05:15:47
Di pagi buta yang mengesankan. Semalam suntuk Markum tidak bisa tidur dengan semua kegaduhan yang ditimbulkan oleh bayangan hitamnya. Bahkan ketika lampu dan pencahayaan apa pun yang datang menuju kamarnya dihalau, bayangnya tersebut masih bisa hadir meski sebatas suara cekikikan saja. Ada banyak kematian yang datang sejak bayangan itu ada.
“Apa kamu Setan Ajag atau hewan mistis yang diberi kekuatan untuk mencabut nyawa?” tanya Markum, kepada sosok yang tidak terlihat tersebut dan dijawab dengan cekikikan lagi.
Markum sendiri tidak mengerti kenapa sebutan tersebut tiba-tiba terlintas di dalam kepalanya, seakan bahwa suara yang mengikutinya kini merupakan jelmaan anjing liar yang datang memakan nyawa-nyawa orang lain. Tidak pernah ada rasa peduli dalam jiwa Markum, dan segala hal yang berjalan di sekitarnya, merupakan bagian lain yang berbeda dengannya. Dia tidak menjadi mereka, dan tidak terikat pula dengan itu. Tidak hanya sekali pengabaian demi pengabaian yang sudah dilakukannya, termasuk ketika dia membiarkan seorang kakek-kakek yang terjatuh dari sepeda di tengah jalan. Orang yang kesusahan menata barang dagangannya yang jatuh di tengah jalan. Sampai anak kecil yang mengejar bola ke jalan rasa di saat ada sepeda motor yang sedang melaju kencang di depannya. Semua kejadian tersebut tidak ada yang membawa mereka pada kematian, melainkan selalu ada yang menyelamatkan mereka meski bukan Markum. Maka kali ini pula, dia berpikiran sama, baik wanita di gang yang gelap itu, maupun suara memelas yang terdengar dengan putus asa kali ini, pasti di dalam batinnya bahwa ada orang lain yang akan menyelamatkan mereka tanpa Markum harus turun tangan.
Sayangnya kadang, ada hal-hal yang berjalan di luar kendalinya, bahwa orang lain juga mungkin sama sepertinya. “Jadi, apa kamu Setan Ajag?”
Aku bukan anjing, sekalipun setengah mati kamu ingin mengataiku. Tapi aku sama anjingnya denganmu.
“Karena kamu diriku adalah satu. Semacam romansa yang menjebak, begitu?”
Kenapa berubah jadi romansa?
“Apa seorang kamu tidak percaya cinta?”
Tidak juga. Mungkin juga iya. Aku mengikutimu. Aku cerminan dari dirimu. Semua kataku adalah katamu. Dan Aku adalah kamu. Jika bagimu aku adalah anjing liar yang memangsa, maka itu memang aku. Jadi apa kamu percaya cinta?
“Kenapa tanya balik?” Markum tersenyum getir. Lesung pipi di wajahnya membulat tajam, dan seperti yang dikatakan manusia lain, bahwa paras itu tidaklah buruk saat bibirnya terangkat. “Bukankah cinta terlalu mahal untuk dimiliki orang yang tidak memiliki apa-apa?” lanjutnya, lagi-lagi dengan pertanyaan baru.
Kedua makhluk itu adalah sama. Bayangan yang terbentuk dari objek, saat dikenai cahaya. Maka dia adalah dia. Dan pertanyaan akan dijawab kembali dengan pertanyaan. Pada detik itu pula Markum membatin bahwa ada banyak sekali hal yang harus dicukupkan demi cinta. Dirinya, miliknya dan segala hal yang mengitarinya harus ada di atas kepantasan. Namun yang kini dia miliki adalah ketiadaan dan apa pun yang di sekitarnya tidak membawanya ke mana-mana. Sementara cinta tidak pernah punya waktu untuk menunggu, cinta hanya ada untuk yang telah siap, dan Markum bukanlah salah satunya. Entah berapa lama dia memikirkannya, lalu hilang dalam pikiran itu.
