UMBRA

Dina prayudha
Chapter #5

Bab 5

09:01:02

Lima hari setelah pelaporan.

Masih terdengar seorang wanita yang berteriak kepada ibunya, dengan kalimat yang tidak berubah di hari berikutnya, bahwa menikah bukanlah pilihan baginya. Mungkin jera juga mendengar ajakan yang di dalam pikiran itu, sudah tidak masuk akal, namun harus dipaksakan karena masyarakat mengatainya masuk akal.  

“Apa perlunya menikah, Mak?” wanita itu masih begitu mengotot, dan Markum yang mendengarnya dari bidiki tempat dia bertelur (sampai telurnya menetas), tiba-tiba beranjak keluar. Kali ini tidak perlu digedor-gedor oleh pemilik yang sadis namun baik dan penuh perhatian, bocah itu keluar dengan sendirinya, membawa beberapa rasa penasaran mengenai suara khas yang menghantui kosnya beberapa hari terakhir.

Pertengkaran mereka, anak dan ibu itu masih sama, dan tidak terlihat ada tanda-tanda perubahan dalam topik itu untuk beberapa hari ke depan. Markum berjongkok di dinding – di samping bonsai – sama seperti tempo hari, sembari menunggu matahari terbit dari balik dinding di hadapannya. Ia menyesap sebatang rokok , yang dia mulai beberapa hari ini dengan terbatuk-batuk, bahkan sampai hari ini batuknya masih tidak hilang. Sesaat setelah dia menghisap, kepulan asap keluar dengan batuk-batuk yang sebelumnya telah dijelaskan. Bagi Markum, itu hanya ketidakmahiran, maka untuk beberapa kali lagi, dia akan mahir dengan sendirinya. Setiap orang pasti mengalami hal ini ketika baru pertama memulai, yakni perasaan tidak berdaya dan ingin menyerah sebelum melangkah. Andaikan hal itu, juga berlaku pada hidupnya.

“Nanti juga bisa, Mar!” timpal seseorang yang semakin hari semakin mengganggu. 

Sekali lagi, Markum hanya mendengarnya, tanpa mencoba membalas apa pun. Lantas tiba-tiba suara teriakan yang sebelumnya telah membangunkannya, terdengar lebih keras dengan diikuti suara terisak. Suara panik lain mulai terdengar, dan seolah merupakan penyakit yang menular, jantung Markum berdetak terlalu cepat pertanda bahwa kepanikan yang sama juga telah menjalarnya. Kakinya masih tidak bergerak, ada perasaan setengah hati yang membuatnya enggan terlibat. 

Sudah, di sini saja!

Kata bayangan itu, tegas, bahwa memang lebih baik tidak perlu terlibat dalam urusan orang lain. Lagi pula, akan ada orang yang lainnya lagi selain Markum, yang pasti akan membantu mereka berdua apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bantuan itu tidak perlu datang dari bocah tidak berdaya seperti dirinya.

Rasa ciut tersebut membenarkan perkataan bayangannya, dan senantiasa menuruti untuk tetap diam. Rokok yang sebelumnya dihisap telah terjatuh ketika kepanikan menyerang dirinya tadi. Tapi, masa bodoh, bahwa kotor pun juga bukan sesuatu yang harus dihindari, maka kontan ia mengambil rokok tersebut, mengusap debu yang menempel dalam gabus tempat mulutnya, lalu menghisapnya seakan tidak pernah jatuh sebelumnya. 

Ia menghirup udara sekali lagi untuk menenangkan diri, dan asap yang dihisapnya bersamaan dengan napas itu, menimbulkan batu-batuk yang membuatnya secara tidak sadar membuang puntung rokok yang masih sisa separuhnya.

Apa benar tidak perlu menolong? Rasa keingintahuan tersebut mengitari kepalanya, seperti lalat yang mengitari kotoran, bahwa memang kepala Markum tidak ada bedanya dengan itu. Teriakan yang semula panik masih terdengar dengan kata lain yang jelas; tolong! 

Seharusnya, ada orang lain yang mendiamkan kepanikan itu. Orang-orang yang tinggal dalam hunian-hunian kecil di sini hampir padat, dan teriakan yang terdengar sejauh 20 meter pasti juga terdengar oleh orang lain, dalam radius yang sama atau lebih luas. Tapi, jangankan ada yang bergegas mendekati, suara pintu terbuka saja tidak ada yang mencolok. Merela tidak begitu penasaran dengan keributan itu, sampai Markum menghitung, siapa saja yang tinggal di sana.

