Kriing ... kriing ... kriiing ....
Bel istirahat berbunyi. Para murid berhamburan keluar kelas. Aku pun ikut berdesakan diantara mereka. Sebuah tangan menepuk pundak kananku diikuti bisikan halus, "Hey!"
Aku menoleh. Stefan.
Cowok itu mengarahkan jari telunjuk ke wajahku, "Lo cewek yang kemaren ngintip gue, kan?"
Aku melepaskan mataku dari tatapannya, "Em ... lo kayaknya salah orang deh. Gue aja gak kenal elo, ngapain juga ngintip." elakku dengan mengepalkan tangan yang mulai berkeringat.
Dia tersenyum miring, "Pinter banget ngelesnya."
Aku membuang napas kasar, "Eh, Fan gak usah sok ganteng deh, lo!"
Mata sipit cowok itu menajam, "Tuh, lo aja tau nama gue. Padahal ini pertemuan pertama kita."
Wait! Dia bilang 'kita'?
Kami mulai menuruni tangga, "Ya kan lo anak baru, terus agak mencolok. Jadi gampang nyebar info tentang lo." Aku menjawab asal. Padahal sebenarnya, sejak pandangan pertama itu aku yang langsung penasaran dan berkeliaran cari info tentang dia.
Stefan tertawa kecil, "Terserah deh, lo tau tentang gue darimana. Yang penting lo inget gue kan, Kak Ren?"
Gilaaa. Narsis banget ini bocah. Aku mati-matian berusaha menahan sudut bibirku yang nyaris melengkung keatas. Beberapa kali aku berusaha menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Kalo, lo? Tau darimana na ... ma gu ... e?"