Gelas kaca yang mengeluarkan aroma khas rempah-rempah nusantara; jahe, kapolaga, kembang pekak, kayu manis dengan seduhan susu krim yang masih panas persis di hadapannya. sejenak ingatannya melayang jauh ke masa itu. Masa dimana sang hidup menyeretnya ke dalam kegelapan.
Suara pemuda yang sedari tadi hanyut dalam cerita membuyarkan nostalgia sesaatnya.
"Lalu bagaimana kisah selanjutnya?"
"Ah, iya..." Lelaki itu tersadar, tetapi tidak langsung bercerita. Rokok kretek ia sulut, asapnya perlahan melayang kemudian samar menghilang.
Fragmen 2 Gerimis dan Nyala Api
Permasalahan sejengkal tanah, permasalahan usia, agama, latar budaya yang berbeda cukup memenuhi pikiran dan mempengaruhi saya. Saat Hubungan saya dengan Heni menggantung, kemudian hubungan yang membingungkan dengan Suri yang akhirnya berpisah, sosok lain menghampiri saya.
Heni Kirana tidak mungkin saya lupakan. Kebingungan dengan Suri pun demikian. Walaupun Suri tidak semelekat Heni, tapi ia adalah salah satu sosok yang membuka gerbang spiritual saya yang lain. Namun kini ada nama lain yang membelah masa remaja saya seperti cahaya yang jatuh pada kaca dan memantulkan bayangan baru yang bias.
Karakter perempuan ini berbeda jauh dari Heni. Bukan sekadar berbeda, tetapi seperti dua musim yang tidak pernah berada dalam satu langit. Heni ibarat gerimis di pagi hari, sementara Bunga bak nyala api kecil yang hangat sedikit liar, dan memikat dengan cara yang sulit dijelaskan. Ya, namanya Bunga. Saya pikir ia Bunga mawar. Indah tapi berduri.
Bunga berani. Bahkan seringkali terlalu berani, kadang saat ia berambisi, terkesan tidak peduli pada apa pun selain ambisinya itu. Banyak hal ia anggap remeh. Ia bisa nakal dan bisa kasar. Pernah suatu kali ia marah kepada orang tuanya sendiri, ia tak ragu melemparkan kata-kata yang tajam, bahkan menyebut nama orang tuanya langsung saat memanggil, tanpa menggunakan kata ayah atau ibu, atau selayaknya anak pada orang tua. Tapi entah kenapa, di balik kerasnya itu saya melihat sesuatu yang rapuh, seperti kaca yang tampak kokoh padahal sedikit sentuhan saja itu bisa membuatnya hancur.
Heni tidak begitu. Heni lembut, perasa, dan jarang sekali membantah, apalagi sama orang tua, meskipun itu tidak sejalan dengan pikirannya. Kalau Bunga berjalan seperti angin yang menerpa dedaunan kering, Heni hadir seperti air jernih yang tenang, dan selalu tampak menyegarkan.
Di luar sekolah, Bunga jarang memakai kerudung. Rambutnya sepundak agak pirang, kulitnya putih, matanya sayu dan bibirnya merah alami. Bahkan di usia yang masih remaja, dadanya terlihat besar, saya kira bagian itu berkembang lebih cepat jika dibanding dengan teman-teman sebayanya. Bunga adalah sesuatu yang membuat saya kebingungan dengan perasaan saya sendiri, bahkan di saat saya belum sepenuhnya dapat melupakan Heni.
Bunga dan Heni memang satu sekolah, hanya beda kelas. Dan pada akhirnya, Heni tahu bahwa saya berpacaran dengan Bunga. Sejak itu kami semakin jauh. Pernah dekat lagi ketika hubungan saya dengan Bunga berakhir. Tapi sementara kita simpan dulu kisah tersebut.
Bunga punya sahabat dekat bernama Citra. Sementara saya punya sahabat bernama Hendri Efendi, orang yang pada akhirnya menjadi partner saya. Lama-lama, karena Hendri menyukai Citra, akhirnya kami sering terlibat dalam perjalanan yang sama. Kadang saya menemani Hendri ke rumah Citra, kadang Hendri menemani saya ke rumah Bunga. Kadang kami kumpul berempat.
Seringnya saya dan Hendri hanya berjalan kaki untuk menemui Bunga maupun Citra, walau tempat mereka agak jauh dari kampung kami. Pada masa itu memang kami akui kalau kami kere, tapi justru di situlah asyiknya. Sesekali kami sewa motor mang Ii, ojek yang biasa mangkal di pangkalan kampung kami, itu pun kalau pas kami lagi punya uang yang sebetulnya kami dapat dengan perjuangan kami, rela gak jajan berhari-hari. Entah kenapa, semua hal yang sederhana itu jika dipikir justru menjadi bagian hidup yang benar-benar terasa hidup.