Bab 12
Setelah pertempuran hebat itu berlalu, suasana di seluruh kerajaan perlahan menjadi tenang kembali. Langit kembali biru cerah, matahari bersinar hangat menyinari tanah yang sempat hangus terinjak dan terbakar. Rakyat mulai keluar dari persembunyiannya, saling bahu-membahu memperbaiki rumah yang rusak, dan ladang yang tandus mulai kembali ditanami benih harapan.
Hari-hari berikutnya terasa begitu damai, damai yang belum pernah dirasakan Elara seumur hidupnya. Ia tidak lagi harus bersembunyi di balik tembok tinggi atau hanya melihat dunia lewat jendela kamar. Kini ia berjalan turun ke desa, menyapa para petani, bermain bersama anak-anak, dan berbicara dengan rakyatnya dengan senyum yang tak pernah pudar.
Pandangan yang dulu penuh ketakutan kini telah hilang sepenuhnya. Saat Elara berjalan lewat, mereka tidak lagi menunduk atau menjauh. Mereka justru tersenyum tulus, menyambutnya dengan hormat dan kasih sayang yang tulus.
Suatu hari, seorang nenek tua mendekatinya dengan tangan gemetar, menyodorkan seikat bunga liar yang tumbuh kembali di pinggir hutan.
"Terima kasih, Tuan Putri," ucap nenek itu dengan suara parau namun hangat. "Kami dulu mengira kau membawa malapetaka, ternyata kaulah yang menyelamatkan nyawa kami semua."
Elara menerima bunga itu dengan hati yang terharu, matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih sudah percaya padaku... Terima kasih sudah membiarkanku menjadi bagian dari kalian."