22:37:02
“Isabela?” gumam Markum dalam bilik yang kecil di malam hari.
Kali ini tidaklah gelap, dan apa yang di sekitarnya tampak terang. Tiada baginya yang perlu ditutup-tutupi. Bahkan mata yang menempel di tembok, telah diterangi dengan cahaya. Gemerlap kehidupan telah menyinarinya, dan kegelapan yang menerawang jauh ke hati, perlahan memudar. Meski dia telah ter ilhami, bahwa apa pun yang tidak ada di sana, tidak lantas terisi. Hidupnya masih sepi. Di bilik itu tidak ada siapa-siapa, kecuali nyamuk kecil yang berbunyi nyaring di telinganya.
“Jadi, namanya Isabela?”
Matanya menatap kembali langit-langit yang tidak ber-plafon, langsung ke permukaan genting dengan rangka yang masih berbahan kayu dan sedikit rona terbakar. Panas mungkin telah menggelapkannya, dan hujan mendinginkannya kemudian. Maka kedua hal itu bisa saja menghancurkannya suatu hari, lantas manusia mengganti rusuk-rusuk itu dengan material yang tidak akan lapuk, bahkan oleh bumi yang kian menua dan rentan. Material itu akan memenuhi ruangan yang kosong tersebut, dengan bunyi nyaring saat hujan mengetuknya. Pasti menyenangkan.
Gebrakan dari orang yang bernyali ciut kadang menggemparkan, dan belokan yang tajam bisa menyesatkan, namun mereka yang paling nekat di antara orang lain bisa saja berpikir begitu patriotik; seperti nasib bumi. Seperti bagaimana bumi ini, jika dipenuhi oleh benda-benda yang tidak akan hancur. Sementara pohon-pohon telah berhenti disemai. Kecuali jika bumi itu sendiri yang hancur, maka apa yang diciptakan manusia tidak akan hancur. Baik hal-hal berguna, maupun tidak. Tapi, rusuk rumah yang tidak akan usang, meski jaman menelannya; pasti akan sangat berguna.
Tapi, manusia tidak akan menciptakan sesuatu yang tidak bisa rusak. Lantaran, tidak ada jaminan bahwa mereka akan mencarinya lagi. Segala hal yang sempurna itu justru cacat, sebab ketiadaan untuk memperbaiki. Kesempurnaan akan menghilangkan kebutuhannya terhadap orang lain, sehingga orang-orang yang seharusnya dicari itu akan kehilangan peran. Maka muncullah persoalan baru, yang lebih pelik dan rumit. Markum tidak suka dengan hal-hal yang seperti ini, karena hidupnya sendiri tidaklah aman.
Orang-orang itu merasa pada ujung garis keputusasaan dan apabila tidak berbuat nekat, dirinya hanya akan menjadi biasa-biasa saja di antara orang yang biasa. Sayang sampai hari ini pun, tidak ada satupun gebrakan yang dipikirkan Markum, kecuali keinginan-keinginan untuk merangkai pelarian paling hebat sepanjang masa. Suatu yang tidak akan menyakitkannya, merugikannya, namun juga tidak memberatkannya, dan ketiga syarat itu harus komplit, di mana baginya tidak boleh sedikit pun ada kesalahan.
Di kala kepalanya melayang memikirkan berbagai rencana pelarian, Markum menemukan kesukaannya yang tidak terduga. Kematian yang datang itu tampak indah dan mencolok. Dia tidak akan rugi, karena dia tidak akan kehilangan apa pun dari kematian orang lain, kecuali kemanusiaannya. Tapi merencanakan kematian seseorang, sanggatlah menyusahkan, sekaligus berat. Dia harus punya tenaga untuk melawan, keberanian yang besar, kecerdasan untuk melarikan, dan segala tipu daya untuk terbebas dari kecurigaan, dan semuanya tidak dimiliki Markum kecuali kepuasan dalam melihat keindahan.
Markum yang terus memikirkan itu, mendengar bagaimana bayangan yang telah diam beberapa hari terakhir tersenyum lebar. Tapi dia tidak juga bersuara, seakan misinya berhasil, untuk menyatu dengan tubuh asli kendati dari awal mereka memanglah sama. Keduanya merupakan identitas yang sama, dan tidak terpisahkan. Tapi, sejak kapan dia muncul?
