Umbra

Ooza
Chapter #9

Mata Kucing

Perlahan aku turun dari motor Stefan, "Lo langsung cabut kan, Fan?"

Stefan malah tertawa kecil, "Jadi gue gak boleh mampir?"

Aku melipat tangan di depan dada.


"Iya Kak Ren, iya. Gue balik, deh. Tapi boleh kan, kita tukeran kontak?" Tangan Stefan mengulurkan ponsel. Aku segera mengetikkan sederet nomor, lalu menyerahkan kembali hapenya. Stefan memasukkan benda kotak persegi panjang itu ke saku, "Lo selamat istirahat!"

"Iya," jawabku datar.

Dia nengok, "Gak ngucapin 'hati-hati di jalan' nih?"

Aku reflek mendorong pelan bahunya, "Gak. Udah sono pergi!"



Ih, apaan deh ini bocah. Berani banget ngeledek aku begitu. Dia kira dia siapa? Atau kayak gini nih, ciri khas cowok buaya. Harus lebih waspada besok-besok kalo interaksi. Tapi aku seneng juga ketemu dia, Tuhan bener-bener jago hibur aku lewat tangan manusia.

Lihat selengkapnya