Aku masuk kelas. Jalan ke bangku pojok dekat jendela. Seorang cowok berambut ikal belah tengah segera melaksanakan tugasnya, menarik kursi ke belakang untuk aku duduk. Dialah Arman.
"Morning Kak Ren," sapanya dengan kedua sudut bibir melengkung.
Aku hanya mengangkat tangan kanan sebagai isyarat menyapa balik.
Arman lalu duduk di sebelahku seraya menopang dagu.
"Mau baca cerita baru gue gak, Kak? Gue butuh pendapat nih," katanya lalu menaikkan bingkai kaca mata yang agak merosot. Hidung dia emang pesek dan sedikit lebar.
Cara Arman melihatku penuh harap. "Judulnya apa?"
Cowok itu mengeluarkan buku dari kolong meja. Meletakkannya persisi di depanku. "Belum gue kasih judul. Makanya itu, gue mau tau pendapat lo. Kira-kira judul yang cocok apa."
Ku tatap buku coret-coretnya Arman dengan saksama. Lalu membuka lembarannya dengan cepat untuk melihat sebanyak apa dia menulis.
"Oke, besok kalo udah kelar gue langsung kabarin lo."
Kedua mata cowok itu berbinar mendengar jawabanku. Ia lalu memberikan isyarat jempol kiri dan kanan.
Bruk ...
Tas cokelat lusuh milikku mendarat tepat di atas buku Arman. Ulah siapa lagi kalo bukan Gery. Aku menoleh ke arah jendela. Di sana cowok gagah berambut cepak itu tampak sedang berusaha memanjat. Lalu dalam beberapa detik ia sudah duduk di tepi mejaku.
"Lo gak marah kan, Ren?" Gery meletakkan plastik berisisi roti sobek dan susu kedelai rasa stroberi ke tanganku.
"Iya iya," jawabku sedikit terpaksa. Sebenarnya aku masih sebel banget sama dia.
Arman berdiri. "Eh, gue piket dulu ya."