UMBRA

Dina prayudha
Chapter #10

Bab 10

~ : ~ : ~

“Apa aku mati?” ujarnya, dan tidak mendapati siapa pun yang menjawab. 

Markum sendirian, dan di sepanjang jangkauan matanya tidak ada satu bayangan pun yang tampak. Dia berdiri di antara warna putih yang tidak cacat, baik lantai maupun dinding, semuanya murni, lebih bersih dibanding hatinya yang gelap. Adakah alam kematian sebegitu indah, sementara dirinya tidak layak diberkahi dengan kesucian ini?

Namun tampaknya, teka-teki alam setelah manusia hidup tersebut mati, tidak lantas terjawab. Dia berjalan dalam pijakan yang pasti, namun penuh kekhawatiran, bilamana pada langkah yang ke sekian kali itu, lantai tersebut tiba-tiba terbelah dan dijatuhkan lah dirinya ke dalam neraka panas, seperti halnya dirinya yang telah terbakar akan dosa-dosa. Maka sudah sepantasnya, jika harapan dari hal-hal yang datang dari kebaikan tersebut, mengkhianatinya, lantas meninggalkannya dalam ganjaran yang buruk. 

Sejatinya, Markum hanya menuai, karena bibit yang sudah ditanam tidak dapat disirami menjadi lebih buruk lagi. Dia masih ada di dalam koridor putih, degan jendela tinggi yang membiarkan cahaya terang memasukinya. Angin sepoi mengembuskan gorden berongga yang tersibak di antara jendela-jendela tersebut. Udara itu begitu sejuk dan dingin, hingga membuat orang ingin tertidur. Ia memberikan rasa kenyamanan dan ketenangan, dengan cahaya yang tidak tajam dan ringan, dan perpaduan harmoni udara yang menyenangkan badan. 

Tidak ada hawa panas, ataupun rasa sakit yang dideritanya, sesaat sebelum akhirnya dia ada di sini. “Sepertinya aku memang sudah mati.”

Begitulah keyakinan Markum yang sudah tidak dapat dibantah lagi, tatkala semua bukti yang membuatnya tidak lagi berpijak di bumi telah terpenuhi. Lantaran tidak ada alam yang panas akan perbuatan bejat, memiliki udara yang sedemikian hingga tenangnya. Arus angin sepoi tidak akan membawa kesejukan yang dingin dan tidak menyiksa begini. Sementara di bumi hanya ada kepanikan dari hiruk pikuk manusia yang begitu serakah memiliki semuanya untuk diri mereka sendiri. 

Pohon-pohon telah lama ditebang, dan apa yang ada di atas tanah hanya barang peninggalan, yang dititipkan tuhan kepada manusia, untuk dirawat, dijaga dan dilestarikan. Namun manusia itu sendiri banyak ingkarnya, mereka menyangkal bahwa telah merusak. Bahwa apa yang sudah rusak itu memang sepantasnya, sementara tangan-tangan usil mereka terus membabat habis keindahan yang riwayatkan sejak dahulu kala, di mana para Nabi masih hidup dan bernafas atas perintah Tuhan.

Apalah arti mati dan hidup itu? Manusia lain mengartikannya dengan segala hasrat yang terkandung di dalam raganya telah sirna, yang mana dia tidak lagi mampu mengupayakan cikal-bakal dan cita-citanya menjadi lebih layak untuk diagung-agung. Dia sudah gagal sebab waktunya telah selesai. Dunia ini memang masih berjalan, kecuali semua yang ada pada dirinya, telah sampai pada pemberhentian. Lantas bagaimanakah rasanya mati itu?

Tiada yang tahu. Tiada dari mereka yang kembali hidup dan menceritakan bagaimana indra mereka bekerja dalam kematian. Yang mereka tahu bahwa segalanya tampak tumpul, baik ingatan, rasa, pedih dan hati, sementara yang diingat saat mereka kembali hidup, adalah tidak ada. Orang-orang itu selalu punya sesuatu untuk dibawa kembali, tapi manusia selalu melupakannya. Manusia selalu menyia-nyiakannya bagaimana Sang Pencipta memberikan kesempatan kedua untuk memulai pertobatan. Mungkin dunia yang begitu fana itu lebih memikat, dibanding kehidupan setelahnya. Lalu sekali lagi, dia terpontang-panting di dalam kesesatan yang sama sejak sebelum dia mati untuk kali pertama.

“Apa aku benar-benar sudah mati?” tanya Markum lagi, yang kesekian kalinya. 

Tiada tanda-tanda jawaban, dan sampai akhir pemuda itu akan terus menanyakannya, bahkan ketika matanya terbuka, dan segala yang putih tersebut lenyap, menjadi butir-butir debu yang akan terlupakan nanti. Pemuda itu tidak akan mengingat apa pun perjalanannya di sini, bagaimana dia menghadapi warna putih yang begitu terang, cahaya cerah yang menghanyutkan serta angin sepoinya, termasuk bayangan gelap yang berpamitan. Mereka hanyalah kehadiran sesaat, yang tidak begitu berarti karena sejatinya manusia tidak mengingat apa pun yang tidak dibutuhkannya. Namun, Markum akan selalu tahu bahwa di balik setiap perubahan hidupnya, ada sesuatu yang mencengangkan, yang memberinya banyak ketegangan termasuk nasehat-nasehat baik, dan beberapa pengalaman yang cukup untuk membuatnya mati. Tapi, dia selamat, melalui banyak upaya.


10:11:02

Saat terbangun, dia melihat Maryam dan butuh 10 menit lamanya untuk kembali menerka-nerka, di mana dirinya sekarang. Ada lampu yang menyala tepat di sudut matanya, sekiranya condong 45 derajar ke arah selatan. Ada tirai yang tertutup, berwarna putih gading, serta kipas angin tepat di atas kepalanya, membuat rumbai tirai itu beterbangan. 

“Sepertinya, aku pernah melihat ini?”

“Kamu sempat sadar tadi, namun tertidur lagi,” sahut Maryam, menimpali omongan ngelantur dari pasien sekarat tersebut. “Aku pikir, kau sudah mati.”

“Saya pun demikian pikirnya. Tapi ternyata masih hidup. Sangat disayangkan.”

“Syukurlah, bocah usil. Itu jawaban yang tepat jika ingin memberi tanggapan untuk peristiwa ini.”

Lihat selengkapnya