Bab 5
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar Elara, menyusuri lorong istana yang sepi dan megah. Tangan Pangeran Lian masih menggenggam tangan Elara erat, seolah takut gadis itu akan kembali bersembunyi di dalam cangkang kesepiannya.
Di ujung lorong, Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, dan Nenek Mara sudah menunggu dengan wajah penuh harap. Saat melihat mereka berjalan beriringan dengan wajah yang tenang dan bahagia, Yang Mulia Raja tersenyum lega hingga matanya berkaca-kaca. Yang Mulia Ratu langsung menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagia sudah menetes di pipinya.
"Bagaimana hasil pembicaraan kalian berdua?" tanya Yang Mulia Raja dengan suara yang sedikit bergetar karena harap.
Pangeran Lian menatap wajah Elara sekilas, lalu menoleh ke arah Raja dan Ratu dengan pandangan yang tulus dan tegas.
"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, Putri Elara telah menerima lamaranku. Kami akan bersatu."
Yang Mulia Ratu langsung melangkah cepat mendekat, lalu memeluk putrinya erat sekali.