16:20:30
Terlihat, seorang laki-laki dengan terburu-buru, sedang berlari menerobos kerumunan yang padat manusia. Mereka tengah berbaris, membentuk barikade yang dilengkapi seragam senada bersama bando besar di kepalanya. Bando itu tampak mencolok. Lebih besar dibanding ukuran kepala itu sendiri, seolah menunjukkan sebesar apa tekad mereka, yang kokoh dan tidak akan tertembus, bahkan oleh misil – yang ditembakkan secara acak dan mengacaukan.
“Ah, andai misil benar-benar tertembak,” laki-laki itu berpikir tak kalah sengit, namun semua terjadi sebatas di dalam pikiran.
Mereka, para wanita dengan minat yang besar akan tetap berdiri di tempat ini, yang senantiasa berseru demi merayakan kemenangan brutal atas kebebasan serta ketiadaan akan keterikatan pada hakikatnya jiwa mereka; sebab tidak ada sedikit pun kemuliaan yang terlihat di balik perilaku itu. Tidak ada kelembutan maupun kelemahan dari sorakan menggema tersebut, namun sebagaimana dirinya, tidak seorang pun dari mereka yang bukan perempuan. Tidak ada pun manusia yang mampu menyangkal, bahwa yang tampak di sana bukanlah perempuan.
Sementara bocah ini masih mencoba menembus halangan besar di hadapannya secara paksa dan brutal. Semangatnya tiada tanding. Dia menyerang dari berbagai sudut, lantas terpanting lagi. Tapi agaknya semua berbuah sia-sia. Maka pantaslah jika sebagian orang menganggap dirinya tengah terseret keputusasaan.
“Perempuan bukan lawan,” begitulah gerutunya.
Keramaian itu bagaikan koloni semut saat hendak membangun kastel megah, yang serempak dan berjajar dalam haluan tegas, tanpa memiliki cela untuk dikalahkan. Konon, gajah yang sebesar gunung pun, kalah saat menyerang koloni ini. Namun, bocah itu tak lantas jemu, tangannya terangkat ke depan dada, dan bergantian seperti sedang mengayuh udara, mencoba mencari pegangan agar tidak terdorong ke belakang; sebelum akhirnya terjungkal juga.
Ia tersungkur dengan kepala yang terjerumus ke tanah. Seakan ada kerikil di kepalanya, rambut cepaknya jadi bergerindil. Bahkan kini mukanya pun ikut berpasir. Ada sesuatu yang membuatnya terdorong terus ke bumi, terinjak-injak dan merasa begitu rendah seperti tempatnya memang ada di sana. Lantas dengan napas yang terengah-engah, serta tangan ringkih yang menopang seluruh tulang belulang tersebut; dirinya bersusah payah kembali berdiri demi menghadapi kenyataan yang sama sekali tidak memberikan perubahan.
Dia masih berdiri di tempat yang sama, langkahnya tidak lantas bertambah. Perjuangannya mencapai tujuan telah mengkhianati. Agaknya nasehat orang tidak begitu bermakna di sini. Manusia memang tidak selalu berhasil, sekalipun segala keringat yang sudah ia kucurkan berubah menjadi mata air. Tidak semua hal dapat terpenuhi. Tapi ini hanya tentang lari. Bukan masalah begitu pelik hingga mengorbankan nyawa. Mengapa jadi sangat berat, jika laki-laki ini yang lakukan. Payah.
Pandangan sudah berkabut, ia tidak lagi tahu tujuan, namun demi apa yang sudah jiwanya tempuh sepanjang ini, tubuhnya tidak bisa berhenti berlari. Entah hanya sekedar ego atau harga diri, kalah sekarang tidak akan membawanya ke mana pun, bahkan untuk pulang. Tidak ada jalan lagi. Dia tetap harus berlari, kendati apa yang di depan nanti merupakan benteng sebesar gunung, yang gemuk dan tak tertahankan. Sambil menggigit bibir yang gemetar, Markum berusaha dengan keras mencari lorong sempit di antara matanya yang sipit. Barangkali, kemerdekaan itu ada bagi mereka yang tidak menyerah. Sama seperti gerombolan yang tengah dia taklukan ini. Keduanya, baik dia dan mereka sama-sama menginginkan kebebasan akan hakikatnya diri sendiri.
Sayangnya, penghalangnya semakin padat. Semakin tidak tertembus. Orang-orang itu laiknya serpihan glass bead berukuran mikro yang disentakan dalam kaleng, yang mengisi setiap rongga kecil untuk udara. Mereka lebih solid dari semen yang dibaluri air untuk acian dinding. Mereka lebih tertutup dibanding dinding itu sendiri atau hati yang ditamengi dengan seluruh kebohongan. Setertutup itu, lantaran kali ini ada sebuah konser yang memeriahkan kemenangan akan sesuatu selain kebebasan, yakni kebahagiaan dari suara-suara manusia yang paling gemilang di balik layar televisi.
