19:58:15
Esok hari, esoknya lagi dan serangkaian esok tersebut bergulir tanpa mengubah apa pun. Pagi yang dipenuhi batuk-batuk setelah menyesap asap rokok, sinar panas pukul 10 dan oksigen minimum yang dihasilkan oleh Bonsai kering di halaman- atau lebih tepatnya – tepi jalan di depan rumahnya, adalah rutinitas yang tidak akan berubah. Tapi sesekali, ada yang menyenangkan di hari saat manusia yang selalu sibuk dengan pekerjaan, terdiam di rumah dengan pekerjaan yang lebih banyak lagi, lantaran sudah di tinggalkan berhari-hari, bahwa di sana ada beraga gosip yang terdengar dari ujung ke ujung.
Mereka yang menikmati hiburan seperti itu, tidak akan bosan terlebih ketika berbicara dengan Marijah pada minggu pagi yang datang dengan kegaduhan. Tukang sayur yang gerobaknya bahkan tidak bisa masuk gang tersebut, selalu dinanti kedatangannya untuk menyampaikan kabar terkini dari gang-gang sebelah yang belum sempat ditilik dalam 7 hari terakhir. Meski suaranya kadang terlampau hiperbola, sampai bisa mengubah kelereng menjadi telur naga, karena terlalu dilebih-lebihkannya. Namun keberadaannya masih sangat dinantikan oleh orang yang tinggal di ujung paling belakang dan terbelakang dari gang, sebab hanya dia yang memberi mereka tawa di tengah kesuraman dinding ratapan di hadapan mereka.
“Saya punya cerita nih buk, dari wanita yang hidup di gang sebelah tempat paling gelap dari gang-gang lain yang sepanjang pagi, masih lebih gelap dari tembok ratapan di gang ini.” Ujarnya, memulai percakapan dengan lembut dan pasti. “Tapi sebelum itu, ada wortel, terong dan ikan layur yang sudah saya masukan keresek. Bahan-bahan ini siap diangkut loh buk, masih segar, baru juga dipetik tadi pagi.”
“Masa ikan dipetik sih, Bu Ijah?” celetuk salah seorang pendengar. Tangannya menutupi gigi yang tonggos dan semakin ke depan saat tertawa. Meski tidak akan ada yang mengomentari paras tersebut, seseorang yang sepanjang hidupnya telah dikomentari, menyadari lebih dari orang lain, apa yang membuatnya merasa kurang.
“Benar juga ya buk, ikan tidak dipetik. Yang dipetik itu bunga, daun, tangkai dan wanita. Kadang ada yang beranggapan demikian, bahwa wanita sama halnya dengan bunga atau tanaman hias. Sehingga beruntung sekali, jika ada yang memetiknya,” lanjutnya bercerita. “Bunga desa di gang sebelah juga tampaknya sudah siap dipetik. Tapi, bunga itu tiba-tiba hilang. Katanya sih, digondol wewe. Lantaran cemburu.”
“Ini cerita horor, ya buk?”
“Oh, bukan. Tapi ada sensasi ngerinya sedikit,” Marijah menjawab. “Jadi bunga cantik yang didamba desa itu, selalu dirawat dengan indah. Dia ditaruh pot dengan pagar tinggi, yang maling dengan keahlian tersertifikasi saja, belum tentu mahir mencurinya.”
“Dan dia tetap dicuri?”
“Benar. Bunga itu tiba-tiba hilang, katanya sih dicuri. Padahal sudah ada teralis yang mengitarinya. Bergerendel gembok yang tidak cukup dengan 3 kunci. Segala perhatian untuk melindungi bunga nan indah tersebut, kandas. Jadi si pemilik yang merasa dirinya memiliki dan menjaga, benar-benar gamang, dimakan oleh kebingungannya. Dia juga geram, memaki sangat hebat. Tapi, tangis karena kehilangan, juga menjadi bagian dari dirinya,” terang Marijah. “Nama bunga itu Isabela, atau Bela, yang kadang kala dipanggil Isah, sama seperti saya, ijah. Tapi jangan sampai orang salah panggil, takutnya nanti ada yang salah mengira sebagai pencemaran nama baik.”
