Two Sides Of The Eternal Light

Husnu zinni
Chapter #11

Bab 11

Bab 11

 

Keesokan paginya, suasana di seluruh negeri terasa berat dan menyesakkan. Kabar tentang raungan mengerikan semalam telah menyebar ke setiap sudut desa, sampai ke ladang petani dan pasar rakyat. Rakyat kerajaan berkerumun dengan wajah pucat, saling berbisik cemas sambil menatap arah hutan purba yang gelap pekat.

 

"Kegelapan mulai bergerak lagi..."

"Apakah ini karena Putri Elara?"

"Kita semua akan celaka..."

 

Dari balkon tinggi istana, Elara melihat kekhawatiran di wajah rakyatnya. Hatinya terasa seperti diremas perih. Ia merasa setiap tetes keringat dan air mata rakyat itu adalah kesalahannya sendiri.

 

"Aku seharusnya tidak pernah lahir ke dunia ini," bisiknya dengan suara gemetar. "Kalau aku tidak ada, mereka bisa hidup tenang tanpa rasa takut."

 

Pangeran Lian berdiri di sampingnya, matanya menatap tajam ke arah hutan. Ia mendengar ucapan itu, lalu meletakkan tangan berat namun lembut di bahu Elara.

"Jangan pernah bicara begitu. Mereka tidak takut padamu. Mereka takut pada kegelapan yang sudah bertahun-tahun mengancam nyawa mereka. Dan hari ini, mereka akan melihat bahwa cahayamu bukanlah kutukan, melainkan satu-satunya harapan yang mereka miliki."

 

Belum sempat Elara menjawab, langit yang tadinya kelabu seketika berubah menjadi hitam pekat seolah matahari ditelan bumi. Angin kencang menderu kencang, menerbangkan atap rumah warga, menumbangkan pohon besar, dan membawa bau busuk bangkai yang menyengat hidung.

 

"PERINGATAN! MUSUH DATANG DARI SEGALA PENJURU!" teriak penjaga dari menara pengawas dengan suara menggelegar.

 

Dari balik kabut hitam yang tebal, ribuan makhluk buas bermunculan. Ada yang bertubuh besar seperti gunung dengan kulit sekeras batu, ada yang kecil dan bergerak cepat seperti bayangan, semuanya bermata merah menyala dan menatap satu tujuan: arah istana, arah Elara.

 

"BENTUK BARISAN PERTAHANAN!" seru Yang Mulia Raja dengan gagah berani.

 

Pasukan kerajaan segera bergerak. Prajurit membentuk tembok perisai di depan gerbang istana, sementara pemanah menaiki menara siap melepaskan panah. Namun jumlah musuh terlalu banyak. Sekali serangan gelombang pertama datang, puluhan prajurit terlempar jauh, tembok pertahanan mulai retak.

 

Monster-monster itu mulai merambah masuk ke pinggiran desa. Teriakan rakyat terdengar memilukan. Rumah-rumah hancur terbakar, dan kepanikan melanda seluruh negeri.

 

Lihat selengkapnya