Umbra

Ooza
Chapter #13

Gery (lanjutan 1)

Setelah dari kamar mandi, aku kembali ke bangku di pojok kelas. Di sana Gery duduk menyandarkan punggung ke kursi dengan tangan dan kedua mata fokus pada ponsel. Raut wajahnya tampak kusut. Dia membuang napas kasar. Saat aku duduk, samar terlihat dari ekor mata Gery melirikku hati-hati.

"Lo masih marah ya Ren, soal di markas kemaren?"

Aku hanya diam dan pura-pura main hape. Rupanya ada hampir lima puluh panggilan tak terjawab dari Gery, dan satu sms belum dibaca.

Tangan Gery menyodorkan kantong plastik yang seingatku tadi diberikan ke Arman, "Masih marah yaudah, tapi seenggaknya ini dimakan dong, Ren."

Hufffttt... masih sebel sih. Tapi kata guru agama menolak rezeki itu gak boleh. Walopun udah kenyang sebenarnya, kan tadi udah makan bubur ayam. Tapi seharusnya kalo cuma ditambah serabi sama susu kedelai sebungkus masih longgar nih, perutku.

Ku ambil serabi dari plastik, "Iya," lalu ku gigit perlahan.

Gery tampak sumringah, dan sudah gak berisik lagi. Bel masuk akhirnya berbunyi. Seperti biasa, jam pelajaran pertama diisi dengan mencatat. Aku membuka buku tulis pelajaran sosiologi, lalu melepas tutup pena. Di depan papan tulis, Indah mulai menggoreskan kapur putih. Perlahan ia bergerak ke sisi kanan meninggalkan jejak deretan abjad di sisi kiri.

"Lo, gak tidur Ren?" tanya Gery, nadanya terdengar ragu.

"Gak." jawabku pendek, sedikit judes.

"Owh," sahut Gery sambil mulai mencatat, "terus tadi pagi, lo berangkat naik angkot?" samar tampak ia melirikku dengan ekor matanya.

Aku hanya diam, tak menjawab. Pura-pura fokus. Kapurnya Indah berdecit lagi, cewek itu sudah berdiri di sisi papan tulis sebelah kanan pojok. Ia menulis setengah membungkuk dengan buku paket dipegang tangan kiri. Beberapa anak di depan mulai sibuk sendiri. Kelas terasa normal.

Indah berbalik menyapu seluruh kelas dengan tatapannya, "Eh, temen-temen! Yang tulisan sebelah kiri udah selesai semua belum ya, nulisnya?"

"Belum," teriak Gery.

Indah meletakkan kapur ke kotak yang menempel di salah satu sudut bawah papan tulis, "Lima menit lagi gue hapus ya, soalnya masih ada dua lembar lagi yang harus kita catet."

Gery mengacungkan jempol kanan.

"Buruan lo nulisnya, Ger! Gue aja udah hampir selesai nyatet yang sebelah kanan," ujar sang ketua kelas.

"Bawel lo jadi cowok," sahut Gery.

Sedangkan Indah sudah kembali ke bangkunya untuk menyicil catatan.

Lihat selengkapnya