Setelah kesibukan hari itu
Setelah sport jantung karena kabar dari Lucky, setelah keesokan harinya saya benar-benar telat mengirimkan karya untuk dikurasi di tingkat kabupaten, juga setelah capek membereskan rumah dan menanak nasi dengan lauk ikan bakar hasil jaring saya sendiri untuk Babeh, Mama, dan kakak saya saat mereka pulang, sore hari akhirnya saya tertidur pulas. Begitu pulas sampai tidak ingat apa-apa lagi di alam raya ini.
Fragmen 5 Tanpa Rencana
“Ra… Ara… bangun!”
Kakak saya, Githa, mencoba membangunkan saya sambil menggoyang-goyangkan lengan saya. Saya masih sangat mengantuk. Tubuh terasa berat, roh rasanya belum benar-benar kembali seluruhnya dalam jasad ini. Saya baru benar-benar membuka mata ketika Teh Githa berkata bahwa ada guru saya di ruang tamu. Saya langsung bangun. Tanpa banyak bicara saya menuju kamar mandi, mencuci muka sebentar, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk sebelum keluar menemui tamu yang Teh Githa ceritakan. Dalam pikiran saya, itu pasti Bu Niknok, datang karena ulah saya yang sering bolos di pelajarannya.
Teh Githa menuju dapur untuk mengambil teh hangat dan beberapa camilan untuk disuguhkan. Sementara itu saya berjalan ke depan, langsung menuju ruang tamu. Di sana rupanya ibu saya sedang menemani sang guru mengobrol. Sesekali saya mendengar nama saya disebut. Nama Bu Wise juga ikut terdengar di sela percakapan mereka.
Ternyata yang datang bukan Bu Niknok, melainkan Bu Euis, guru yang kebetulan tinggal di kecamatan yang sama dengan kami. Saya segera menyalami Bu Euis dengan perasaan yang masih campur aduk, bingung sekaligus sedikit takut. Pasalnya, di pelajaran Bu Euis pun, Bahasa Inggris, saya masih punya tugas yang belum rampung. Tapi biarlah. Apa pun k enyataan yang beliau bawa, saya akan menghadapinya.
Saya kemudian duduk tepat di hadapan Bu Euis, sambil mencoba menenangkan diri. Percakapan ibu dengan Bu Euis yang tadi sempat terhenti kembali mengalir ketika Teh Githa datang membawa teh hangat dan camilan. Nampan masih ia pegang saat meletakkannya di meja, lalu ia duduk di sebelah saya. Kehadirannya justru membuat perasaan saya semakin tidak karuan.
“Silakan diminum, Bu,” kata ibu saya mempersilakan.
Kakak saya menambahkan dengan sopan, “Mohon maaf, di sini tidak ada apa-apa.”
“Wah, ini sudah lebih dari cukup bu, tidak usah repot-repot.”
Kemudian Bu Euis meminum teh itu, lalu menoleh ke arah saya sebentar. Dalam kondisi sedikit menunduk, bola matanya melihat saya. Kacamatanya sejajar dengan garis kelopak bawah mata. Setelah meletakkan kembali gelasnya di atas meja, ia mulai menjelaskan maksud kedatangannya.
“Begini Bara, Ibu juga teteh, Saya ke sini sore-sore begini sebenarnya dimintai tolong oleh Bu Wise. Beliau wanti-wanti saya harus bertemu langsung dengan Bara dan menyampaikan pesan ini..."
Saya mengangguk pelan tidak berani menatap nu Euis langsung.
“Em… Bara, tadi siang kamu sekolah tidak?” Pertanyaan itu ia ajukan di depan orang tua dan kakak saya. Saya tidak mungkin berbohong. Memang saya juga tidak mau berbohong.
“Saya berangkat, Bu. Tapi saya kesiangan dan tidak diperkenankan masuk oleh satpam,” jawab saya.
“Nah, itu dia…” kata Bu Euis sambil tersenyum. Saya justru semakin heran. Kedatangannya membuat saya tegang sejak tadi, tapi sekarang ia malah tersenyum.
