Bab 14
Pesta pernikahan berlangsung begitu megah dan meriah. Seluruh halaman istana diterangi ribuan lampu minyak dan lentera warna-warni yang berkilauan bagai bintang di bumi. Musik dawai mengalun indah, tawa dan sorak gembira rakyat terdengar bergema memenuhi udara, seolah kebahagiaan itu tidak akan pernah berakhir.
Di balkon utama istana, Elara berdiri berdampingan dengan Pangeran Lian. Gaun pengantinnya yang putih bersih berkibar lembut ditiup angin malam. Pangeran Lian menggenggam tangan istrinya erat, menatap wajahnya dengan pandangan yang penuh cinta dan syukur.
"Lihatlah mereka," bisik Pangeran Lian lembut. "Mereka bahagia bersamamu, Elara. Akhirnya kau benar-benar menjadi cahaya bagi negeri ini."
Elara tersenyum manis, namun tiba-tiba senyum itu memudar perlahan. Dadanya terasa sesak seketika, jantungnya berdegup kencang dan tidak beraturan. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk sampai ke sumsum tulang, bukan dinginnya angin malam, melainkan dingin yang membawa kematian dan kebencian.
"Lian..." suara Elara bergetar pelan. "Ada sesuatu... sesuatu yang sangat kuat sedang datang."
Belum sempat Pangeran Lian menjawab, seketika itu juga semua lampu di seluruh istana padam sekaligus. Musik yang merdu terhenti mendadak. Tawa rakyat lenyap seketika, digantikan oleh keheningan yang mencekam dan menakutkan.