ceria dan bebas, namun ia tidak pernah diperbolehkan melangkah keluar gerbang istana.
Putri Elara tidak dikurung karena bersalah. Ia dilarang keluar karena cahayanya yang sangat murni akan memanggil kegelapan itu mendekat.
Namun ketika Pangeran Lian datang membawa janji perlindungan yang tak pernah ia miliki sebelumnya, apakah ia berani membuka hatinya?
Apakah ia hanya akan menjadi beban baginya, atau justru cahaya yang selama ini dicari oleh sang pelindung?
Bab 1
Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat kaca jendela yang besar, menyinari ruangan yang dihiasi ukiran bunga dan lukisan indah. Di tepi jendela itu, duduklah seorang gadis dengan rambut warna merah muda bergelombang lembut, menatap ke luar dengan pandangan yang sendu.
Itulah Putri Elara.
Ia melihat ke bawah, ke arah taman istana yang indah sekali. Bunga-bunga bermekaran, burung-burung terbang bebas, dan pelayan-pelayan berjalan sambil bercanda riang. Di kejauhan terlihat gerbang tinggi istana, dan jalanan desa yang ramai di luar sana. Rasanya seperti ada tembok tak terlihat yang memisahkan dirinya dengan dunia luas di luar sana.
"Kau sedang memikirkan apa, Tuan Putri?"
Suara lembut terdengar dari belakang. Elara menoleh dan melihat Nenek Mara berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi teh hangat dan kue kesukaannya.
"Nenek..." Elara tersenyum tipis, lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya. "Duduklah di sini sebentar bersamaku."
Nenek Mara meletakkan nampan di meja kayu indah, lalu duduk dengan tenang. Ia menatap wajah Elara dengan penuh kasih sayang.
"Kau rindu ingin melihat dunia di luar sana ya, Nak?"
Elara mengangguk pelan, matanya kembali menatap ke arah gerbang istana yang besar itu.