02:16:50
Lima hari sebelum pelaporan.
Malam itu, angin berembus sedikit sendu. Tidak ada pepohonan yang bergoyang. Tidak ada manusia lalu lalang. Dunia senyap, seakan tidak ada kehidupan yang menampilkan gairah hidup sejati. Lantas gerimis kecil datang seperti sedang menggetarkan suasana yang pengap. Maka pantaskah, jika di waktu-waktu tersebut segala bentuk kebejatan bangun di kala mereka yang hidup tampak mati?
Ada hawa getir di tengah kehampaan ini, yang senantiasa menghadirkan rasa merinding sejak dini hari. Markum terlihat waspada seperti ada yang mengganggunya. Seperti menahan buang air besar yang tepat ada di ujung. Gelisah yang tidak dapat didefinisikan, dan segala keburu-buruan, tidak ada yang lebih mendesak dibanding urusannya. Namun dia tetap ada di depan layar 20 inchi tanpa beranjak 1 centimeter pun, fokus yang tidak akan goyah bahkan oleh kantuk, sebab udara memenuhi kepalanya. Sebab lelang menguasainya. Ia hanya merasa merinding.
Sudah 3 jam lamanya, bocah itu duduk di warnet. Sesekali mengambil sosis untuk dimakan, lalu memainkan lagi gamenya. Tidak ada manfaat selain hiburan yang suram tersebut. Meski kalah, tapi buff membuatnya terus hidup di garis paling bawah. Iya, trik seperti itu sudah dihadapi Markum sedari awal ia memulai keasikan ini. Meski tahu bahwa tengah diperdaya, ia justru melemparkan dirinya sendiri ke dalam tipuan itu, semata-mata demi bertahan hidup. Beberapa manusia kerap kehilangan tujuan di usia-usia yang mendekati siap dalam terjun ke dalam kenyataan, namun mereka tidak pernah benar-benar siap.
Usia Markum menginjak 22 pada tahun ini. Sebuah angka yang biasa, namun keramat untuknya. Lantaran kelulusan tepat ada di depan mata, dan terlihat sekali sedang menunda itu, selama yang bisa dilakukan. Namun kenyataan akan menghantamnya segera. Jelas sekali, bocah itu sudah paham dalam hal apa pun, dan meski tampak tidak ingin tahu, rupanya dia benar-benar memikirkan itu sampai kepalanya ingin meledak. Tapi bukannya segera bangun, lantas sadar, Markum justru menceburkan kekalutan tersebut ke jurang pelarian yang dalam.
Bocah setengah matang tersebut melemparkan dirinya dalam candunya game online, lantaran kakinya tidak mengerti harus mulai melangkah dari mana, ke mana dan bagaimana. Ia benar-benar tersesat. Terjerumus dalam kekalutannya sendiri, persis seperti bocah 12 bulan yang sedang was-was saat ingin menampilkan langkah pertamanya.
Tapi tidak seperti bocah yang begitu dinanti oleh orang lain, tidak ada siapa pun yang menunggu Markum. Dia mendapatkan tuntutan bahwa dirinya harus bisa sendiri tanpa sebuah apresiasi yang menenangkan. Markum dihujani ekspektasi yang besar, tanpa diberi pengaman ketika suatu hari bisa saja harapan tersebut justru menjatuhkannya. Karena dia laki-laki, makanya menjadi contoh dan teladan adalah kewajibannya. Sayangnya, tidak setiap saat laki-laki bisa menjadi seperti itu, dan kali ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menampilkan keelokan itu. Adakalanya Markum, yang meskipun seorang laki-laki bisa saja terombang-ambing dalam kegelapan.
03:05:12
Waktu bergulir dengan cepat. Matanya kian memerah dan letih. Ia menghabiskan 3 cangkir kopi hitam tanpa gula dan susu dalam satu malam. Rasa yang pahit dan mencekat lidahnya itu, ia telan bersama dengan pahitnya kehidupan. Seperti manusia yang sudah hidup puluhan tahun saja, keluh orang yang mendengarkannya berceloteh. Pasti, mereka akan mengatakan itu. Menghakiminya lebih dulu. Makanya, bocah itu selalu diam. Tidak bersua, tenang, dan hanyut sendiri dalam gelisahnya.
Menegak kopi panas, memberi sensasi terbakar di tenggorokan, dan sisa rasa yang melekat setelah itu, membangkitkan gairah terpendam untuk melek sebentar. Sebenarnya, meski tampak sembrono dan tidak ada harapan, bocah itu (sebutan lain yang tidak disukainya selain nak) telah lama hidup dalam kesungguhan. Namun sungguh-sungguh saja tidak cukup. Agaknya manusia harus mulai mengendalikan api jika ingin hidup dengan lebih terarah. Atau setidaknya meninggikan bumi yang runtuh saat bencana. Atau meruntuhkan langit yang mendung dan berpetir. Jika memang bisa, mereka akan di panggil pahlawan yang tidak akan pernah kehilangan arah. Adakah pahlawan yang menjadi buta setelah berjasa?
Bahkan kebutaannya akan tetap menjadi sanjungan, yang tidak akan terhina dan terinjak-injak. Di mana matinya akan diberi kastil megah dan dibangunkan monumen bersejarah yang menandakan kehidupan mulianya. Terlepas dengan tindakan kepahlawanannya itu, orang lain akan menutup mata pada segala sesuatu yang melekat padanya saat masih manusia. Padahal pahlawan pun, juga manusia. Sementara, mereka yang biasa-biasa saja, seperti Markum. Sekalipun telah belajar sepanjang hayat, tidak ada yang didapatkan selain kebosanan. Hingga suatu hari, ia tetap belajar demi berhenti belajar. Maka saat inilah, saat apa yang dia tahu sebagai puncak tertingginya sebuah pembelajaran itu akan segera dicapai, dia telah sepenuhnya runtuh. Jika suatu hari dia telah lulus, lantas apa yang bisa dirinya lakukan? Sementara yang dia tahu hanya tentang belajar. Ia tidak tahu apa pun selain itu. Hal ini menjadi momok yang menyiksa baginya.
Sudah dikatakan berkali-kali, bahwa dirinya telah kehilangan arah, telah kehilangan dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang mandiri dan berdedikasi, lantas menjadi bagian dari makhluk nokturnal yang terindependen, di mana lebih pas disebut dengan apatis yang tidak suka bermasyarakat dan tidak bermartabat.
Entah karena lelah, atau matanya tidak lagi bertahan, ia pulang dari warnet melalui jalan jalan sempit, dengan lampu gelap yang berkedip setiap beberapa saat. Bulan yang kian jatuh ke kaki langit, menandakan bahwa matahari akan segera bangun, serta angin yang dingin dan terasa lembab tersebut, menjadikan tanda bahwa pagi pasti akan datang. Tubuhnya tidak menghangat, dan jaket tebal yang dibawanya tidak cukup tebal untuk menghalau hawa tersebut, tapi yang paling mengkhawatirkan bukanlah rasa di tubuhnya ini, melainkan perasaan asing yang membuat bulu kuduknya terus berdiri.