Hari itu, pemilik bilik tidak ada di rumah, 3 orang yang tinggal dengannya juga pergi, dengan kata lain, sepenuhnya sendirian di dalam rumah itu. Samping rumahnya, tepat berjarak 3 meter dari tempat kejadian perkara, meski terhalang pagar sehingga ia tidak melihat secara jelas, beberapa orang tinggal di sana. Ada nenek dan kakek yang renta, maka jelas tidak bisa dihitung sebagai bentuk pertolongan sekalipun dirinya dengan rela mencoba membantu. 

Sayangnya, keduanya tidak muncul barang menongolkan sedikit kepalanya keluar jendela. Atau mungkin telinganya sendiri tidak lantas mendengar suara yang kembali menggema ke sekian kali, meneriakkan permohonan dengan kepayahan, bahwa laiknya cerita seorang wanita yang disebut Dayang Sumbi di mana mengharapkan seseorang untuk membawakan kembali shuttle tenunan yang jatuh dan akan lebih mendramatisi apabila disebutkan sebagai terlempar entah beberapa kilo jauhnya setelah terbawa arus sungai, lantas ia membuat sayembara karena malas untuk mengambil kembali peralatannya yang sudah jauh tersebut yang mana bagi siapa pun, apabila laki-laki akan dinikahi dan perempuan akan dijadikan saudara jika dapat membawakan kembali tenunannya.

Sayangnya, dunia yang indah di mana cerita tersebut disebut legenda, akan menjadi legenda saja dan tidak dapat ditemui di kenyataan mana pun. Markum masih menghitung berapa orang yang dapat memberikan pertolongan pada teriakannya ke empat. 

Nanti juga ada yang menolong

Celoteh bayangan yang sedang bergeal-geol di bawah kakinya. Jelas sekali bahwa tidak ada cahaya yang menyorotnya, namun entah dari mana bayangan di bawah kakinya tampak begitu tebal. Ia jelas, dan nyata yang sekali lagi melemparkan kotoran ke muka Markum. Bayangan tersebut tepat dalam segala situasi, bahwa tidak sekalipun ia tidak mengerti Markum. Seakan-akan ia memang ada untuk memperjelas kebejatan dalam dirinya.

Sesap saja rokok itu. Tenanglah, dan lihat, ada yang sedang grasah-grusuh mencoba keluar kandang. Sedang sibuk bercinta kali. Syukurlah, kamu tidak perlu terlibat.

 Lanjut bayangan itu lagi, dan terdengar meyakinkan. Mata Markum menilik sekeliling, lantas kepalanya mulai kembali menghitung ada berapa manusia yang tinggal di sana; ah pasti banyak, tidak perlu dirinya. Pada akhirnya, hitungan tersebut membuatnya lelah. Dan kembali, ia berhasil diyakinkan dalam kegelapannya.

Kalimat itu menjadi lebih tegas di benak bocah itu semenjak suara hati yang dipendam tersebut digarisbawahi dengan tebal oleh pasangan hatinya. Namun detik demi detik yang terlewat, tidak ada yang benar-benar menampakkan diri. Sampai teriakan kelima keluar dengan begitu lelah dan letih disertai tangisan yang menjalar. 

Pertengkaran yang semula heboh di akhiri dengan cara yang begitu dramatis, dan tragedi yang tidak akan terlupakan. Apabila memang se-menyakitkan itu, mengapa memulai pertengkaran yang berulang-ulang sejak lama, di mana tidak ada kalimat satupun yang berubah, dan tidak akan pengembangan apa pun yang membangun. Mereka hanya bertengkar dengan pendiriannya yang teguh, sampai salah satu tumbang. Tatkala benar-benar ada yang tumbang dalam arti yang sebenarnya, penyesalan tersebut akan datang bersamaan dengan kalimat; bahwa akulah yang benar. Sekali lagi mereka akan mendebatkan hal yang sama.

Markum masih enggan untuk beranjak. Ia menyesap kembali rokok yang membuatnya terbatuk-batuk. Asap tebal dan bayangan tersebut sudah menjadi perpaduan serasi antara keegoisan dan keapatisan. Ia sepenuhnya tidak peduli dengan perkara yang nantinya menjadi lebih besar dan gusar terlebih jika dia harus terlibat di pusat lingkarannya. 

Lihat selengkapnya