Gery memarkirkan motor di garasi rumah Deni. Aku yang baru turun segera melenggang, menaiki tangga di dekat gerbang. Lalu sampai lah kaki ini memasuki tempat yang kami sebut 'markas'. Pintunya sudah terbuka lebar. Setelah menaruh sandal di rak sepatu depan pintu, aku langsung masuk dan menghempaskan pantat di sofa panjang.
"Nyamannya ...." kataku sambil merubah duduk menjadi tiduran. Mataku terpejam sebentar.
Suara Deni membuat mataku kembali terbuka. "Nih, gue ada cemilan favorit lo." Cowok itu meletakkan toples kacang kulit dan beberapa toples keripik di meja.
Aku menoleh, "Wiihh, makin betah gue. Jadi pengen tinggal di sini selamanya, deh."
Gery masuk, "Jangan dong, Ren!" lalu duduk di sofa yang lain, "gue gak izin-in pokoknya."
"Boleh kok, Ren. Gue gak keberatan sama sekali," Deni sudah duduk bersebelahan sama Gery, "emang lo siapa Ger, sok-sok-an mau ngatur hidup Renza?"
Haduuh. Mulai deh, si bocah tengil ngomporin orang. Nadanya santai sih, tapi kata-katanya itu loh. Udah tau Gery itu gampang banget kepancing emosi kalo terkait aku. Heran juga sebenarnya. Tapi daripada terlalu banyak mikir, mending diterima aja kan? Gak ribet.
"Den," panggilku berusaha melerai.
Gery pura-pura main hape, "Lo tanya sendiri aja ke Renza, gue itu siapa buat dia."
Deni tertawa keras mendengar jawaban Gery. Dia lalu menoleh kearahku, "Gimana Ren? Buat lo, Gery itu siapa sampe berhak ngatur lo?"
Aku duduk, "Apaan sih, Den. Udah deh, lo gak usah cari gara-gara kenapa!"
Nada seriusku akhirnya berhasil menetralkan keadaan. Deni menghela napas, "Iya Ren, iya."
Gery melirik sekilas ke arahku, lalu berdiri. "Gue ke belakang bentar."
"Hm."