“Lukisan yang kamu titipkan ke satpam baru diberikan siang hari. Sementara itu, saat pagi tadi setelah menunggu cukup lama dan kamu tidak kunjung datang sampai pukul delapan lewat lima belas, akhirnya Bu Wise berangkat ke kabupaten untuk mengumpulkan karya teman-teman yang lain tanpa karyamu. Mungkin satpam yang kamu titipi lukisan sedang ke belakang saat Bu Wise berangkat.”
“Oh…” Baru saja saya bilang Oh, dan memang saya kebingungan mau berkata apa lagi, bu Euis kembali melanjutkan kalimatnya.
“Tapi walaupun karya kamu tidak sempat diketahui oleh pihak kurator di kabupaten, Bu Wise bersikeras bahwa kamu harus ikut berangkat ke Jatiluhur,” tambahnya.
Saya semakin heran.
“Jadi yang berangkat itu Bara saja, Bu?” tanya Teh Githa.
“Oh, enggak. Yang berangkat nanti lima orang terpilih. Nah, dari sepuluh kandidat kemarin sudah dipilih lima orang. Sebenarnya Bara tidak termasuk yang terpilih, karena karyanya tidak sempat dinilai. Jadi nanti yang berangkat ada enam orang; lima yang terpilih, ditambah Bara,” jelas Bu Euis.
“Jadi besok pukul lima pagi Bara sudah harus berada di sekolah, ya. Jangan kesiangan lagi seperti tadi. Ya, Bu, mohon diperhatikan,” kata Bu Euis sambil menatap saya, lalu sesekali menoleh ke arah kakak dan ibu saya.
“Sebentar, Bu. Teman-teman Bara yang lain tidak akan heran dengan keputusan ini?” sekali lagi kakak saya bertanya.
“Ah, soal itu pasti sudah diatur oleh Bu Wise. Saya sendiri hanya dimintai tolong untuk menyampaikan pesan ini saja, Teh, Bu. Begitu.”
Setelah menyampaikan pesan itu, Bu Euis kembali meraih gelas tehnya. Beliau meminumnya perlahan, lalu mencicipi sedikit camilan yang disuguhkan oleh Teh Githa.
"Silakan bu" ibu menyodorkan camilan ke dekat Bu Euis.
“Iya, Bu… terima kasih,” sambut bu Euis sambil tersenyum sopan kepada ibu saya.
Percakapan kemudian beralih ke hal-hal ringan. Ibu menanyakan kabar keluarga Bu Euis di kampung, sementara Teh Githa sesekali ikut menimpali. Saya sendiri lebih banyak diam, masih mencoba mencerna semua yang baru saja saya dengar.
Besok subuh saya harus berangkat ke sekolah.
Pukul lima pagi.
Setelah beberapa saat, Bu Euis meletakkan kembali gelasnya di atas meja.
“Baiklah, Bu, Teh… saya pamit dulu. Bara, pesan dari Bu Wise sudah sampai ya.”
Ibu saya segera berdiri, begitu juga Teh Githa. Saya ikut berdiri dan kembali menyalami Bu Euis.
“Hati-hati di jalan, Bu,” kata ibu saya.
“Iya, Bu. Terima kasih. Mari.”
Kami mengantarnya sampai ke depan rumah.
Surya mulai meredup, selimut malam mulai menutupi kampung dengan perlahan, diiringi harmoni suara jangkrik menjadikan suasana semakin tenang.
Setelah Bu Euis pergi, saayasegera masuk ke kamar dan mulai menyiapkan barang-barang yang harus dibawa besok pagi. Beberapa kuas, cat air, kain lap, serta kertas gambar saya susun rapi di dalam tas. Ibu masuk kamar sambil melipat beberapa potong pakaian.
Setelah semuanya selesai saya siapkan, dari dapur terdengar Babeh memanggil. Ia sudah duduk makan malam bersama kakak saya. Mungkin Teh Githa sudah menceritakan kepada Babeh bahwa besok pagi saya harus berangkat ke sekolah.
Saya pun ikut bergabung di meja makan, menikmati lauk ikan hasil tangkapan saya siang tadi. Setelahnya kami berbincang sebentar. Babaeh menceritakan gambaran kota Purwakarta, bendungan Jatiluhur kepada saya yang memang belum pernah ke sana. Setelah itu kami semua kembali ke kamar kami masing-masing.
