Umbra

Ooza
Chapter #1

Hujan Sore

Suara motor bersahutan di ujung gang, bercampur dengan hujan yang baru reda. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Jalanan masih licin, bau tanah basah menguar ke udara. Di bawah salah satu lampu jalan yang temaram, beberapa anak SMA berseragam olahraga masih nongkrong — sebagian besar cowok, dan di tengah kerumunan itu, aku berdiri sambil berkaca pinggang dengan kedua mata mendelik.

Di hadapanku, seorang siswi berambut ikal melipat tangan di depan dada. Wajah angkuhnya sedikit mendongak. Masalah sepele sih sebenarnya— sepatu dia kotor kena cipratan air, tapi buatku, cara cewek itu ngomong lebih jahat daripada lumpur di sepatunya.

“Udah minta maaf juga,” kataku dingin, “lo mau gue pel muka lo sekalian?”

“Ngomong apaan sih lo?” balas cewek itu sengak.


Aku menarik napas, tapi bukan buat sabar. Tanganku udah sempat naik sedikit sebelum beberapa cowok buru-buru nyegah.

“Ren, udah, udah, jangan ditambah,” ujar Tama, salah seorang cowok yang menahan tangan kiriku. Kita bukan cuma satu sekolah, tapi juga teman tongkrongan yang tinggal satu komplek. Padahal biasanya dia paling doyan ngomporin orang, tapi kali ini justru berusaha meredam keadaan.

Sementara di sisi kanan Deni meletakkan tangannya di atas pundakku, "Bener tuh, Ren. Gak usah buang-buang tenaga lo," timpal Deni. Cowok satu ini juga satu komplek sama aku. Sejauh yang terlihat sampai sekarang, hobinya cuma ikut-ikutan nimbrung.

Lihat selengkapnya