UMBRA

Dina prayudha
Chapter #4

Bab 4

10:17:20

Matahari telah tajam, namun mereka yang tinggal di balik dinding ratapan tidak akan mengenal terang. Penghalang tinggi itu, laksana bumi di antara bulan dan surya. Seolah gerhana terjadi di pagi terik yang menghangatkan, dan hanya Markum sendiri yang merasa bahwa dirinya di antara kegelapan. 

“Siapa?” teriak Markum, mencari asal suara yang menyentilnya. Suara itu menghilang, tertelan gelap yang membebat. Lalu datang lagi tanpa memberi jawaban, dan pergi kemudian seolah kebuntuan Markum tidak bermakna apa-apa. 

Namun, siapa dia? Pertanyaan itu, pada akhirnya akan terjawab, meski butuh waktu. Sebab bocah malang itulah yang paling tahu dari getar suaranya. Dari naik-turun nada. Dan kata yang dipilihnya. Semua terpilin menjadi satu, yang cukup untuk menjelaskan kebenaran. 

Markum hanya tengah menyangkal itu. Bahwa sekalipun yang dibatinnya meloncat dari dalam hati dan membentuk kata-kata di udara. Lalu tertiup angin hingga telinga mana pun mampu menangkapnya. Bocah bengal ini akan tetap menyangkal itu. Ia tidak akan membongkar apa yang tersimpan di dalam jurang. Sebab jauh di dasar sana, hanya ada kegelapan. Hanya ada kemalangan. Sebuah hitam pekat dan ganas, yang menelan semua kebajikan. Meluluh lantahkan kemuliaan, hingga yang tersisa hanya Dosa. Ia tak ubahnya serigala kelaparan yang memoles kulitnya dengan bulu domba, demi memikat domba lain. Tampak jinak, serta menyenangkan. Namun juga penuh muslihat. Kebohongan. Murka. Sekaligus kesombongan.

Wanita itu sungguh cantik, bukan?

“Ya, sangat!” sergah Markum. Agaknya suara ini, memiliki niat untuk mengacaukan. Tapi percuma. Dia jelas tahu apa yang kini bergejolak di pikirannya. Bahkan hasrat yang membara malam tadi, masih belum sirna. Ia masih membayangkan, bagaimana bersemangatnya kala itu, yang berharap ingin menggerayangi tubuh molek tersebut. Tubuhnya memang sangat molek.

Kulitnya yang berlumuran darah. Mata dingin yang terbuka. Serta aroma kemuning yang masih mencegat penciumannya saat ini, hingga tidak mampu mengendus bau busuk lain di tubuh sendiri. Ironis, satu tubuh wanita saja, mampu mengubah keseluruhan hidup laki-laki. Pantas saja, jika neraka hanya dipenuhi oleh wanita-wanita biadab, karena tubuh yang sedang diam saja, mampu melahirkan kebiadaban lain. Lantas, bagaimana jika bergerak? Bagaimana jika tangannya benar-benar mengundang? Bisa saja bayi iblis, akan lahir besok pagi.


14:40:12

Markum mendekap kepalanya dengan erat. Masih bersembunyi dalam kegelapan. Matahari yang terik tidak mampu membangunkannya, dia merasa takut jika ada mata yang tiba-tiba muncul dari balik tembok. Lalu membeberkan isi jiwanya. 

Sesekali tangan ringkih itu memukul kepala dengan ringan. Ia merasa ada dengung yang terus mengganggu, seakan lalat sedang menari-nari di lorong telinganya. Suara-suara yang kian muncul, masih datang dan pergi. Lantas hantaman yang lebih keras mendarat di kepala itu. Sakit dan pusing tidak menjadi persoalan, selama kegelapan yang menyandera kesadarannya kini, lenyap. Dia tidak berdaya. Ia tengah terjebak. Seakan adaa makhluk yang sedang mendorongnya untuk mati. Rasa frustrasi membelenggunya ke jalan yang lebih gelap di banding ruangan itu sendiri.