Malam pun perlahan-lahan mengantarkan kami memejamkan mata.
***
Adzan subuh sudah berkumandang sejak tadi. Saya mandi, bersiap, lalu berjalan ke pinggir jalan menunggu angkot ditemani Ibu.
Sebelumnya, sapulang dari masjid Babeh membeli Surabi dan gorengan yang ditaruh di atas meja makan, saya sempat makan surabi buatan Bi Pioh yang cukup terkenal di kampung saya tersebut. Lumayan, sekalian sarapan supaya tidak masuk angin.
Singkat cerita, angkot jurusan Garut Tasik datang, saya berangkat ke Kudang dengan itu. Setelah turun dari angkot di Kudang, saya melanjutkan berjalan kaki menuju sekolah. Suasana masih pagi. Terlihat beberapa santri berjalan membawa kitab kuning. Beberapa orang ada yang berlari pagi dengan setelan olah raga.
Sesampainya di sekolah, teman-teman yang terpilih ternyata sudah berada di sana. Tiga orang laki-laki: Nizar, Dedik, dan Asep Budi yang biasa dipanggil AsBud, serta dua perempuan, Anna dan Cita sedang berkumpul sambil membuat sketsa-sketsa acak, saling menunjukan kebolehan.
Sebagian besar dari mereka orang baru bagi saya, kecuali Nizar dan Cita yang sempat saya kenal di perpustakaan sebelumnya. Saya juga sempat mendengar bahwa Anna adalah putri Bupati Tasik. Mengetahui itu saja sudah membuat saya merasa berada di lingkungan yang berbeda, terlalu megah dibanding saya yang hanya anak kampung.
Asep Budi, anak kelas dua yang wajahnya cukup familiar karena aktif di OSIS atau Paskibra, mendekati saya. Disusul oleh Dedik, Nizar, dan Cita.
“Halo, kamu siapa ya?” tanya Asep
“Eh… saya Bara,” jawab saya.
“Kamu di sini jam segini sedang apa?”
Pertanyaan itu seperti memojokkan saya.
“Eh… saya disuruh Bu Wise supaya datang,” jawab saya singkat.
Dalam hati saya, situasi ini terasa tidak nyaman, sumpah. Rasanya saya ingin pulang saja ke rumah. Saya merasa tidak layak berada bersama mereka. Apalagi ada anak bupati di antara mereka. Rasanya seperti kami berasal dari dunia yang berbeda.
“Sudahlah, mungkin memang perwakilan dari kabupaten kita itu enam orang, bukan lima. Makanya Bu Wise menyuruh Bara datang. Ya kan, Anna?” kata Cita sambil menoleh ke arah Anna.
Setelah menyimpan sketchbook ke dalam tas jinjing, Anna tampak sibuk dengan ponselnya, entah membaca pesan atau hanya melihat jam, atau mungkin bermain tetris dan semacamnya. Di antara kami berenam, hanya Anna yang memegang HP. Waktu itu, siswa yang punya HP sendiri itu masih jarang, ;ahkan jika diperhatikan, guru pun tidak semua membawa HP ke sekolah. mungkin baru satu dua orang saja yang memilikinya.
“Iya, sudah lah. Kita tunggu saja sampai Bu Wise datang,” kata Anna singkat. Lalu ia menoleh, HPnya ia pegang dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya ia ulurkan kepada saya. “Oh iya, kenalin… saya Anna.”
Saya menyambut uluran tangan gadis berambut panjang ikal ini dengan hangat.
“Bara,” jawab saya singkat.
Asep dan Dedik kemudian ikut menyalami saya sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
Setelah itu saya kembali sedikit menjauh. Saya pamit lalu berjalan ke arah warung Bi Enung, lantas duduk di atas pagar beton pendek di depannya. Warungnya masih tertutup. Tetapi saya ke sana tidak bermaksud membeli apa-apa. Hanya mau sedikit menjauh saja dari yang lain.
Di pinggir jalan itu saya menyalakan rokok sambil sesekali memantau kalau-kalau Bu Wise datang. Beberapa kali saya melirik ke arah gerbang sekolah saat setiap ada kendaraan yang lewat. Tak lama kemudian sebuah mobil angkot berhenti di depan gerbang depan. Saya langsung yakin bahwa itu Bu Wise.
