Umbra

Ooza
Chapter #11

Bubur Ayam

Setelah pesan dua porsi bubur ayam dan es teh, dengan santai aku menghampiri bangku kosong dekat beberapa cowok berseragam pramuka.

"Sini aja, Kak Ren!" ujar seorang cowok kurus bergaya rambut ala Andika kangenband. Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Aku duduk agak canggung, lalu mengedarkan pandangan menatap mereka satu per satu. Ada yang melambai, mengangkat alis, dan ada juga yang hanya tersenyum ramah.

"Kita anak IPA semua, Kak. Jadi mungkin wajah kita agak asing ya, buat Kak Ren?" terang cowok berambut ikal dengan kacamata bulat ala Harry Potter.

"Iya sih," sahutku. Lalu menatap lekat dua cowok di sebrang meja yang mukanya tampak serupa.

Si kacamata mengikuti arah mataku, "Mereka emang kembar, Kak."

Aku manggut-manggut. Dua buah nampan datang membawa masing-masing empat mangkuk bubur. Semua mulai sibuk dengan mangkuknya sendiri.

Waktu baru menunjukkan pukul 05.45 pagi. Wajar saja jalanan masih agak sepi, tapi sebentar lagi tempat ini juga pasti akan ramai. Apalagi letaknya sangat strategis dari sekolahku. Sudah bisa ku bayangkan seberapa penuh bangku-bangku yang disediakan si tukang bubur mendekati jam tujuh.

Di sebelah gerobak bubur ada tukang gorengan yang sedang menyiapkan banyak baskom besar untuk adonannya. Mereka adalah sepasang suami istri paruh baya. Gery beberapa kali mengajakku mampir kesana. Aku kembali fokus pada mangkuk buburku.

"Stefan kan anak baru, lo kok bisa bareng dia?" tanya cowok berkacamata kotak di sisi si kembar. Membuat pandanganku seketika teralihkan.

"Dia lewat depan gang rumah, trus langsung gue cegat deh," tuturku asal.

Cowo fans Andika nimbrung, "Dengan aura sangar lo ini, siapapun juga bakal takut Kak Ren."

Aku lalu menambahkan lebih banyak sambal ke mangkuk, "Seserem apa sih, gue di mata kalian?"

Kali ini cowo fans Harry Potter yang langsung jawab, "Ya... badan lo aja kayak cowok yang sering olahraga, ideal. Tinggi tegap, gak keliatan kekar tapi kalo buat ukuran cewek—"

Lihat selengkapnya