“Sejak Isabela mati,” Markum masih bergumam, berbicara dengan dirinya sendiri.
Ia mulai mengingat kembali bagaimana penampakan saat itu di mana seorang bisa begitu indah ketika tidak bernyawa. Bocah ini tidak bisa melepaskan diri dari pemandangan itu, bahwa memang kecantikannya tiada dua. Tapi tidak semua hal bisa dia ingat, sebab sesuatu yang lebih mencolok dapat mengacaukan perhatian orang lain.
Pada malam itu, bukan hanya Isabela yang dilihatnya, melainkan juga keluarnya seorang iblis dari neraka. Markum jelas mengenalinya, lantaran semua yang sejenis akan selalu melihat satu sama lain dengan perasaan akrab. Sayangnya, bocah itu memiliki jenis yang paling lemah dan tidak berdaya. Dia bahkan takut jika dilihat manusia. Maka Markum selalu menyimpannya jauh di dasar lubuk hati, agar tidak kurang ajar meminta untuk menampakkan diri.
Sisi itu yang mencegat dirinya agar tidak melewati garis yang sudah digambar. Seakan dirinya telah terkungkung dalam garis tersebut, tanpa bisa keluar maupun melangkah. Dirinya menyebutnya penjara, tapi bagi manusia lain justru garis itulah yang menyelamatkan dirinya untuk tidak menjadi bejat. Karena keragu-raguan dalam melangkah tersebut, Markum masih disebut sebagai manusia.
Ia mengingat gadis malaikat yang mengatainya preman sangar dengan muka lugu hanya tidak terawat. Tiba-tiba saja senyum geli terlepas dari dirinya, membayangkan upayanya agar bisa selamat dari batu besar berlumut – yang akan dilempar Sunia dengan tangan kecil itu.
“Ah, bukannya dia terlalu kejam?”
Semua orang memiliki hal seperti itu. Hal-hal yang kejam dan tidak berperi-kemanusiaan. Dan semua orang juga memilikinya, kebaikan yang tidak terlepaskan. Kadang kala, keduanya tersimpan jauh dari kesadaran. Sehingga tampak seperti ketidak-seimbangan, di mana terdapat manusia yang teramat baik, tapi juga ada yang teramat buruk. Dan gadis itu agaknya berbeda – setidaknya dari Markum, karena memiliki kebaikan yang begitu berani. Namun baginya, kebaikan itu tidak disadari, dan sekedar dianggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sebatas hal yang tidak terhindarkan dan wajar, lantaran mereka adalah manusia yang hidup bersama manusia lain.
Andai saja hari itu, Markum bertemu dengannya lebih dulu, maka malam yang panjang dan membutakan sebelum ini, tidak akan menyisakan cerita yang mencengkam. Dua wanita malang dengan gairah kemarahannya, tidak akan terkapar dalam kesakitan. Orang-orang tidak akan begitu gaduh membincangkan. Dan mungkin, ketidakadilan yang menimpa wanita mulia di malam itu, tidak berakhir mengenaskan begini. Serta bocah itu tidak akan beranggapan, bahwa yang dimiliki adalah keburukan semata. Dia akan ditulari perasaan putih, baik, dan bermoral, lalu hidup dengan hati yang lebih lapang. Lebih sempurna menurut versinya sendiri.
Jika saja Markum bertemu dengan gadis itu lebih dulu, kematian-kematian itu tidak akan datang bersama dengan bayangannya. Dan ia yang terlelap dalam bilik ini bersama perasaan damai. Tidak akan begitu terganggu dengan cahaya yang meneranginya. Tidak akan takut dengan dinding-dinding yang tampak memiliki mata, telinga, maupun mulut seolah mereka akan menyebarkan kepada semua orang bahwa laki-laki di bawah penerangan terebut adalah makhluk keji yang telah kesetanan.
