Sudah jatuh tertimpa tangga, genteng dan durian sekaligus. Mungkin itu gambaran nasibku malam ini. Sesudah Ujang, kini muncul ‘hal lain’ yang tak kalah anehnya.
"Ngintip ya, kamu!"
Mukanya Jamet mendadak muncul dari balik pagar. Jamet, seorang preman pangkalan ojek depan kampung yang tugasnya mengamankan kampung dempet ini dari ojek online, serta meminta uang keamanan dariku dan ratusan pemuda culun lainnya setiap kali kami pulang kerja.
Malam ini muka codetnya terlihat lebih menyeramkan karena sorotan temaram kuning bohlam tiang listrik yang berdiri tegak di atasnya.
"Iya! Kok tau?"
Balasku tanpa ragu.
"Aku juga mau ngintip soalnya."
Jamet tiba-tiba mengeluarkan teropong dari balik kaosnya, dan juga roti bantal serta termos berisi kopi panas, serta tidak lupa kain sarung yang tampaknya akan digunakan sebagai selimut atau alas duduk.
Dia nampak lebih siap ketimbang saat piknik muda-mudi kampung tahun lalu. Saat dia meminjam kancut bekasku karena lupa bawa dan juga lupa pakai.
"Kamu mau piknik di sini?"
Aku mempertanyakan peralatan tempur yang dia bawa.
"Enggak, ini cuma bekal agar aku bisa nonton sampai selesai. Biasanya agak lama pertempurannya."
"Agak lama?"
Aku tergelitik dengan kalimat barusan.
"Kamu sudah sering lihat, ya?"
Jamet menggeleng. "Beberapa kali saja, kalau si mbak lagi open BO.”
"Apaan lagi open BO?"