Umbra

Ooza
Chapter #18

Malam Minggu

Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh seperempat. Usai latihan di luar sana hujan yang semula mereda kembali deras, aku berjalan ke arah sofa panjang dekat pintu ruang ganti. Gery baru saja masuk kesana untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah oleh keringat. Kepalaku agak ringan, dan badan juga terasa sedikit lemas. Jadi sambil menunggu keringat agak tuntas, aku membaringkan tubuhku pada sofa lantas memejamkan mata. Rasanya badanku mengeluarkan uap panas ke atas lalu lenyap terbawa hembusan AC.


Rasanya gak mau bangun lagi. Nyaman banget buat langsung tidur. Tapi tumben, gak kerasa laper. Cuma mager aja buat pulang. Hm, mana Gery lama banget gantinya.


"Renza gak ganti baju dulu, nanti masuk angin loh!" suara Teh Lela terdengar samar. Lalu disusul suara benda yang ditaruh ke atas meja kaca di sebelahku.

"Ntar aja, Teh. Mau napas dulu," sahutku.


Aku tak mendengar dengan jelas kata-kata Teh Lela selanjutnya. Semua terasa sunyi dan sangat tenang, bahkan hujan di luar sana sama sekali tak terdengar suara rintiknya seolah dunia luar perlahan menjauh. Padahal tadi saat latihan kilat yang menyambar terdengar cukup jelas.


"Ren!" suara Gery terdengar seperti kesadaran yang ditarik paksa. Aku terkesiap, terbangun dari ketenangan yang singkat. Mataku terbuka. Gery tampak berjongkok. Tangannya masih menempel pada pundak kiriku, mungkin dia sudah mengguncang beberapa kali. Aku masih terdiam, memutar pandangan ke sekeliling. Di meja terdapat dua gelas kosong dan satu gelas susu jahe.


Aku duduk, "Kita masih di tempat Teh Lela, ya?"

Gery bangkit, lalu duduk di sebelahku. "Iya, udah setengah jam lo tidur."

Teh Lela datang dari arah loker, "Udah bangun Za?"

Aku mengangguk.

"Ganti dulu sana," perintahnya lalu mengambil gelas minuman di atas meja, "jahenya biar Teh Lela panasin lagi."


Aku bergegas.


Setelah selesai ganti pakaian dan menghabiskan susu jahe buatan Teh Lela, aku dan Gery langsung pamit pulang. Dan seperti biasa, usai latihan kami mampir ke markas untuk malam mingguan.


————————————————————————


Hujan tinggal gerimis kecil. Di markas hanya ada Arman yang sedang duduk bersila menyandarkan punggung ke sofa. Salah satu tangan memegang gitar dan tangan lainnya mulai memetik senar. Aku menghempaskan pantat pada sofa lain.


"Yang lain kemana Ar?" tanyaku sambil menaruh tangan pada saku hoodie untuk menghangatkan jemari yang nyaris beku.

Arman menghentikan gerakannya, "Biasa, cari gorengan sama soda."

Lihat selengkapnya