Cahaya putih milik Elara dan cahaya perak milik Pangeran Lian bersinar terang bersamaan, mencoba menahan gelombang kekuatan hitam yang datang. Namun sosok raksasa Raja Kegelapan itu hanya tertawa pendek, suara tawanya terdengar seperti guntur yang menggelegar membelah langit malam.
Ia tidak menyerang lagi. Ia hanya berdiri diam di kejauhan, matanya yang berwarna ungu tua menatap lurus tepat ke arah wajah Elara, seolah tidak melihat orang lain di sampingnya.
"Kau..." suara itu terdengar langsung di dalam kepala semua orang, berat dan menusuk tulang. "Kau adalah cahaya yang selama ini kucari."
Elara menahan napas, tubuhnya menegang. Raja Aldric segera melangkah maju berdiri tepat di depan putrinya, tangan mencengkeram gagang pedang dengan erat hingga buku jarinya memutih. Ratu Seraphina memeluk lengan Elara dengan tangan gemetar hebat, wajahnya pucat pasi penuh ketakutan.
"Jangan dengarkan ucapannya, Anakku!" seru Ratu Seraphina dengan suara bergetar.
Pangeran Lian tidak bergerak sedikit pun dari sisi Elara. Ia merangkul pinggang istrinya erat, menatap tajam ke arah bayangan raksasa itu seolah siap menahan apa pun yang akan terjadi. Raja Kaelen dan Ratu Elowen juga berdiri tegak di samping mereka, wajah mereka penuh waspada dan khawatir.
Raja Kegelapan kembali bersuara, kali ini lebih dingin dan menuntut: