UMBRA

Dina prayudha
Chapter #9

Bab 9

10:11:11

Markum mendekam dalam kamar kecil dan sebagian hidupnya memang ada di dalam ruangan itu, sampai kabar yang tidak ingin didengarnya, dibisikan melalui percakapan orang. Bayangan yang gelap di dalam kamar masih datang dan pergi, seakan peran yang dimainkannya belum selesai. Sandiwara yang dilakonkannya belum mencapai akhir. Dia senantiasa datang untuk membuat Markum mengingat sesuatu dan tidak akan pernah melupakannya. Lantas pergi lagi, apabila jiwa busuk yang berhasil dilekatkan, benar-benar telah merasuki.

Pembunuh Isabela masih berkeliaran. Mereka berenang dalam kegembiraan, lantaran tiada yang dapat mempersaksikan kebejatannya. Tidak ada yang menghukum. Tiada yang mencari. Mereka gagal ditemukan, dan tangisan-tangisan yang kian bergema seiring dengan kegagalan itu, dijadikan penghiburan yang pantas ditertawai.

Gosip yang beredar masih tajam. Kebenaran tentang kematiannya masih menjadi rahasia, seakan itu hal tabu untuk diungkap. Seperti akan ada petaka baru, apabila ada yang maju paling depan untuk mengungkapkannya. Bencana tidak terelakan. Lantas mereka berbicara di balik punggung, merangkai pembenaran baru yang jauh dari nyatanya. Sepenuhnya skenario tersebut, dijadikan pengganti, sambil menunggu lakon yang sebenarnya menarik tirai sandiwara. 

Dongeng pengganti ini, terdengar ngalur-ngidul. Tidak memiliki ujung, dan terus bercabang. Sehingga pohon rindang yang hidup ribuan tahun pun, kalah dengan cabang-cabangnya. Terlalu mengada-ada. Kendati demikian, cerita ngawur itu tetap diriwayatkan, kecuali Isabela bangun dari kubur untuk mengorek kebenarannya sendiri.

Polisi yang dilihatnya beberapa hari lalu – yang mengajarinya menghisab sebatang rokok tanpa terbatuk-batuk – merupakan penyelidik yang dikirim untuk memata-matai manusia di sekitar sana. Barangkali ada dendam yang tidak terbalas kepada Isabela sehingga kesalahannya berbuah pembunuhan. Tapi baik orang tua dan tetangga-tetangga itu menggeleng, seakan memang wanita yang malang tersebut tidak memiliki kesalahan apa pun sampai layak untuk diperlakukan dengan hina. Justru, merekalah yang memiliki andil dalam membuat kesalahan kepada wanita itu, karena sering memperoloknya dari balik punggung. Saking pengecutnya, bahkan di atas kematiannya pun obrolan ngawur yang menyakiti masih digembor-gemborkan seolah bara api yang disiram ke dalam minyak.

Konon, yang diriwayatkan oleh Marijah, yang katanya mendengar dari orang lain, di mana orang tersebut pun sebatas mendengar dari sesamanya, bahwa Isabela telah ditikam oleh istri dari laki-laki yang digelayutinya. Bahwa pembunuhan keji itu didasari atas cinta suci yang telah dihinakan. Ada pula riwayat yang lain di mana Isabela terlilit utang karena membiayai hidup laki-laki muda yang digandrunginya, namun karena merasa jera, dia berhenti dan laki-laki tersebut tidak terima atas itu. Keduanya lantas terlibat cekcok yang akhirnya merenggut nyawa. 

Ada cerita lain yang lebih menggemparkan, namun semuanya tidak mendekati kebenaran mana pun. Tidak ada jejak perselingkuhan dan tidak ada cekcok dengan laki-laki muda, bahkan hutang pun tidak ada. Hidup Isabela benar-benar sempurna, hanya nasibnya yang tidak demikian. 

“Mereka aneh sekali mengurusi hidup orang lain,” geram Markum di bawah bantalnya, sembari menggumam. Dan bau jamur mencuat dari sarung yang lama tidak dicuci, membuatnya terbatuk-batuk lagi. Dia lepeas sarung itu, lantas melemparkannya ke lantai. Membuang hal usang dan tidak berguna, jauh lebih praktis daripada merawatnya. Ia bahkan tidak tertarik untuk membersihkan apa pun di kamar itu, tak terkecuali isi di kepalanya.

Lagi pula wanita itu sudah mati.

Suara gaib tiba-tiba muncul membenahi kata-kata rancu Markum, seakan menyatakan bahwa orang mati boleh-boleh saja digunjingkan. Lagi pula, dia tidak akan bangkut dari kubur untuk menuntut keadilan.

“Jelas saja itu tidak benar,” Markum menyanggah.

Tidak ada sahutan setelah itu. Bilik kecil dan berdebu, kembali hening. Kata-kata tadi berubah menjadi percakapan buntu yang tidak memiliki lawan untuk diajak berdiskusi. 

“Dari mana saja, kamu Ajag?”

Dia masih terdiam. Tiada suara. Tiada jawaban. Dia tidak mengerti, mengapa suara yang selama ini mengganggu, menjadi lebih mengganggunya ketika tidak ada. Dia kadang berisik, tapi juga tidak ada menjadi terlalu sepi. Sesekali dalam ruang itu, mereka bisa berdebat hebat. Membicarakan hal-hal buruk sambil tertawa. Lolongan-lolongan jahat bisa sangat hidup, hanya dengan mereka bicarakan.

Tapi, entah Markum yang berubah, atau bayangan itu yang tengah bosan. Sikap tarik ulur darinya, membuat tidak nyaman. Ada rindu. Ada kehilangan yang tidak terucapkan. Seakan, pria itu tersadar, bahwa dia kian kembali ke hidup yang normal. Sampai akhirnya, bayangan tersebut kembali berucap, lantas hilang dalam cahaya yang hangat:.

Markum sudah jadi anak baik, ya?

“Anak baik?” Markum bertanya-tanya, tidak mengerti dengan perkataan itu. Tidak ada yang berubah darinya. Tidak ada kebaikan dalam dirinya. Dia masih manusia bejat yang menyukai keburukan. Dia masih suka penistaan. Dia masih abai, dan hidup dalam keegoisan. Tapi, baik katanya? Dari mana asal omong kosong itu?

Markum hanya bilang, bahwa tidak baik membicarakan orang yang tengah mati. Merangkai kebohongan untuknya, sekalipun dia tidak dapat bangun dari kubur. Pria itu tahu benar, mengenai kebenaran itu, sehingga tidak layak obrolan yang tidak sesuai, menggantikan kenyataannya. Tapi, sejak kapan dia tidak nyaman dengan ini?

“Apa aku benar-benar berbeda?”

Bayangan itu terdiam. Dia hilang. Lenyap. Maka setelah itu, segala bentuk kematian di sekitarnya juga pergi. Tidak ada kabar buruk yang menimpa orang lain. Bahwa setiap getaran yang diucapkan oleh teman sesatnya, benar terasa dirindukan. 

“Apa ya, yang sering dikatakannya?”

Suara yang menggema di telinganya semata, senantiasa mengomentar setiap perbuatan baik, dan mendukung perbuatan bejatnya. Namun di antara semua bujukan yang buruk, tidak ada satupun yang dilakukan Markum. Bayangan tersebut hanya berbicara, dan Markum mendengarkan. Tangan dan kakinya seakan diikat sehingga semua tipu daya itu gagal untuk direalisasikan. 

Markum tidak pernah memiliki nyali untuk berbuat hal yang mencolok, kendati di dalam kepala yang kecil di balik rambut bergerindil itu, ada begitu banyak rencana kejahatan disertai pelarian licik. Namun, jangankan dijalankan, ditulisnya dalam selembar kertas pun, dia enggan. Dia tidak ingin memiliki jejak bahwa di dalam dirinya juga memiliki keburukan. Entah, karena nyalinya yang ciut, atau ada rasa waswas lain bilamana suatu hari, semua rencananya tersebut gagal. Dan rasa waswas tersebut mengisyaratkan tentang fakta bahwa dirinya memang tidak memiliki nyali. 

Sisi kecil inilah sehingga bayangan hitam yang mengikutinya selama ini, tidak memangsanya bulat-bulat. Sampai suatu ketika, 3 preman buas memangsanya lebih dulu. Orang-orang itu, sudah menyergapnya beberapa kali. Mereka selalu bertanya, apa Markum mengingatnya. Tapi jawaban bocah itu, sekedar menggeleng. Dia tidak tahu. Dia tidak ingat. Atau sebagian dirinya, berharap bahwa dirinya tidak perlu ingat.

Lihat selengkapnya