Kala itu hujan jatuh di bibir malam kota Tasikmalaya.
Dari dalam bangunan tua lelaki paruh baya sesekali melemparkan pandanganya yang sedikit buram pada aspal yang kian basah.
Pemuda yang tengah bersamanya mendengarkan lelaki itu menuturkan kisah pribadinya dengan mata yang binar penuh antusias.
Fragmen 1 — Batas yang Sama
Di sini, kebencian bisa tumbuh lebih cepat daripada tumbuhnya padi. Ia merambat lewat bisik-bisik, lewat batas tanah yang bergeser sejengkal, lewat air sawah yang tak pernah mengalir ke tempat yang tepat.
Sejak kecil saya percaya bahwa setiap kebencian selalu meninggalkan bayangan, dan mungkin dari bayangan inilah kisah ini dimulai.
Batas tanah di sawah kami hanya dipisahkan parit selebar betis, tapi entah kenapa rasa benci dua keluarga kami terasa selebar langit. Kadang saya berpikir: mungkin parit itu tidak hanya memisahkan sawah, tapi juga memisahkan nasib.
Sejak SD, ada banyak pertanyaan yang menetap di kepala saya—pertanyaan yang terasa seperti bisikan dari sudut gelap pikiran sendiri. Terutama soal agama. Namun jawaban para ulama, ustadz dan guru agama sering berhenti di kalimat yang sama: wallāhu a‘lam. Sebuah titik akhir yang tidak menjelaskan apa pun, justru meninggalkan ruang kosong yang makin menganga.
Di kampung saya, jawaban itu tak beda jauh dengan pamali—larangan yang tidak diberi alasan. Di titik itu, batas antara agama dan adat mulai kabur, dan saya tumbuh dalam ruang ini, ruang yang penuh dengan tanda tanya.
Belakangan saya paham, kebingungan itu hadir karena keadaan memaksa saya untuk berhenti bertanya. Sejak kecil, ingatan saya membelenggu saya dalam keadaan bahwa jika saya bertanya, saya akan dianggap melawan dan saat saya diam akan dianggap mengerti, bahkan pada hal yang sebenarnya tidak saya mengerti.
Saat MTs, pertanyaan-pertanyaan itu bercampur dengan sesuatu yang lebih lembut tapi tak kalah membingungkan; cinta. Namanya Heni Kirana, anak Pak KADES, gadis yang aromanya sedikit seperti bawang putih, tapi bukan. Ah, aromanya khas pokoknya. Entah kenapa, bagi saya itu justru membuatnya unik dan selalu saya ingat.
Orang bilang itu cinta monyet, tapi bagi saya rasanya seperti sesuatu yang ditakdirkan untuk berlawanan dengan banyak hal. Jadi ini cinta monyet yang gak monyet-monyet amat.
Di usia segitu, saya sudah mewarisi kebencian yang turun dari generasi sebelumnya, racun kecil yang seharusnya membuat saya menjauh dari keluarga Heni. Tapi anehnya, racun itu tidak bekerja pada saya. Mungkin karena hati punya cara sendiri untuk mendapatkan penawarnya.
Ayah Heni dinarasikan seorang yang serakah, konon setelah menjabat jadi kepala desa, beliau jadi hidup semena-mena. Selain itu beliau berpoligami, sementara bagi banyak orang poligami itu hal yang tabu dan tidak baik, padahal katanya diperbolehkan dalam ajaran Islam.