Markum hanya manusia yang ringkih dan tak berdaya. Dunia tidak boleh tahu bahwa ada sisi bejat di dalam dirinya, yang menggilai pemandangan busuk sebagai bentuk kesenangan dan kecintaan. Jika mereka tahu, ia akan diseret dan dibawa ke dalam koridor yang tidak berjendela, dan dikuncilah dirinya di dalam ruang penjara sampai ajal menjemputnya. Sampai Tuhan memaafkannya dan sampai manusia lain menerima bahwa dirinya telah sepenuhnya bertobat akan kegilaan itu.

“Hentikan,” rintih Markum dalam hati. Dia tahu benar, dalam ruangan itu tidak ada siapa pun. Hanya dia seorang yang bersembunyi dalam kekalutan dan ketakutan, sinar rembulan pun begitu minim terbias di ruangannya. Segala sesuatu yang membuat seseorang mengintip, telah disumpal dengan kain dan selimut yang bertebaran. Mungkin sekarang, tiada satu pun orang yang akan mengingat bahwa ada manusia hidup di dalam ruangan itu, sebagai sosok yang bernafas dan dapat berkompromi. Jadi, suara itu bukanlah siapa-siapa. Hanya sosok yang akan hilang, jika disuruh diam.

Tapi bicaranya menjadi lebih panjang dan tajam.

Seharusnya, kau bawa saja dia ke rumah. Kau dekap dengan mesra, kasihan sekali wanita itu dibiarkan kedinginan. Aneh sekali, kenapa ada orang yang bisa memperlakukan orang seburuk itu. Jika didandani, dan diberi mahkota, dia benar tampak seperti ratu. Gaun putih berendanya, dan menjadi merah saat darah yang mengucur dari matanya semakin tidak terbendung. Ah, dia pasti menangis sepanjang malam sampai bisa seperti itu. Bagaimana wajah menangisnya ya, kau tidak penasaran Markum?

“Hentikan! Jangan bicara lagi. Diam. Aku tidak seperti itu. Aku bukan binatang liar yang jatuh cinta pada mayat. Tidak! Kamu salah. Dia menyeramkan, tidak cantik. Tidak sama sekali.”

Tapi, kenapa ekspresimu seperti itu?

“Memangnya kenapa?” 

Memang apa yang tampak dari wajah polosnya? Markum tidak mengerti sama sekali. Ia tidak pernah berekspresi. Parasnya tidak pernah menarik. Tidak tersenyum, dan sebatas wajah anak laki-laki biasa dengan rambut bergerindil. Mungkin sedikit berminyak, lantaran sekalipun tidak dirawat. Berjerawat satu atau dua di batang hidung dan keningnya. Sangat normal. Tidak sempurna. Tidak cacat pula. Namun dia tahu, ada lesung pipi yang dalam saat tersenyum. 

Benar, lesung pipi itu akan terlihat saat menggerakkan bibir, meski hanya mengangkatnya sedikit saja. Hanya itu satu-satunya yang membuat dirinya tampak aneh, karena tidak bisa meninggalkan kesan garang dan dewasa. Ia tidak bisa menanggalkan sosok murni dan polos dari sisi itu, sehingga sebisa mungkin ia mencoba untuk diam dan tidak berbicara. Lesung itu bagaikan aib yang ingin disembunyikan, terlebih ketika wanita-wanita yang menyukai kemanisan dan kelucuan, akan memuja itu bagai oasis di gurun pasir. Benar, selama lesung itu tidak tampak, ekspresinya tidak akan terlihat aneh.

Lantas, ia beranjak dari lemari yang kecil itu. Berlari meninggalkan tempat sembunyinya, mencari apa yang dapat memantulkan wajah. Sangat tidak mudah. Kakinya terjerumus dan tersandung dengan apa saja yang berserakan di lantai, lalu terjungkal dan melukai diri. Ia masih tidak gentar dan melanjutkan berdiri. Andai saja hidupnya juga seberingas saat ini. Memiliki motivasi untuk terus bangun dengan niat yang tidak pantang runtuh. Sebenarnya, ekspresi macam apa yang bisa ditunjukkan olehnya hingga suara itu menyinggung dengan penuh semangat? Dirinya sendiri begitu penasaran, seakan ada rasa takut bahwa ekspresi itu adalah ekspresi yang ditinggalkan setan kepadanya. 

