Umbra

Ooza
Chapter #2

Galau

Malamnya di kamar kontrakan, suasana hening. Hujan kembali turun, kali ini rintiknya lebih halus. Dari jendela kecil di pojok, siluet payung biru kelihatan lewat di ujung jalan.

Stefan.

Cowok pindahan di kelas sebelah. Matanya sipit, kulitnya putih. Waktu pertama dia diantar kepala sekolah ke kelas, aku ngintip dari balik pintu kelas— dan dia keburu menoleh. Senyumnya singkat, tapi cukup bikin aku salah tingkah dan kabur tanpa alasan jelas. Sejak hari itu hal-hal kecil tentang dia gampang nyangkut di kepalaku.

Aku kembali menatap ke luar. Di bawah payung yang sama, ada cewek berjaket putih berjalan di sisinya. Langkah mereka rapat. Aku gak tau ini perasaan apa.

Dadaku bergemuruh, seperti ada sesuatu yang salah tempat. Napasku jadi pendek, dan aku mendadak pengin nutup mata—padahal aku sendiri yang gak bisa berhenti lihat.

Aku menarik selimut sampai ke leher. Bukannya adem, malah makin pengap. Radio kecil warna krem di atas nakas memutar lagu Tulus, suaranya pelan tapi tajam, seperti ikut duduk di sudut kamar dan memperhatikan aku yang pura-pura baik-baik saja.

Ponselku bergetar — notifikasi dari grup komplek.

Gery: “Ren, keluar woi. Dasar kura-kura, ngumpet mulu di kontrakan. Masih ngambek aja, nih.”

Tama: “Iya Ren, sini merapat ke markas. Gue ada berita hangat tentang doi lo.”

Gery: “Lo kalo ngomong yang bener, Tam.”

Tama: "Serius gue."

Deni: "Bener Ger, orang gue sama Arman juga ada di TKP kok."

Arman: "Gue gak tau apa-apa, Ger. SUMPAH."

Gery: "Bangke lo pada."


Aku memutar mata, pura-pura gak peduli sambil mikir balas pake lelucon. Tapi belum sempat ngetik apapun, pintu kontrakan diketuk tiga kali.

“Ren, keluar bentar deh,” suara Gery dari luar.

“Nggak ah. Lagi capek,” sahutku.

“Capek ya? Gue bisa mijit, kok,” suaranya makin nyeletuk.

Aku melempar bantal ke arah pintu — jelas gak kena, "Capek hati, bego!"

Tapi bukannya kesal, Gery malah tertawa pelan dari luar, "Jangankan capek hati, Ren. Mau lo capek hidup, capek mikir, capek sekolah, capek makan, bahkan elo capek napas sekalipun gue bisa atasi Ren."

Lihat selengkapnya