Saya mematikan rokok, lalu berdiri.
Dari kejauhan terlihat teman-teman yang tadi berkumpul di halaman sekolah mulai mendekat ke arah mobil itu. Saya pun berjalan kembali ke sana.
Bu Wise sudah berdiri di depan mereka ketika saya sampai.
“Sudah lengkap?” tanya beliau.
AsBud menyebutkan nama-nama yang hadir. Nizar, Dedik, Cita, Anna.
Lalu Bu Wise menoleh kepada saya.
“Bara sudah datang?”
“Sudah, Bu,” jawab saya pelan.
Bu Wise mengangguk.
Kemudian ia memandang kami semua.
“Yang berangkat ke Jatiluhur hari ini tetap lima orang peserta yang sudah dipilih,” katanya. “Bara ikut bersama kita, tapi bukan sebagai peserta.”
Beberapa teman terlihat saling pandang.
“Saya minta Bara ikut supaya dia bisa melihat langsung bagaimana suasana lomba tingkat provinsi. Anggap saja ini pengalaman.”
Saya hanya mengangguk. Tidak tahu harus berkata apa.
“Sudah, kita berangkat sekarang. Perjalanan masih cukup jauh,” kata Bu Wise.
"Baik bu!" Seru kami.
Tak lama kemudian kami sudah duduk di dalam mobil. Mobil itu milik keluarga Anna, jadi sopir pribadinya Anna yang mengemudi. Anna duduk di kursi depan di samping sopir. Di kursi tengah Bu Wise duduk di sebelah kiri. Saya di tengah, dan Dedik di pinggir dekat pintu. Sementara di kursi belakang duduk Nizar, AsBud, dan Cita
Kabut tipis masih menggantung di beberapa sudut jalan. Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman sekolah. Awalnya tidak banyak yang bicara. Jalanan juga masih lengang. Sesekali hanya terlihat pedagang yang baru membuka warung atau orang-orang yang berjalan menuju pasar saat mobil melewati pasar Singaparna. Saya lebih banyak diam, memandang keluar jendela.
Rumah-rumah kampung perlahan berganti dengan jalan yang semakin lebar. Sawah terbentang di kanan kiri. Matahari mulai naik sedikit demi sedikit, membuat warna langit berubah dari abu-abu menjadi keemasan. Sesekali Cita dan Anna berbicara pelan di kursi depan belakang. AsBud dan Dedik lebih banyak bercanda dengan Nizar. Saya masih lebih banyak diam. Dalam hati saya masih merasa aneh berada di sana. Saya bahkan bukan peserta lomba. Hanya diajak supaya melihat bagaimana suasana lomba tingkat provinsi itu terlaksana.
Singkat cerita, Setelah beberapa jam perjalanan, mobil sempat berhenti dulu di sebuah pom yang ada mini marketnya dan beberapa anak membeli jajanan sambil istirahat sejenak, saya memanfaatkan momen itu untuk merokok di kamar mandi. Agak melelahkan menjadi perokok di usia ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Kini jalan mulai lebih sering menemui tanjakan dan belokan. Saat sudah mendekati tempat perlombaan, pak sopir mungkin sengaja mengajak kami untuk berkeliling dulu. Di kejauhan, bentangan air mulai terlihat. Saya sedikit memajukan badan, mencoba melihat lebih jelas dari jendela. Waduk Jatiluhur. Airnya terhampar begitu luas, seperti laut yang tenang. Permukaannya memantulkan cahaya matahari. Perbukitan hijau mengelilinginya dari jauh. Saya terdiam. Seumur hidup saya, baru kali ini melihat air seluas itu.
“Bagus ya?” tiba-tiba suara Cita terdengar dari belakang saya. Saya hanya mengangguk. Cita itu manis juga kalau dipikir. Hanya saja terlihat seperti tomboy. Rambutnya dipotong pendek tanpa kerudung. Di dalam hati saya sempat muncul perasaan yang sulit dijelaskan, Cita hampir membuat saya jauh hati. Tetapi ini bukan saat yang tepat saya rasa. Bayangan para perempuan yang sempat dekat pun kembali menghiasi pikiran saya.
