Umbra

Ooza
Chapter #3

Rutinitas

Pagi datang memaksaku enyah dari alam mimpi. Dari sela gorden, sinar matahari menusuk mata yang masih enggan terbuka.

Aku menggeliat malas. Mengerjapkan mata beberapa kali, lalu meraih ponsel di atas nakas, “Masih jam enam,” gumamku pelan. Terlalu pagi untuk bangun. Terlalu siang untuk tidur lagi.


Tin … tin … tiiinnn ….


Suara klakson di luar membuatku terduduk seketika. Dengan langkah berat, aku membukakan pintu untuk Gery.

“Buset, Ren. Baru bangun? Niat sekolah nggak sih sebenarnya.” Gery langsung duduk santai di sofa favoritku, seolah rumah ini juga miliknya.

“Hm,” gumamku pendek, lalu masuk ke kamar mandi.

“Baru juga ditinggal dua minggu sama Bang Andra, hidup lo udah kayak gelandangan aja,” ocehnya sambil merapikan ruang depan, mengumpulkan bungkus makanan ringan yang berserakan.

Kontrakanku memang cuma dua ruangan: satu kamar, dan ruang depan yang menyatu dengan dapur kecil serta sepetak kamar mandi.

Lihat selengkapnya