Dalam kegelapan tersebut, ia melihat sosok yang bergairah, namun tidak ada senyum di sana. Giginya pun tidak tampak, tapi sedikit ada sudut yang terbentuk dari bibirnya. Garisnya sedikit naik, dan lesung pipi itu adalah satu-satunya yang berhasil mengkonfirmasi bahwa dirinya memang tengah tersenyum girang. Ekspresi yang hanya bisa dimiliki oleh orang kesetanan. Ah, benar. Setan benar-benar telah merasukinya.

Bagaimana bisa ada perasaan senang ketika dia terjerumus dalam jurang, dan membawanya ke ujung dunia? Tidak adakah manusia yang bisa begitu semangat setelah terlibat dalam tali kematian seseorang. Hanya Markum yang demikian aneh, seakan ia telah terlahir kembali sebagai sosok lain yang tidak bisa disamakan dengan manusia.

“Tidak. Apa-apaan ini. Ada apa denganku?” jerit Markum. Ia menjambak rambutnya dan melempar segala sesuatu yang ada di sekitar. Tangannya mengepal, lantas menghancurkan kaca 20x30 cm yang tertempel di dinding. Emosi tersebut masih tidak mereda, kendati bukan kaca itulah yang menjadi penyebab. Lantaran asa muasal kekacauan ini adalah dirinya. Mungkin jika dia yang dihancurkan, segalanya akan tampak lebih normal.

Sampai akhirnya, Markum mulai menjerit sejadi-jadinya. Dalam rumah itu, tiada siapa pun yang mengenal sosok gila ini. Tiada yang akan peduli jika ada yang terisak sepanjang hari. Semua hal-hal yang tidak bermartabat, sudah mengakar di dalamnya. Sehingga sepanjang hari itu, meski keributan terus muncul di ruangan kecil ini, tidak sekali pun ada yang mengetuk untuk mencoba mencari tahu.

Sebab ketidakpedulian itulah, Markum menjadi lebih ganas. Ia sendiri merasa terkejut, bahwa wajah yang demikian bisa terlihat darinya. Ia sudah seperti kerasukan – yang telah dijelaskan berkali-kali seolah ada setan yang bersemayam di tubuhnya. Wajah itu pun sebatas tiruan, yang ditampilkan si perasuk demi tipu muslihatnya.

“Jelas bukan wajahku,” katanya, masih menyangkal. Ia begitu tidak terima bahwa dirinya telah sepenuhnya berubah menjadi sosok yang lain. 

Hancurkan saja!

Suara itu pun kembali menggiringnya ke dalam posisi yang sulit itu, sebelum akhirnya menghilang. Sebentar saja. Jika memang bukan wajahnya, maka mudah bagi bocah itu untuk menghancurkan. Tangannya pun mengambil pecahan kaca, menggenggamnya dengan tangan kiri – yang mulai perih karena tergores. Ujungnya tajam, memiliki 2 sudut tumpul dan 2 sudut runcing. Seperti jajar genjang yang tidak beraturan. Panjangnya tidak lebih 8 cm, pas ada di genggaman Markum. Saat melihat bagaimana ujung runcing tersebut tepat di depan muka, dia urung. Wajah itu. Senyum itu. Jelas, dia tidak sedang kerasukan. Dan sekali lagi, nyali ciutnya menguasai. Markum hanya beralasan, bahwa dirinya tidak pernah berani untuk melukai diri sendiri.

Suara itu pun sepenuhnya lenyap, diiringi tawa yang begitu puas menggoda; menandakan sebuah kemenangan telak. Kini mereka tahu, bahwa suara-suara itu lebih memahami Markum dibanding dirinya sendiri. Suara itu lebih mengenalnya ketimbang sosok yang memiliki nama itu sendiri, dan suara itu pastilah sesuatu yang dikirimkan iblis untuk mendorongnya ke jalan yang menyesatkan. Bahwa sepenuhnya, suara itu perlu dilenyapkan apabila dirinya ingin hidup dalam ketenangan.

Lihat selengkapnya