Bab 10
Beberapa hari berlalu dengan damai, dan Elara perlahan mulai berani membuka hatinya. Ditemani Pangeran Lian, ia berjalan-jalan di halaman istana, menyentuh kelopak bunga yang mekar, dan menghirup udara segar yang selama ini tak pernah ia rasakan sepenuhnya. Kalung kristal di dadanya selalu terasa hangat lembut, seolah ada tangan tak terlihat yang terus memeluknya, memberi rasa aman yang tak pernah hilang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Suatu sore, langit yang tadinya cerah perlahan berubah kelabu mendung. Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, membawa bau tanah basah dan bau yang asing, bau busuk yang menyengat seolah berasal dari tempat yang tak pernah terkena cahaya matahari.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar. Bukan getaran pelan yang biasa, melainkan getaran berat yang terasa sampai ke tulang-tulang, seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang melangkah mendekat dari kejauhan. Gelas-gelas di ambang jendela berdering beradu, dan burung-burung yang berkicau riang seketika terdiam, lalu terbang berhamburan masuk ke dalam bangunan istana dengan suara ketakutan.
Wajah Pangeran Lian seketika berubah dingin dan serius. Ia segera menarik tubuh Elara ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya, sementara matanya menatap tajam lurus ke arah batas hutan purba yang gelap dan lebat.