Dia akan berjalan di bawah mentari tanpa menundukkan kepala. Berdiri dengan tegap. Berbicara begitu lantang. Serta berbuat hal baik dengan lebih bermoral. Perhatian pada orang lain. Dan menyimak kehidupan orang tanpa prasangka. Segalanya akan berjalan begitu selaras, andai saja Markum bertemu dengan gadis sebaik Sunia lebih dulu.
Hanya saja, mereka yang melewati siang, akan dihadapkan pada malam setelahnya. Mereka yang melihat purnama, akan bertemu dengan gerhana kemudian. Lantas bayangan pada garis itu, di mana bumi tidak memiliki penerangan alami apa pun, dan terjebak dalam kegelapan, kadang kala kembali membutakan manusia.
16:20:17
Pada hari itu, dia tiba-tiba digeruduk oleh pria-pria yang disebut sebagai pria sebenarnya dengan motor yang berbunyi nyaring dan keras. Orang-orang ini tampak asing, namun juga tidak. Mereka tidak dikenal, tapi bukan tidak dikenal sepenuhnya. Masyarakat menyebutnya, pembuat onar. Kecatatan. Pengganggu. Masalah. Sampah.
Beberapa saat terakhir, Markum memang merasa ada kehadiran lain di balik ketenangan bayangannya. Mereka bukan sesuatu yang memberi rasa mencekam, karena nyata. Mereka itu berwujud, dan kehadirannya bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga dia hanya diam, tanpa terburu-buru menyerbu kantor polisi, seperti tempo hari. Karena sebagian dirinya, tidak ingin dikatai usil lagi. Bahkan ketika sepedanya telah rusak, dengan di lempar ke bawah jembatan.
Markum melihatnya, bagaimana sepeda itu meluncur dan remuk. Debu-debu kering membuatnya menjadi lebih dramatis ketika roda depan tergelincir dari tempatnya begitu diangkat ke atas. Roda itu menggelinding, menuju sungai kering di depannya. Orang-orang yang melempat itu, lantas tertawa. Mereka terbahak-bahak sambil memandang sini ke arah Markum. Jauh dari atas sana, kentika kepala bocah itu terus berputar; apa yang membuatnya pantas diperlakukan begitu terinjak?
14:01:01
Lantas di hari berikutnya, dia tiba-tiba dicegat dengan beringas, dan menyuruhnya untuk berhenti saat cuaca yang begitu terik membuat kepalanya terbakar. Wajah pria-pria itu pun tampak merah padam. Separuh karena terbakar, mungkin separuh lagi karena amarah. Tapi amarah apa?
Ada rasa enggan di balik wajah Markum, tapi lagi-lagi nyali ciut itu membuatnya diam tanpa mengelak. Wajahnya menunduk bahkan tidak akan terangkat meski hanya 5 derajat lebih tinggi. Pria-pria itulah yang membuat kepalanya tidak akan terangkat. Seakan mereka sedang menunjukkan siapa penguasa sebenarnya daerah ini.
Markum bahkan tidak mengerti, dia sekalipun tidak pernah mengusik kekuasaan seseorang. Hidupnya begitu tenang dan damai, tanpa ada yang mengganggu atau diganggu. Dia pun tidak memangsa, dan lebih sering dimangsa, tapi perbuatan kali ini sudah di luat kewajaran, tidak seperti teman-teman sebayanya yang merundung dengan lucu dan unik. Penuh canda dan guyonan. Kali ini, ada perasaan merinding. Ada firasat bahwa nyawanya benar-benar telah diterkam. Maka sedikit gerakan saja, akan membuat lehernya melayang.
Dia seolah telah dikunci, karena hal yang tidak dipahami, sampai tahi lalat yang ada di lengan salah seorang pria itu terlihat. Detail kecil ini hanya bisa ditangkap Markum karena begitu khas dan unik, bahkan sampai dengan suaranya. Benar, suara itu, dia jelas bukan orang asing.
“Kamu mengenalku, bocah tengik?” gertaknya. Tangan bersedekap di depan dada, menantang. Satu kawannya berdiri di belakang Markum, dan satunya di samping pria itu. Mereka tidak dikenal, hanya satu yang berbicara yang dikenali.