Aku bangun dari sofa, "Ger!" panggilku ragu-ragu.
Gery menoleh.
"Gue siap-siap dulu," pamitku lantas melenggang masuk kamar tanpa menunggu tanggapan Gery.
Di beberapa langkah terakhir aku setengah berlari. Degup jantungku tak beraturan. Padahal di luar masih hujan, tapi entah kenapa sekujur badanku terasa memanas. Aku mengatur napas sebentar sebelum membuka lemari untuk mencari dimana keberadaan jas hujan.
Duh, aku harus bersikap gimana nanti pas ketemu Gery lagi? Gak nyaman banget rasanya. Apa anggap aja obrolan tadi gak pernah terjadi, terus aku kayak biasanya aja. Aaahhh... mana bisa. Nanti deh, coba lihat situasi.
Sebelum keluar kamar, aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya lewat mulut. Jemari tangan kananku mengepal kuat, sementara tangan kiri menenteng jas hujan yang sudah ketemu. Aku membuka sedikit pintu kamar, mengamati keadaan di sekeliling sofa.
Kosong.
Loh, kemana orangnya? Tuhan, aku harus gimana nanti.
Aku keluar kamar, menutup pintunya pelan. Lalu berjalan ke arah sofa dengan hati-hati, seolah suara langkahku sama kerasnya dengan detak jantungku saat ini.
"Ger?" panggilku lirih, "lo di kamar mandi?"
Tak ada sahutan. Di luar samar-samar terdengar Gery bercakap-cakap dengan seseorang di telepon. Mungkin Bang Andra. Tanganku membuka lipatan jas hujan dengan gemetar. Bahkan sempat beberapa kali kakiku meleset saat memakai bagian celana. Sementara keringat dingin sudah membanjiri pelipisku.
Gery muncul dari pintu depan, "Lo tadi manggil gue?"