Bab 6
Tiba-tiba pandangan Elara seolah berubah kabur. Suara di sekelilingnya perlahan menghilang, digantikan oleh suara angin yang berdesir kencang dan suara tawa kecil miliknya sendiri bertahun-tahun yang lalu.
Waktu itu Elara masih berusia sepuluh tahun. Ia belum mengerti mengapa setiap kali ia ingin melihat ke luar, orang-orang akan menatapnya dengan wajah cemas dan melarangnya pergi.
Suatu pagi, saat semua penjaga sedang sibuk dan Nenek Mara tertidur lelap, Elara menyelinap keluar kamar dengan jantung berdebar senang. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong istana yang belum pernah ia lewati, hingga akhirnya kakinya berhenti di depan gerbang istana yang besar dan megah itu.
Pintu gerbang itu sedikit terbuka. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk, menyapa wajahnya dengan hangat.
"Aku hanya melihat sebentar saja," bisiknya pada diri sendiri.
Dengan langkah ragu namun penuh rasa ingin tahu, ia melangkah keluar. Satu langkah... dua langkah... hingga kakinya benar-benar berpijak di tanah di luar batas istana.