Gery membuka tutup botol minuman soda lalu menuangkannya ke beberapa gelas perlahan. Sementara di depan TV Tama sedang berjongkok mengotak-atik DVD. Beberapa saat kemudian gambar grup band muncul di layar disusul suara instrumen musik pop. Kami lalu mulai ikut bernyanyi menirukan kaset yang sedang diputar.
Aku berdehem, "Ekhem .... Eh, bro kita kan sekarang kelas tiga. Kalian kalo udah lulus rencananya gimana, deh?"
Tama yang pertama menoleh, "Gue disuruh kuliah, Ren. Kata ortu, jurusan apa aja yang penting punya gelar."
Aku meneguk minuman sodaku sedikit, sambil berpikir sejenak.
"Terus lo sendiri sebenarnya ada keinginan gak?" tanyaku.
Tama mengunyah keripik singkong balado, "Gue pengennya kerja, udah males mikir soalnya."
Arman meraup segenggam kacang kulit lalu menatapku, "Gue juga disuruh kuliah, Ren. Kata ortu harus masuk kedokteran."
"Lu kan anak IPA, pinter juga. Lah gue, kalian tau sendiri. Dari SD kalo gak ranking satu ya ranking dua dari belakang, itu aja cuma gantian sama Deni." sergah Tama.
Iya sih. Arman itu dari TK udah jadi partisipan segala macam lomba. Bahkan pernah jadi dokter kecil juga waktu SD. Walopun kalo ikut lomba mukanya datar, tapi dia sering juara. Pasti di rumahnya banyak piala sama sertifikat penghargaan. Wah, kayanya keluarga dia emang udah merencanakan dari bayi deh, buat ngarahin dia jadi dokter.
Deni tiba-tiba nimbrung, "Nah Tam, maka dari itu. Lo bisa tuh pinjem piagam sama sertifikatnya Arman buat daftar kuliah, biar gak usah tes. Pasti masih sisa banyak kalo dia pake sendiri."
"Bener tuh, kata Deni." Ujarku.
Tama tersenyum, "Tumben lo cerdas, Den."
Deni tersenyum bangga sambil menepuk dadanya. Gery langsung melempar kulit kacang ke arah Deni, "Cerdas apaan, bego iya. Lo juga Ren, jangan ikut-ikutan gak ngotak, deh!"
Aku meninju lengan Gery, "Lo berani ngatain gue?"