Kini saat saya menatap waduk itu, ada sesuatu yang menggugah dalam batin saya, sesuatu yang lebih luas daripada kampung, sekolah, atau kehidupan yang selama ini saya jalani. Mobil terus berjalan menuju lokasi lomba. Dan saya belum tahu bahwa momentum ini akan menjadi salah satu hal yang paling saya ingat dalam hidup saya.
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah area yang cukup luas. Beberapa mobil dan bus sudah lebih dulu terparkir di sana. Dari kejauhan terlihat banyak peserta lain dari berbagai daerah. Kami turun satu per satu.
Udara di sekitar waduk terasa berbeda. Anginnya lebih sejuk, membawa bau air yang sejuk pula. Di kejauhan hamparan Waduk Jatiluhur masih terlihat luas membentang.
Panitia sudah menunggu di sebuah meja di dekat pintu masuk. Mereka memeriksa daftar peserta dan sekolah yang datang. Bu Wise menghampiri mereka untuk melakukan registrasi. Kami berenam berdiri tidak jauh dari situ sambil memperhatikan suasana sekitar. Banyak peserta membawa papan gambar, tabung kertas besar, dan tas alat lukis seperti yang kami bawa. Beberapa di antara mereka tampak serius. Ada juga yang terlihat santai sambil bercanda dengan teman-temannya. Setelah beberapa saat, Bu Wise kembali menghampiri kami.
“Kita sudah dapat tempat menginap,” katanya. Ternyata panitia menyediakan penginapan berupa vila-vila satu lantai yang tersebar di sekitar area itu. Setiap sekolah mendapat satu vila. Vila untuk sekolah kami berada tidak terlalu jauh dari tepi waduk. Di sebelahnya ada vila milik peserta dari Kota Tasik. Rupanya panitia memang menempatkan sekolah-sekolah yang berasal dari daerah yang berdekatan di lokasi yang berdekatan juga.
Kami berjalan bersama menuju vila yang dimaksud. Bangunannya sederhana, tapi cukup nyaman. Ada beberapa kamar kecil, ruang tengah, dan teras yang menghadap ke arah pepohonan. Begitu masuk, sebagian teman langsung memilih tempat untuk meletakkan tas. AsBud dan Nizar memilih kamar di bagian depan. Dedik ikut bersama mereka. Cita dan Anna menempati kamar yang lain. Saya sendiri hanya meletakkan tas di sudut ruang tengah, dekat jendela. Dari jendela itu sedikit terlihat permukaan waduk di kejauhan. Bu Wise kemudian mengingatkan kami.
“Lomba baru dimulai besok pagi. Hari ini kalian istirahat saja. Kalau mau melihat-lihat sekitar juga boleh, tapi jangan terlalu jauh.”
Kami mengangguk.
Perjalanan tadi cukup panjang. Sebagian dari kami terlihat ingin langsung beristirahat. Saya duduk sebentar di dekat jendela, memandang ke arah waduk. Angin siang berhembus pelan. Berada di tempat itu membuat saya merasa seperti sedang berada di alam surga. Tanah Priangan.
Malam di villa itu perlahan menjadi lebih sepi. Setelah makan malam dan obrolan yang cukup panjang, satu per satu orang mulai masuk ke kamarnya masing-masing. Lalu percakapan yang tadinya ramai berubah menjadi bisik-bisik di balik dinding kamar.
Saya yang kebetulan satu kamar dengan Nizar mencoba tidur, tapi tidak berhasil. Sementara Nizar dengan mudahnya ia telelap.
Udara malam di daerah itu sedikit lebih dingin daripada udara di kampung saya. Dari celah jendela, bau tanah basah terasa masuk perlahan ke dalam kamar. Ini menggugah saya untuk mengisi waktu sebelum tidur dengan berjalan kaki sendiri, menyusuri alam sekitar, mencari udara dan kesendirian.
Akhirnya saya mengambil jaket saya yang tadi digantung di gantungan belakang pintu lalu keluar pelan-pelan agar tidak membangunkan Nizar.