Marijah tertawa, memberi jeda pada ceritanya. Beberapa orang kian datang, dan gerobak kecil itu menjadi ramai. Markum mendengar pembicaraan mereka tidak jauh dari sana. Bonsai yang sudah kurus dan kering, dia bawa ke depan gang mencari tanah dari halaman yang kosong, yang entah dimiliki oleh siapa, namun tiap kali tanaman orang mati, tanah yang tidak berbeton tersebut berhasil menyelamatkan kehidupan mereka.
Beberapa pohon pisang tumbuh liar dan tidak terkendali, seperti pertumbuhan manusia yang kian memadati kota, namun tidak pernah memberi kelayakan apa pun pada buminya. Termasuk pisang itu yang tidak pernah berbonggol buah apa pun sepanjang tahun. Kadang, saat ada sedikit harapan yang muncul jantung pisang berwarna merah merekah dengan bunga-bunganya. Beberapa minggu kemudian, pohonnya justru membusuk seakan tidak sanggup menahan kehidupan baru dan beban di kepalanya. Tanggung jawab dalam memenuhi ekspektasi manusia, memang seberat itu, melebihi berat membawa buah baru pada batangnya.
Marijah dan kawan-kawan sejenisnya masih berkelakar hebat. Mereka membicarakan kehidupan orang lain laiknya manis buah yang dikecap dalam bibir, candu dan berair, di mana setiap tegukan dari sari itu, memberikan sensasi manis baru agar selalu menggigitnya. Nagih, begitulah orang menyebut kemanisan tersebut.
“Isabela itu anaknya Bu Janu, wanita beradap yang hanya adap itulah yang dimiliki, sebab dirinya tidak beruntung mengenai harta. Rumahnya, yang sudah sempat saya sebutkan tadi, ada di gang sebelah, yang tidak berwarna di kala semua rumah memiliki warnanya sendiri, terutama rumah yang ada di depannya, yang rimbun dengan bunga sedap malam. Tidak seperti rumah di sampingnya juga, yang memiliki puluhan burung merpati, atau sebelahnya lagi yang memiliki rentetan sepatu di terasnya. Sepatu-sepatu itu sangat menarik, selalu ditata berjajar sesuai warnanya di dalam rak yang terlihat jelas dari jalanan, atau memang sengaja dipamerkan bahkan ketika tidak ada yang benar-benar melihatnya. Tapi saya suka melihatnya, mungkin karena mata ini suka sekali diindahkan dengan kekayaan.”
Benar, kadang kala sepatu menjadi bentuk dari penampilan seseorang yang bisa menonjolkan kekayaannya. Begitulah batin Markum, yang meski asyik dengan tanah, telinganya pun menyimak tentang itu. Dia tidak budek, seperti yang dikata orang. Tapi “hah, heh, hoh” yang kerap terlontar saat dirinya ditanyai, semata karena sikap ingin melarikan diri dari argumentasi yang pelik.
“Tapi, ini bukan kisah tentang keberkahan mereka. Bagaimana pun, sesekali manusia bisa saja tidak beruntung, tapi Isabela tetap istimewa. Padahal orang tuanya tidak memiliki apa pun, namun dia didandani bak tuan putri. Dia tidak boleh memiliki cacat. Sepatunya selalu baru, pakaiannya selalu berwarna dan aromanya lebih tajam dari bunga sedap malam. Menggiurkan, manis dan menawan. Manusia mana pun, mungkin meliriknya dengan niat tajam, antara ingin menyayangi atau ingin melukai.”
Marijah menghela napas, tangannya sedang sibuk memasukkan sayur mayur yang dipilih wanita lain yang bergerombol. Tangan mereka mungkin tampak sibuk memiliki kebutuhannya, namun tidak pernah tidak memasang pendengaran tajam pada cerita itu.
“Lalu Mbak Ijah, sepertinya belum menuju intinya, ya?” celetuk salah seorang, yang tidak seperti wanita lain, dia dengan khusuk mendengarkan cerita itu, mungkin kehadirannya kali ini memang hanya ingin mendengarkan dongeng di siang hari. Sebab tangannya, tidak menyentuh satu pun sayur mayur segar di depannya.
