Bab 20
Hari-hari kedamaian berjalan begitu tenang dan indah. Elara kini bisa berjalan ke mana saja di seluruh kerajaan tanpa rasa takut, disambut senyum hangat oleh rakyatnya di mana pun ia lewat. Namun beberapa hari belakangan ini, ada hal aneh yang mulai ia rasakan pada tubuhnya sendiri.
Tanpa sebab yang jelas, tenaganya sering hilang seketika. Kadang saat sedang berbicara dengan rakyat atau berjalan di taman, tiba-tiba kakinya terasa lemas sekali, pandangannya sedikit kabur, dan seolah seluruh kekuatan cahaya di dalam dirinya ditarik keluar perlahan.
Suatu pagi yang cerah, Elara sedang berjalan beriringan dengan Pangeran Lian di halaman belakang istana. Mereka sedang menikmati semilir angin dan bunga-bunga yang sedang mekar indah. Tiba-tiba, tubuh Elara terhuyung ke samping, napasnya terasa berat, dan ia harus mencengkeram lengan suaminya dengan kuat agar tidak jatuh ke tanah.
"Elara!" Pangeran Lian langsung menahan tubuh istrinya dengan cemas, wajahnya seketika berubah pucat. "Kau kenapa? Apakah ada yang sakit? Apakah ada bahaya yang datang?"
Elara menggeleng pelan, napasnya masih terasa pendek. Ia mencoba berdiri tegak kembali namun kakinya terasa seperti kapas.
"Aku tidak tahu, Lian. Tiba-tiba saja... seluruh tenagaku seolah hilang. Tubuhku terasa sangat lemah, padahal aku tidak melakukan hal berat sedikit pun hari ini."
Pangeran Lian segera menggendong istrinya dengan lembut membawanya kembali ke dalam kamar. Kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya. Ia takut sisa kekuatan kegelapan masih ada, atau ada penyakit aneh yang menyerang tubuh Elara yang memiliki kekuatan istimewa. Kabar itu segera disampaikan kepada Raja Aldric, Ratu Seraphina, serta memanggil tabib tertua dan paling bijaksana dari seluruh negeri.
Tabib itu memeriksa nadi Elara dengan teliti, menatap wajahnya, dan merasakan aliran tenaga di tubuhnya cukup lama. Wajah cemas semua orang perlahan berubah menjadi kebingungan, lalu berubah menjadi senyum tak percaya.
"Ada kabar baik, Yang Mulia," kata tabib itu dengan suara lembut namun penuh sukacita. "Kelemahan ini bukan karena penyakit, bukan pula karena serangan musuh. Ini adalah tanda bahwa di dalam rahim Yang Mulia, sedang tumbuh sebuah kehidupan baru."