Ahad, 20 Juli 2003
Besok aku resmi duduk di bangku SMA.
Aku harap ada cerita yang berbeda
Dengan pakaian yang berbeda.
Tapi aku tidak yakin.
Karena diantara batas sawah bersama Heni,
Aku belajar bahwa kedekatan bisa menjadi
Sumbu sebuah konflik.
Kini kami berdiri berjauhan
Tak tahu ke mana kaki harus melangkah
Lantas di atas jembatan kecil menuju Kampung Naga,
Suri mengajarkanku bahwa pelukan
Merupakan sebuah cara
Menunjukkan kasih sayang
daripada kata-kata belaka
Ada ketakutan sekaligus keberanian
Saat bibirku bertemu bibir
Bunga yang merekah serupa kembang.
Menantang waktu
yang tidak menentu
Melani dan gitar kopong
di bumi perkemahan Pasir kincir
Menyanyikan romansa
Yang hanya buaian angan
Dan peristiwa saat aku dipukuli
Karena sebuah pengakuan
Perempuan asing
Dari sana aku belajar,
Cinta bukan cuma rasa,
tapi juga sebuah kata
Yang bisa disalahgunakan.
Aku lelah...
Tapi mungkin lelah adalah cara Tuhan
Membuatku berhenti sejenak
Bertanya:
Apa sebenarnya yang aku cari.
— dhaum
Fragmen 4. Kertas Kosong
SMANESPA—SMA Negeri 1 Singaparna—adalah sekolah keren. Sekolah favorit. Halamannya luas, tanahnya lapang, dengan lapangan sepak bola di tengah, lapangan voli dan basket di sisi lain. Di bagian belakang, menempel pada dinding pembatas yang tidak terlalu tinggi, berdiri tiga kantin yang selalu ramai sejak pagi. Tempat gosip lahir, cinta tumbuh, dan persekutuan kecil terbentuk.
Sebagian besar muridnya anak orang penting, anak bos, atau keluarga yang dianggap “punya nama”. Sebagian mereka tidak mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) katanya, saya pun tidak. Alasannya itu tidak akan berpengaruh terhadap diterima atau tidaknya Saya di sekolah tersebut. Biasanya cuma berisi penggojlokan sebagai ajang balas dendam oleh senior pada junior karena dulu mereka pun digojlok juga oleh senior mereka saat MOS.
Caturwulan pertama berjalan mulus. Saya masuk sepuluh besar, peringkat lima tepatnya. Tidak seperti saat MTs, kaki ini saya tidak ikut OSIS, tidak ikut PRAMUKA, tidak ikut ekstrakurikuler apa pun. Saya hanya pelajar biasa yang sesekali menyetor gambar atau sajak ke mading. Lantaran kebiasaan itu pun saya terus-terusan ditawari eskul seni rupa juga seni sastra. Tapi tetap saja saya tidak tertarik.
Saat PORAK, kelas kami menang lomba dekorasi. Mural yang menghiasi dinding kelas adalah gagasan saya, saya sendiri yang mengeksekusinya dibantu teman-teman lain. Semua terasa baik-baik saja. Sampai siang itu datang. Acara PORAK masih berlangsung ketika saya duduk di kelas bersama beberapa teman perempuan yang sedang asyik ngerumpi di pojokan. Seseorang muncul dari balik pintu.
“Adakah yang namanya Bara di sini?”
Saya mengangkat tangan.
Sesat kemudian beberapa anak kelas tiga IPS masuk. Badan mereka besar-besar. Beberapa terkenal suka ribut. Salah satunya langsung memukul saya. Keras. Kepalan tangan itu mendarat tepat pada bibir atas kiri saya, sedikit mengenai ujung hidung. Ada rasa panas, lalu perih. Bibir saya robek. Gusi berdarah. Satu gigi goyah. Hidung saya rasanya dingin. Air mata yang tertahan oleh kelopak mata mengisyaratkan rasa sakit sekaligus bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Saya dipegangi. Dipukuli bergantian. Entah oleh berapa orang. Tubuh saya seperti kehilangan kendali. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah meludahi wajah orang yang memukul saya. Saya terdorong ke kursi kayu. Hampir jatuh, tetapi kemudian Saya berdiri.
“Kalau berani, satu lawan satu!” teriak saya. “Apa salah saya?!”
kelas sejenak terasa hening. Tidak ada jawaban, hanya tangan lawan yang tadi mengepal kini mencengkeram kerah saya. Setelah ia menyusut ludah dari mukanya.
“Kamu jangan sok-sokan!”
“Sok apa? Kalau jelas masalahnya, siapa pun yang merasa punya soal sama saya, ayo satu lawan satu kalau berani!”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar kelas.
“Udah, udah! Ada guru!”
Mendengar teriakan itu akhinya mereka bubar berlarian entah pada kemana. Padahal sebenarnya tidak ada guru. Teriakan Itu rupanya cuma akal-akalan anak-anak perempuan sekelas yang panik melihat saya dikeroyok. Sri, Elsa, Diana, Siti dan beberapa teman lain. Tetapi walau bagaimanapun berkat mereka, saya selamat. Setidaknya untuk Saat itu.
Teriakan itu masih terngiang di telinga, bahkan tatapan mereka rasanya masih tergambar dalam benak saya. Karena Saya merasa tidak aman, kebiasaan MTs saya kambuh, saya kabur loncat benteng sekolah, segera pulang dengan kepala dipenuhi pertanyaan atas kejadian ini.
Senin pagi setelah upacara, Seorang guru mengumumkan bahwa saya dan semua anak laki-laki kelas 3 IPS 2 Jangan langsung masuk kelas. Saya didekati guru olah raga, sementara para Siswa kelas 3 IPS 2 Semuanya dibariskan di lapangan. Di bawah matahari yang semakin menyengat.
Saya disuruh menunjuk siapa saja yang terlibat pengeroyokan yang dilakukan pada saya. Setelah Saya lihat mereka, saya mulai menunjuk satu per satu. Orang yang Saya ingat pada saat kejadian pengeroyokan Sabtu kemarin.
Salah satu dari mereka gelagapan, berusaha meyakinkan bahwa dia tidak ikut memukuli saya. Tapi saya tetap menunjuknya. Walau tidak memukul, dia ada di sana. Saya pikir walaupun dia diam saja, tetapi dia berada di sana sebagai bagian dari pelaku pengeroyokan. Akhirnya mereka yang Saya tunjuk sebelumnya dijemur sampai adzan zuhur terdengar dari masjid Sekolah.