Mereka yang terbiasa berdiri di depan layar tersebut, menampakkan diri di hadapan orang yang mencintainya, atas dalih cinta, sebagai pembalasan akan penolakan akibat tidak bisa memiliki semuanya, selain tampilan luar yang dipoles dengan indah. Manusia mencintai keindahan itu, meski sebagian darinya adalah kebenaran yang dilapisi dusta. Tak sedikit yang menunjukkan keterlebihan, tanpa sedikit pun kesederhanaan yang bisa disanjung. Namun mereka mencintainya. Mereka dengan suka cita mencintainya. Kebohongan itu. Tipu daya itu. Kepalsuan itu. Segala hal yang ditunjukkan adalah kecintaan.
Kemeriahan ini juga merupakan keserakahan akan kasih sayang tiada tara, bahwa tidak boleh ada perhatian lain yang bisa dituju oleh mata selain diri mereka. Entah itu, sebuah hipnotis atau memang cinta itu sendiri menjadikan buta pada semua hal yang benar bagi mereka, sehingga mereka adalah kebenaran itu sendiri.
Kebetulan di antara semua cinta itu, ada Markum yang terlalu membara ingin berlari sehingga menjadi pesaing bagi cinta mereka, lantas layak disebutlah sebagai makhluk berbahaya dan mengancam. Sementara dirinya sendiri tak lebih dari makhluk kecil lugu – yang tidak sengaja terjebak di antara koloni tersebut, tapi tetap dipandang dengan sorot sinis yang menusuk, tanpa sedikit pun bisa memberi pembelaan.
Tentu saja, tidak boleh ada cinta lain yang melewati kebesaran itu. Tapi bocah gila ini muncul di tengah-tengahnya, entah dari mana. Dan dengan begitu sempoyongan menerima sorakan – yang tentu bukan untuk dirinya – namun energi yang ganas ini memancar juga kepadanya. Sehingga panas yang terserap mampu melahap seluruh tubuhnya ke dalam lava, dari kulit hingga ke tulang-tulangnya menjadi kering, lunglai dan rapuh tidak berdaya. Seperti seluruh jiwa raganya dihisap habis, lantas tak bersisa meski sekedar embusan napas. Sungguh, hebat.
Sebetulnya jika wanita benar-benar bertindak brutal, bagian mana dari laki-laki yang bisa menanganinya? Tidak ada. Bahkan dalam cinta yang bergelora itu sendiri, wanita memilikinya lebih besar dibanding ketika mereka memiliki diri mereka sendiri. Lantas, Markum?
Tentu tidak. Pelarian ini bukan karena cinta. Tidak mungkin ada cinta di dalam hidup Markum. Tapi, jika penting untuk menjelaskannya, mungkin dia pun sedang memperjuangkan cinta. Ia begitu cinta pada diri sendiri, sehingga ke sana ke mari mencari pertolongan. Dia sekarat. Sebagian jiwanya hampir mati. Wajahnya pun tampak demikian.
Katanya, dia harus ke kantor polisi, meski dengan segala hal yang menyeretnya, atau dia benar-benar mati. Pilihan tragis, tapi beginilah orang yang ada di ambang jalan. Markum harus melaporkan dirinya sendiri.
Iya, dia pergi untuk melaporkan dirinya sendiri.
***
18:05:20
Butuh beberapa saat sampai akhirnya pintu itu terbuka. Baik napas dan keringat membanjiri ruangan tersebut. Entah bagaimana dirinya bisa sampai. Dia lupa. Tidak peduli. Seingatnya, ada yang harus diucapkan. Tapi ini pun juga tidak ingat.
Markum tidak kuasa menahan embun dari setiap tarikan napasnya yang mengepul tepat di luar mulut. Udara tidak cukup dingin, tapi dialah yang sedang kedinginan. Tangan yang begitu ringkih masih memegang gagang pintu, dan kaki lemas tersebut belum sepenuhnya melangkah memasuki ruangan.
Tak satu pun dari dirinya yang siap menghadapi ini, namun manusia yang berdempet-dempetan di sana memandang dengan sigap. Seperti sedang mengancam. Mengapa hari ini begitu banyak yang melihat Markum dengan mata setajam itu? Padahal, tidak ada yang berbahaya pada sosok ini.
Bocah ini sendiri pun membatin dengan perasaan muak, semua yang dilihat sebatas makhluk berkaki dua, dengan hidung mencuat, dan mulut yang manyun. Ada banyak arti dari ekspresi mereka, dan semua itu tidak pernah mudah dipahami.
Saat selesai menarik gagang pintu dan mengembuskan napas beberapa kali, ketenangan dan ketegangan dalam dirinya kembali. Jantung yang sedari tadi berdetak cepat, juga mulai keras terdengar, rasa takut untuk memulai menjalar hingga menaikkan bulu kuduknya. Tiada kengerian yang melebihi ini di mana seseorang tengah melaporkan dirinya sendiri dengan tuduhan yang tidak masuk akal.
Pandangannya tidak lagi buram, dan semua kejelasan yang bisa dilihatnya adalah polisi-polisi yang tengah lalu lalang menghadapi konflik-konflik masyarakat dengan berbagai emosi membara. Beberapa menunjukkan cintanya, dan yang lainnya adalah kemarahan, kesedihan, keculasan hingga kedengkian yang dangkal maupun dalam. Meski demikian, mereka pasti bisa melakukan sesuatu untuknya, begitulah keyakinan itu mendorong Markum hingga benar-benar berani memasuki kandang tersebut.