Percaya atau tidak, terkadang kualitas kebahagiaan seseorang bisa dilihat dari seberapa senang dirinya melihat kembang api di malam tahun baru. Warna-warni yang mencerahkan gelap dan letusan yang saling sambung seharusnya membuat setidaknya senyum kecil di bibir seseorang.
Namun, apa jadinya kalau ada yang beranggapan sebaliknya, yang berpikir kalau malam pergantian tahun itu tidak lebih dari malam-malam biasanya, bahkan malah terganggu dengan meriahnya dan seluruh pestanya
Ya, saya yang beranggapan begitu.
Di malam pergantian tahun ini saya tetap sibuk sendiri dan tidak sedetik pun merasakan ada yang spesial. Titik jenuh alam sadar saya sudah di tahap akut, sampai-sampai menganggap kalau dentum kembang api ini tak lebih dari polusi suara dan kombinasi warnanya adalah pencemaran cahaya. Ini yang terjadi kalau level depresimu sudah satu tingkat di atas level dewa.
Percaya atau tidak, semesta ini punya hukum yang agak menyebalkan untuk orang-orang seperti saya, yang sebal saat orang lain senang. Ia akan dengan tidak sopannya menambah kadar sebal kita dan menekannya hingga ke titik kronis.
Jadi tidak aneh kalau sudah gedeg begini, lalu muncul ‘hal lain’ yang bikin tambah gregetan dan membuat kita ingin mengunyah sendal jepit secepatnya.
Adalah Ujang, seseorang berwajah bodoh dengan perut membuntang dan tidak pernah kuanggap teman sama sekali. Dia adalah ‘hal lain’ yang barusan saya maksud.
“Kamu pernah dengar hukum Murphy, Cup?” tanya Ujang di sela-sela aktivitas ngupilnya.
Pertanyaan barusan adalah salah satu caranya mengganggu hidup saya. Salah duanya adalah, hobinya yang suka datang tengah malam, acak-acak lemari buku, menghabiskan stok makanan saya, lalu membawa pulang barang apa pun yang ia suka. Tapi itu bukan yang terparah. Tunggu sampai ia selesai membaca dan mempertanyakan segala hal yang baru dia baca, dan tetap sambil ngupil.
Setelahnya, upil hasil galiannya akan ditempelkan di semua perabotanku, paling sering di bawah meja. Ujang baru akan pulang kalau sudah bosan, sudah kenyang, atau disabet sapu lidi.
"Aku lagi sibuk, Jang!" aku menjawab sekenanya.
"Ngelem sol sepatu dan mengutuk orang yang bakar kembang api itu bukan kesibukan, Cup. Itu namanya kenyinyiran." Ujang nyengit.
Aku tak peduli.
“Jadi Cup, hukum Murphy bilang kalau sesuatu berpotensi salah, maka ia akan menjadi salah. Dan jika sesuatu yang salah dilakukan, maka ia akan seterusnya salah dan merugikan.”
Ujang melanjutkan, menegakkan duduknya, menaruh buku yang baru dia baca, bersiap berfilosofi.
“Misalnya begini, saat kancingmu putus tak sengaja, kamu memutuskan untuk manjadikan peniti buat gantinya. Murphy bilang kamu pasti sulit menemukan penitinya. Dan itu pasti terjadi. Tapi saat tidak dicari, kamu bisa menemukan peniti di mana saja. Lalu kamu kesal. Padahal kamu yang salah karena tidak siap peniti di kantong.”
Tambah Ujang tanpa diminta.
“Sama seperti kehidupan, Cup. Misalnya jodoh, semakin kita berharap malah semakin tidak ketemu. Saat putus asa justru ada yang datang.”
Dan dia sambung lagi
Bodo amat!
"Terserah! Kamu mending pulang! Aku nanti shift pagi."
Saya mengusirnya dengan cara yang tidak halus, sebab cara halus tidak akan mempan saat kambuhnya sudah di tahap ini.
Terkadang saya bahkan harus menyiapkan sapu lidi agar Ujang mau pulang. Dia sangat takut kalau aku sudah mengacungkan sapu lidi tinggi-tinggi. Agak-agak mirip kucing dapur memang.