13:04:00
“Cinta tidak selalu semahal itu,” celetuk seseorang membuyarkan pikiran rancunya. Seorang anak sedang duduk di ayunan dengan menyesap es balok berwarna merah muda, dan dari plastik yang dilipatnya untuk memegang batang kayu di bawahnya, pria itu berhasil menebak bahwa dia sedang memakan rasa jambu. Sementara yang kini dia pegang adalah rasa mangga.
Beberapa hari setelah kematian demi kematian datang mengikuti jejak bayangannya. Kali ini pun, bayangan tersebut masih menggeliat di kakinya. menyaksikan kemana dia pergi dan mengingatkan, bahwa Markum bukan bagian dari masyarakat yang baik serta murni. Namun, kadang kala ada cela di hatinya yang ingin membuatnya bebas dari belenggu yang mengikat itu, karena di kala ia harus tetap hidup dengan berbagai hal yang membebaninya, pandangannya menjadi suram dan tidak ada yang bisa dilihatnya kecuali dasar jurang. Pria itu terus melihat bayangan kematian yang mendorongnya jatuh. Kali ini, dia mencoba melangkah hanya satu pijakan kaki saja, mendekati kematiannya.
Seorang anak kecil yang dilihatnya tempo hari memiliki kesan mendalam baginya. Wajahnya tidak begitu sangar, dia justru anggun dan indah. Lebih indah lagi bahwa segala hal dalam dirinya masih murni, baik jiwa dan kepribadiannya, lantaran di usia itu masih sedikit hal yang meracuninya kecuali kata-kata kasar yang dibawa dari pergaulan. Namun perempuan yang begitu terawat, tidak akan berbuat keji pada sebayanya ataupun sesamanya. Jadi Markum mencegatnya sembari memasang wajah kumal, yang tentu saja mengundang rasa takut untuk gadis itu. Dia sontak berlari dan berteriak agar tidak dikejar, beberapa barangnya dilempar ke wajah Markum, serta hal lain yang bisa diraihnya, sampai batu besar berlumut yang diambilnya dari lubang di jalan nyaris ikut di lempar juga.
“Apa sebejat itu wajah saya, dek?” teriak Markum. Tangannya menghalangi wajah untuk melindungi diri dari serangan yang datang bertubi-tubi.
Gadis itu mengangguk. Kepanikannya mereda saat suara tersebut keluar, bahwa dia mungkin telah salah menilai lantaran sejatinya wajah beringas tidak menunjukkan kebejatan seseorang. Tapi Markum jauh dari beringas, dia hanya kumal, tidak terawat dan gimbal di rambutnya sudah menunjukkan beberapa hari tidak membersihkan diri, baik dari debu maupun dari pikiran-pikiran kusut. Benar katanya, bahwa manusia akan dinilai lebih dulu dari penampilannya. Bukan untuk menghakimi. Bukan pula untuk menimbang kelayakan. Tapi mata perlu untuk indahkan pandangannya dari kesan-kesan mencurigakan.
“Saya tidak berniat jahat. Hanya ingin berbincang sekedar, mengenai dua wanita di dalam rumah yang Adek temukan beberapa hari lalu. Saya tetangga mereka,” jelas Markum.
Gadis itu mengerti, dia mengangguk dan sepenuhnya tenang, ada kantong plastik yang dicantelkan di sepeda kayuhnya yang tergeletak beberapa meter setelah dia mengejar anak gadis tadi. Namanya, Sunia begitulah dia dipanggil setelah mereka berkenalan sebentar. Plastik itu berisi 4 batang es krim, hingga tidak tersisa satu pun saat keduanya membisu di atas ayunan di taman kanak-kanak di dekatnya. Hingga sampailah pembicaraan tentang cinta tersebut, berakhir.