Kini asbak kaca itu penuh dengan puntung kretek. Di atas meja mereka piring dan mangkok kosong serta beberapa gelas yang isinya sudah tinggal separuh mereka pegang. Anak muda itu masih asyik menyimak kisah yang disuguhkan lelaki paruh baya di kedai tua milik abah Iwan yang juga tua. Sang Lelaki dengan tatapan menerawang langi-langit kedai melanjutkan kembali kisahnya.
Fragmen 3 Latihan Menjadi Bodoh
Selama saya berjalan dengan Bunga, rupanya ada mata yang terus mengikuti, ada telinga yang selalu menguping. Heni dan teman-temannya, Miati, Atat dan Rostati, rupanya memperhatikan dari jauh.
Bahasanya apa ya... Kepo?
Mungkin mereka tidak percaya dengan hubungan kami.
Saya bisa menebak isi pikiran mereka.
Bagaimana mungkin saya yang mereka kenal lugu, pendiam bisa dekat dengan Bunga yang dianggap nakal. Dua dunia yang tidak mungkin bisa bertemu, tapi nyatanya justru bertemu di tempat yang paling rawan, masa remaja.
Meski hubungan saya dengan bunga hancur, saya tidak kembali lagi pada Heni, tidak juga bermusuhan. Kami masih tetap mengaji di masjid yang sama, kadang mendatangi jembatan kenangan tempo hari, hanya saja dengan jarak emosional yang semakin tidk bisa dipetakan. Sekilas, semua tampak normal, padahal bayangan diantara kami semakin pekat.
Tidak lama setelah kekacauan antara saya, Bunga dan Willy itu reda, Bodér (adik kelas saya) datang membawa sepucuk surat. Ia menyerahkannya sambil nyengir. Ngapain juga dia nyengir? Rupanya emang bawaan si Bodér ini agak bodor.
Surat dari seorang perempuan, anak SMP 1, kebetulan satu sekolah dengan Heni dan Bunga. Namanya Tari Sutantri.
Pada masa itu, ditaksir seseorang lagi terasa seperti berhadapan dengan sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka, mengarah ke ruang yang belum pernah saya masuki. Masalahnya pintu itu terbuka saat pintu ruangan lain belum benar-benar saya tutup. Lagian, kenapa juga harus satu sekolahan sama Heni dan Bunga? Kenapa tidak dari sekolah saya saja? Kan ada banyak juga perempuan di sekolah saya; ada Leni, Nuri, Iis atau Ratna. Mereka cantik-cantik juga. Kenapa harus orang baru dari sekolah lain?
Sejujurnya saya tidak kenal Tari, Tidak tahu wajahnya seperti apa, rumahnya di mana, bahkan namanya pun baru saya dengar. Kata si Bodér sih Tari itu cantik, anak guru SD di dekat Kecamatan. Saya hanya bisa mendengar kisah singkatnya saja dari Bodér.
Surat yang dibawa Bodér langsung saya baca di hadapannya.
"Teruntuk Bara,
Aku sebenarnya malu nulis ini, tapi akhir-akhir ini aku sering banget kepikiran kamu. Setiap lihat kamu, rasanya dada aku degdegan sendiri.
Aku suka ingat senyummu, caramu ngomong bareng teman² mu, gaya jalan kamu, dan emmm, banyak deh. Hal² sederhana itu bisa bikin hariku jadi berbunga² Bara!
Aku nggak berharap apa² Cuma ingin kamu tahu aja kalau kamu itu berarti buatku, meski mungkin kamu nggak sadar aku sering memperhatikanmu.