UMBRA

Dina prayudha
Chapter #2

Bab 2

10:15:02 

Pagi hari, terdengar seorang wanita berteriak kepada ibunya bahwa ia tidak akan menikah. “Saya tidak akan menikah, bu!”

 Teriakan itu terdengar nyaring, melewati empat halaman dan empat tembok yang tebal, cukup untuk didengarkan jelas oleh Markum dan kawanan serigala lain di dalam bilik kos. Hunian itu berdiri di depan jalan sempit selebar 1 meter, yang berjejer mengitari tembok pembatas tinggi – adapun di sebaliknya merupakan wahana perbelanjaan bagi wanita-wanita penggila mode. Bagaikan jurang, di seberang surga. Dua dunia yang dipisahkan oleh sekat tipis, di mana kaum-kaum kecil mengimpikan kehidupan di seberangnya. Meski tinggal di wilayah yang sama, tapi keduanya merupakan dunia yang sama sekali berbeda.

Sungguh, dinding tersebut terlampau tinggi, dan meskipun ada rumah bertumpuk 3 dengan lebar 6 meter, masih tidak sanggup mengungguli. Sehingga sepenuhnya, tidak ada yang pernah melihat matahari terbit dari sana. Gelap, lembab dan senyap, merupakan kata yang nyata untuk menjelaskan mengapa jamur hijau begitu subur di tempat itu. Tidak banyak orang yang tinggal di sana, namun juga tidak jarang. Beberapa orang menetap lantaran sudah tinggal di sana sejak lama. Sementara beberapa lain memiliki keterpaksaan untuk tetap tinggal, seolah dunia itu memang diciptakan untuk mereka.

Markum tinggal karena pilihan tersebut tepat untuknya. Konon manusia selalu mencari segala sesuatu yang sama persis dengan diri sendiri. Begitulah bocah kecil ini mengenali tempat itu sebagai bagian tidak terpisah darinya. Kemuraman yang dipancarkan begitu cocok, dingin yang mencuat sampai sinar matahari yang terhalang membentuk bayangan gelap di bawahnya, benar-benar menunjukkan bahwa dunia itu memang diciptakan baginya. Tapi alasan lain dari itu, karena hidup di dunia yang terang membutuhkan banyak uang. Hanya neraka di tempat ini lah yang menyediakan harga masuk akal untuk tinggal. Kejam, ironi atau memang inilah nasib yang tidak bisa ditawar.

Sebuah wilayah tidak terjamah. Bilik sempit. Kotoran yang menggunung. Jamur di dinding, Bahkan sinar matahari yang tidak akan tampak sebelum pukul 11. Maka tidak ada bedanya dia dengan gulma yang tumbuh di tempat tertutup. Apalagi kemarin, ketika dirinya tiba dengan sempoyongan selepas perjuangan panjang melaporkan diri sendiri, yang berakhir dengan keputus-asaan baru, bahwa; barang satu kapi pun dia tidak boleh mengungkap tentang kondisinya yang khusus, kecuali dia ingin dipandang dengan tatapan sinis dan mencengkam dari oleh orang lain.

Hal tersebut telah menambah suasana durjana di bilik kosnya yang usang. Tidak hanya ruangannya yang tidak terawat, bahwa sepenuhnya dirinya kini pun, juga bagaikan manusia berjamur. Ia tidak keluar, tidak menghirup udara yang segar. Meski keluar pun juga tidak lagi ada udara yang layak untuk dihirup. Tidak ada pepohonan di sana, yang meregulasi udara seperti di pegunungan asli, kecuali tanaman bonsai yang sengaja di tata dipinggir dinding - mepet sekali dengan jalan, lantaran tidak ada teras di sana.

Nyaris setiap ada yang lewat dengan sepeda motornya, pot-pot kecil tersebut selalu terjungkal, dan tanahnya berceceran di sekitar. Maka pada saat itu, suasana di sekitar nyonya pemilik bilik penjara bagi kaum serigala kumuh tersebut, tampak suram. Dingin, dengan hawa yang menyebar ke sekitarnya, lebih menusuk dari miasma. Seolah manusia lain bisa saja mati jika mendekat lebih dari 30 cm. Wabah beracun keluar dari tatapannya, lalu membunuh target. Maka tidak akan ada yang berbicara apa pun, terlebih jika hanya untuk menyulut amarahnya, sampai ada yang membuat lesung pipinya nampak dalam. 

Bonsai-bonsai tersebut merupakan kesayangan, dan menyentuhnya sama saja dengan menuang minyak ke dalam bara. Tapi dia bukan orang yang berapi-api. Dirinya sendiri pun muram, seperti rumahnya. Tapi bonsai itu memberikan suasana yang sedikit segar, meski tidak memperbaiki udara yang panas. Tidak juga meneduhkan. Apalagi memberi kesejukan. Sejelasnya, bonsai itu merupakan ciri untuknya, yang menggambarkan bahwa manusia di dalam masih ingin hidup, sebab memiliki hasrat.

“Cepat keluar Nak,” teriak nyonya rumah tersebut.

Dia pemilik kos yang sangat mengganggu, namun sebenarnya baik. Sudah beberapa kali sejak Markum tidak keluar bilik, tidak berangkat sekolah, apalagi menampakkan diri di jalan. Dia mungkin khawatir jika tiba-tiba rumahnya diliput berita, karena kabar tidak sedap, seperti meninggalnya seorang pria di bilik sewa yang kumuh dan rusak, karena minimnya perawatan. Sesuatu yang menyeramkan seperti inilah, yang ditinggalkan oleh manusia yang begitu egois memilih kematian pada diri sendiri. Hanya kerugian, dan tidak membawa manfaat. Sementara dia mati, orang lain masih menanggung rugi meski telah beberapa saat terlewat. Kabar miring juga akan mengikuti, seperti hama yang tidak akan mati meski telah diobati.

Cepat keluar, Nak! 

Dan satu lagi orang berteriak langsung ke telinganya, mengikuti suara itu dengan nada yang sedikit mengejek. Markum tidak tampak senang dipanggil dengan sebutan “Nak”, karena menunjukkan bahwa dia bukan pria, melainkan bocah. 

“Suaramu, yang lebih menggangguku!” jawab Markum, dengan badan yang terbangun dipinggir kasur. Kalimatnya tidak diucapkan keras, dan tidak diperuntukkan untuk menjawab nyonya rumah, melainkan bayangan kecil yang menggeliat di bawah kakinya. 

Markum tahu suara itu, karena baik nada dan logatnya tidak berbeda dengan dirinya. Bayangan tersebut, yang tidak bernama, karena jelas jiwanya tidak akan mengakui bahwa dia makhluk hidup serupa seperti halnya manusia. Melainkan sejenis parasit kecil yang muncul begitu saja tanpa izin dan permisi, dan sedikit demi sedikit, mulai menggelitiki inangnya lagi dengan kata-kata mujarab yang tidak lebih dari sebuah kebejatan; Mengapa dia berisik sekali, apa perlu didiamkan. Heh, Markum?

Katanya, merujuk pada pemilik bilik kos, yang masih berteriak memanggil anaknya. Markum yang mendengar gedoran pintu tersebut, dan tentu saja sangat enggan untuk menanggapi, lantas kembali tidur, sampai beberapa detik kemudian, gedoran kedua terdengar semakin menjadi-jadi.

“Bangun, Nak. Kalau mau mati, berjemur dulu, jangan mati kayak orang sakit di sini,” ujarnya, dan beberapa detik kemudian dia menghilang.

Lihat selengkapnya