Lampu teras villa menyala redup. Serangga-serangga kecil berputar mengelilinginya. Dari arah belakang terdengar suara jangkrik saling bersahutan. Saya mulai melangkahkan kaki ke luar dari halaman villa menuju jalan kecil yang hanya cukup untuk dua mobil kecil saja. Begitu sampai di jalan, suasananya ternyata tidak sesunyi yang saya bayangkan. Beberapa warung kopi masih buka. Lampu-lampunya remang. Dii depannya terlihat beberapa motor parkir berderet. Di salah satu warung, sekelompok orang duduk di bangku panjang sambil tertawa keras. Dari obrolan mereka yang terdengar sekilas, sepertinya para guru pengantar yang juga menginap di villa-villa sekitar situ.
Radio dangdut diputar cukup keras dari dalam warung. Bau kopi, rokok, dan gorengan bercampur di udara malam yang dingin. Saya berjalan melewati warung-warung itu. Beberapa orang sempat memperhatikan saya sebentar lalu kembali ke obrolan mereka.
Saya sebenarnya hanya ingin minum kopi sambil menikmati kretek sendiri. Saya tidak sedang ingin ikut duduk di keramaian seperti itu. Terlebih itu bisa jadi mencoreng nama baik sekolah kalau ketahuan saya merokok.
Di ujung jalan, sedikit menjauh dari deretan warung yang ramai tadi, saya melihat satu warung yang lampunya sama redup. Tidak ada motor di depannya. Warungnya kecil terbuat dari kayu dan bambu sarta beberapa triplek atau polywood dengan atap asbes. Di dalamnya hanya ada satu meja panjang dan dua kursi tanpa sandaran yang panjangnya seukuran dengan meja.
Seorang bapak paruh baya duduk di belakang meja sambil mendengarkan radio kecil yang suaranya pelan. Saya berhenti di depan warung itu.
“Masih buka, Pak?”
Bapak itu menoleh.
“Masih dong. Mau kopi a?”
Saya mengangguk. "Kopi hitam deh satu!"
"Oke, sebentar saya buatkan. Manis atau pahit?"
"Sedeng aja pak. Pakai gelas kecil ya!"
"Oke."
Beberapa menit kemudian kopi hitam panas yang disajikan di cangkir seng sudah ada di depan saya. Uapnya naik perlahan. Saya mulai mencium, meniup dan mulai mencicipinya. Kemudian mengambil sebatang rokok yang sedari tadi sudah saya letakan di atas meja menunggu kopi datang.
Saya duduk cukup lama di sana. Radio kecil di warung itu memutar lagu-lagu lama milik Koes plus. Entah siaran mingguan yang kebetulan diputar. Saya teringat Babeh sering menyetel lagu-lagu tersebut. Sesekali suara motor lewat di jalan, lalu kembali sunyi. Si bapak tidak banyak bicara. Hanya duduk sambil sesekali menyeruput kopi juga dari gelasnya sendiri. Sesekali saja berbicara sendiri tetapi agak keras, mungkin berharap saya merespon. Dan ya pada akhirnya saya pun terpancing dan tercipta beberapa obrolan kecil. Saya bercerita sedikit tentang asal dan tujuan saya ke sana.
"Oh jadi gitu ya. Ya sudah nikmati saja, mumpung lagi ke sini kan..." Pungkas nya.
Setelah cukup lama, saya berdiri dan membayar.
“Berapa, Pak kopi sama bala-bala satu, gehu dua?”
“enam ribu sih harusnya, tapi buat ujang mah lima ribu saja, biar pas.”
"Lho, kok gitu pak. Beneran ini? Jadi enak lho saya" sambil merogoh saku celana.
"Udah gak apa-apa. Itung-itung perkenalan. Besok mampir lagi ke sini ya!" Katanya ramah.
"Oke pak. Sambil dengerin lagi Koes plus ya kan?" Balas saya sambil memberikan uang sajumlah yang beliau minta.
"Oh kalau besok siang jadwalnya Tarling" jawabnya sambil mengambil uang kertas yang saya sodorkan. "Hatur Nuhun" katanya lagi.
"Sami-sami." Jawab saya sambil membalikan badan berjalan kembali ke arah kedatangan saya tadi.