Umbra

Ooza
Chapter #12

Gery

Langit pagi ini terlihat sangat cerah untukku. Meskipun hamparannya didominasi awan putih bercampur mendung pada beberapa bagian.

Tuhan emang baik deh, terimakasih udah kirim Stefan buat jemput aku dan kasih sarapan gratis. Aaaa... ketemu sama dia tuh bener-bener kasih aku energi positif. Pokoknya nanti harus cari parfum yang dia pake buat di semprot di kamar.


"Thank's sarapannya ya, Fan." Aku berhenti di dekat pintu kelas IPA 3.

"Santai aja," sahutnya.

Stefan bersama komplotannya melambaikan tangan sebagai isyarat pamit. Aku kemudian masuk kelas. Anak-anak sudah hampir berangkat semua. Hanya beberapa kursi yang masih tampak kosong.


Seorang gadis berkepang dua menepuk bahuku, "Ren, tadi Gery nanyain lo." tuturnya.

Deg. Dalam pikiranku langsung terbayang bagaimana wajah ovalnya yang kalem itu berubah garang. Sepasang mata coklat tua yang siap menusuk siapa saja. Serta bibir tipis bergetar seolah tidak sabar untuk mengunyah apa pun yang muncul di depan mata.


Aku menatap Indah, "Terus orangnya kemana?"

Indah menggeleng, "Gery gak ngomong," tangannya mengangkat penghapus papan tulis, "gue lanjut piket dulu ya, Ren."

"Oke."

Aku duduk di bangkuku, lalu mengeluarkan buku milik Arman dari dalam tas.


Aku harus tenang sekarang. Fokus sama hal yang penting dan nyata aja. Kejadian terparah yang mungkin antara aku sama Gery kan, paling cuma adu jotos. Gak bakal sampe mati juga. Kalo mati tinggal aku gentayangin aja dia.

Lihat selengkapnya