Mamang penjual meletakkan dua gelas es jeruk ke meja kami. Aku segera menyesapnya untuk memastikan apakah es jeruknya ada sedikit rasa asam atau seperti air gula pake es batu.
Hm, kayaknya jeruk asli kok.
Aku melirik Gery yang duduk bersilah di sisi kiriku, "Eh, Ger."
"Kenapa," sahutnya yang masih sibuk memainkan ponsel. Lalu dia berpaling menatapku penuh minat.
"Maksud omongan lo tadi apa, ya?"
Gery merapatkan bibir seraya menautkan kedua alisnya, "Omongan gue yang mana Ren?"
Begitulah dia kalo lagi berpikir keras buat membodohi aku. Dia gak pernah bilang sih. Tapi setiap ekapresinya begitu omongannya menyembunyikan banyak tanda kutip atau artian lain. Intinya dia gak mau ngomong hal sebenarnya. Brandal.
Ku teguk es jeruk hingga tersisa setengah gelas, "Yang lo bilang 'yang penting lo bisa kaya gini terus sama gue'. Udah inget?"
Gery terkekeh, "Oh yang itu. Gue—"
Mamang penjual datang menghidangkan dua piring nasi putih, dua piring ayam panggang beserta tahu tempe goreng dan dua mangkuk kobokan. Lalu menghilang dan muncul lagi untuk meletakkan dua mangkuk sambal trasi, dua mangkuk sambal tomat serta dua piring lalapan berupa potongan kubis, kemangi dan beberapa iris timun. Mataku berbinar menatap semua itu.
"Gue pengen bisa makan pecel lele bareng lo selamanya," cowok itu melanjutkan ucapannya yang terputus tadi. Padahal aku hampir lupa kalo sedang mengintrogasi dia.
Aku menoleh, "Bisa aja," kataku yang sudah tidak tahan untuk melahap hidangan di depan mata, "yang penting lo traktir gue." aku mencelupkan tangan kanan ke air kobokan.
Gery memegang bahuku, "Demi apa lo?" matanya melebar.