Aku melangkah tergesa menyusuri jalanan komplek. Melewati pinggiran sungai kecil, jembatan yang nyaris ambruk, lalu terakhir menyusuri gang sempit. Dan kini akhirnya aku sudah tiba di pertigaan, ujung gang. Di hadapanku sebuah jalan raya terbentang, siap menantangku untuk menghadang angkot lewat.
Harusnya gampang aja kan, tinggal amati. Angkot lewat langsung teriak, lambaikan tangan. Gak perlu loncat-loncat karena tubuhku yang menjulang pasti kelihatan, kan?
Tin... tin...!
Aku menoleh. Tepat saat itu juga motor Stefan sudah berhenti dengan sempurna dihadapanku.
"Ayo naik!" Stefan menyodorkan helm.
Aku masih terdiam karena terkejut, heran juga sama bocah satu ini. Suka muncul dimana-mana.
"Ah! Ngomong kek," Stefan dengan cekatan memasangkan helm ke kepalaku, "kalo minta dipasangin." ujarnya sambil mengunci pengait helm.
Aku masih bingung, tapi juga sudah mengikuti intruksi Stefan untuk duduk di jok belakang.