“Oh, sampai mana saya tadi?” Ijah terkaget-kaget, dia kemudian melanjutkan setelah berhenti menghitung. Tangannya bergerak lambat sembari menata sayur yang berserakan tidak tahu arah.
Dia dengan sabar merapikan kembali apa yang orang lain angkat dan letakan di tempat berbeda, lalu mengulanginya, persis seperti cerita yang sudah dia ulangi berkali-kali ketika menghentikan gerobak di setiap gang.
“Sayangnya, daripada orang yang menyayangi, Isabela menerima lebih banyak orang yang menyakiti. Biasanya, setelah banyak menerima ketidakmujuran, akan ada setidaknya satu keberuntungan yang didapat. Tapi satu-satunya keberuntungan itu, membuat semua kesialannya jadi tidak terlihat dan itulah yang menimbulkan kecemburuan, seakan hidupnya benar-benar mujur. Bella yang asilnya cantik sekali, berbudi baik karena lahir dari orang tua yang baik, mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan penghasilan yang layak. Saya tidak sampai tahu sebesar apa, tapi pasti itu lebih besar dari rumah yang memiliki puluhan sepatu di terasnya.”
Marijah menghela napas. Ceritanya tidak menggebu-gebu seperti kebanyakan orang yang bergosip, sedikit lembut dan berirama, seakan sedang menarik orang untuk datang. Mungkin begitu caranya mempertahankan orang lain untuk tetap di sana, tanpa menggunakan kata-kata persuasif, karena dirinya sendiri sudah sangat membujuk. Juga Markum yang tidak melepaskan telinganya sedetik pun. Tangannya memang tampak grasah-grusuh mengais tanah, namun perhatiannya sudah lama berpaling. Sedikit demi sedikit, pantatnya mencoba condong untuk mendekati gerobak.
“Ayolah dek, mendekat saja dari pada menguping di sana?” begitulah wanita berambut panjang yang ikal dan terkuncir bak ekor kuda memperhatikannya. Ia menangkap jelas gelagat Markum yang sama penasarannya dengan mereka.
Orang-orang yang semula memperhatikan Ijah, jadi menoleh bersama-sama dengan mengayunkan tangan tanda untuk mengajak. Markum pun dengan senang hati mengiyakan, dan melepas bonsainya yang lemas di bawah pohon pisang. Sekiranya, pohon kecil itu bisa lebih teduh jika dicampurkan dengan pohon lain yang lebih besar.
Ah, tentang rumah yang selalu memiliki ciri khas, Markum jadi ingat, bahwa bilik tempat dia tinggal pun, juga demikian khususnya, sehingga mudah sekali di kenali dengan sebutan rumah pemilik bonsai kering, meskipun kata kering tidak pernah dimasukkan ketika orang-orang menyebutnya. Yang paling menohok, ada pula sebutan bonsai cumi kering, lantaran tangkai yang berjumlah 10 panjang pendek itu, lebih tampak seperti cumi-cumi sehabis di jemur di tengah perairan dangkal.
“Jadi Isabela yang bagai putri itu, dibenci oleh banyak orang?” wanita berbaju merah muda dengan anting yang berkilat-kilat ingin segera menyambung ceritanya, seiring dengan tangannya yang cepat memasukkan wortel dan mentimun dalam daftar belanjaan, termasuk juga jinten, merica dan cuka yang didaftar belakangan.
“Tidak seekstrem itu, tapi mulut orang kadang lebih tajam dari pisau, dan kata-katanya lebih menyakitkan dari luka berdarah-darah. Perih sekali saya mendengarnya, saat orang yang katanya melihat sendiri dengan dua bola mata yang indah itu, karena berwarna sangat coklat dibanding mata lain, bahwa Bella keluar masuk hotel yang berkaca seribu dan berkilau sekali, bersama laki-laki.”
“Astaga ...”
“Benar kan, buk. Jahat sekali kata-katanya,” Ijah menimpali. “Tapi tidak berhenti sampai sana saja, ada lagi yang menambahkan bahwa laki-lakinya sedikit gemuk dengan perut yang menonjol ke depan dan berjenggot.”
“Wahhh ...” orang-orang serempak terkejut dengan pernyataan itu.