Di sana terpasang foto Soeharto dan Hamengkubuwono IX. Tepat di tengah, di antara kedua foto itu, terpasang gagah ukiran Garuda Pancasila. Di bawahnya tertulis jelas "INDONESIA MASIH ADA", dengan warna dan tulisan tangan bergaya klasik. Mereka menghiasi ruang terbuka sebuah kedai kopi di Surabaya. Kedai bertema jadul yang kerap mengadakan sarasehan rakyat.
Di dinding lain yang terbuat dari gedek bambu berjejer foto-foto pahlawan, di antaranya; Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Dewi Sartika, dan Pattimura. Beberapa benda lawas turut menghiasi ruangan itu, sementara di sisi lain tampak ruang-ruang kecil dengan suasana yang berbeda.
Di salah satu meja bambu yang tidak jauh dari foto para pahlawan tersebut beberapa orang tampak asyik mengobrol, rupanya teman lama yang secara kebetulan bertemu di situ tanpa direncanakan.
Percakapan di meja itu tidak pernah benar-benar berhenti. Topiknya berpindah-pindah, dari hal sepele, soal batu akiknya Dharma, Gitarnya Cak Su, tattoo yang dibuat Vierra, koleksi Zipponya Danang, koleksi barang antik pemilik kedai, sampai hal-hal remeh saat mereka masih remaja.
Ketika obrolan sampai pada cerita masa sekolah, Dharma terdiam sejenak, rupanya ada sesuatu yang sedang ia ingat dan ingin ia ceritakan.
“Kalau dipikir-pikir,” katanya pelan, “ada kisah yang asyik buat aku ceritakan.”
Semua pandangan mata kini tertuju padanya, semua pasang telinga, siap untuk mendengar kisah yang akan ia tuturkan malam itu. Dharma menatap sebentar ke arah cangkir kopinya, menyulut kreteknya, lalu melanjutkan kalimat yang ia mulai.
***
Fragmen 6 Hal Sepele
Saat naik ke kelas dua, setelah anak-anak kelas tiga yang dulu sempat mengeroyok Bara keluar dari sekolah, suasana perlahan berubah. Lorong-lorong yang dulu terasa sempit kini terasa lebih lapang. Wajah-wajah yang sebelumnya membuat Bara menunduk, satu per satu tidak lagi terlihat. Sejak itu Bara mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Banyak yang menyapanya, banyak perempuan yang mendekatinya, banyak teman lelaki yang memperlakukannya dengan sangat baik. Hingga pelan-pelan sebuah geng pun terbentuk. Geng yang tidak pernah diresmikan, tetapi orang-orang memberi nama geng tersebut dengan sebutan BB, Barudak Bara.
Di kelas dua, pemerintah menetapkan sistem semesteran, bukan catur wulan lagi. Di kelas dua pula mulai ada penjurusan minat yang mau diambil. Kelas diacak sesuai pilihan jurusan siswanya. Kini Bara mempunyai beberapa teman baru yang masuk. Anehnya mereka semua yang sekarang sekelas dengan Bara sudah mengenal Bara dan selalu menyapa, padahal sebelumnya tidak pernah begitu, bahkan Bara merasa heran saat beberapa perempuan sering memberi sinyal padanya. Salah satunya Cici. Ia salah satu perempuan yang memberi sinyal sangat jelas, tetapi Bara tidak membalasnya dengan cara yang sama. Ia hanya pernah meresponnya satu kali, tepat saat Bara berulangtahun.
Cici berdiri di depan Bara saat bara sedang jongkok dan merokok di depan warung bi Enung. Ia lantas menyiramkan air tepat di kepala Bara, sebelum teman-teman yang lain menyusul melemparkan telur ayam dan tepung terigu. Bara segera berdiri, tanpa pikir panjang ia memeluk Cici erat-erat. Cici berontak, tidak mau ikut terkena lemparan telur dan tepung, tetapi semakin Cici mencoba melepas pelukan itu, semakin erat juga Bara memeluknya. Pada akhirnya Cici menyerah menerima dan membalas pelukan itu. Teman-teman bersorak dan menyanyikan lagu tulang tahun buat Bara. Cici ikut tersenyum dan bernyanyi dalam pelukan.
"Selamat ulang tahun ya Ra...", Cici berkata pelan sambil menatap lekat Bara.
"Makasih Ci." Itu saja yang sempat diucapkan Bara seraya melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di badan Cici.
Kemudian mereka mandi bersama di jamban beratap terbuka, masih dengan seragam mereka yang melekat di badan. Bau badan mereka kini amis, amis yang bercampur tawa bahagia.
Cici tahu Bara tidak sedang mencari hubungan, namun berapa kali Cici masih memperhatikan dan mencoba mendekati Bara, sampai beberapa waktu kemudian Geri bercerita pada Bara bahwa ia ingin sekali mendekati Cici. Dengan segala strategi dan kepercayaan dirinya, akhirnya ia berhasil merebut perhatian Cici dari Bara.
Di dalam geng itu memang pada akhirnya pada punya pasangan, selain Cici dan Geri, ada pula pasangan Ricky dengan Elia, Irfan dengan Adel, Dagus dengan Meta dan Rema dengan Alis bgt akhirnya Geng ini menjadi seperti sebuah keluarga yang hangat. Bahkan suatu kali mereka ikutan lomba akapela saat ada acara PORSENI. Dan mereka memang menjadi juara dua. Tetapi diantara para pasangan ini, hanya Bara yang memilih sendiri. Mungkin ia masih membawa sisa-sisa masa lalunya dengan Heni, Bunga, Suri, atau dengan hal-hal yang tidak pernah benar-benar diketahui oleh teman-temannya. Bisa jadi bukan hanya soal perempuan. Tetapi ya, ia memilih sendiri.
***
Suatu sore, beberapa waktu setelah Geri dan Cici pacaran, di warung tongkrongan mereka, seorang lelaki bermotor F1ZR yang saat itu cukup digandrungi, datang dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat. Wajahnya menunjukkan kekesalan.
“Ari Geri aya?” lelaki itu langsung bertanya sesaat setelah ia memarkirkan motornya.
Karena gelagatnya mencurigakan, Bara menjawab "Geri tidak ada di sini A!" katanya sambil bersiap masuk ke dalam rumah Bi Enung yang menyambung ke warungnya itu.
"Lha ini bukannya motor Geri ya?" Tanya nya sambil menunjuk sebuah motor Honda grand yang sudah terparkir tepat di samping motor nya.
Irfan cepat menjawab “Motor itu saya yang bawa, A!”
Sementara itu Bara sudah di dalam menemui Geri yang sedang mencuci pakaiannya yang robek dan penuh darah di kamar mandi rumah Bi Enung itu. Ia membisiki Geri supaya pulang duluan ke Pos 2 dengan jalan kaki lewat jalan belakang menyusuri gang dan pematang sawah. Kunci motor Geri yang dari tadi tergeletak di meja ruang tengah akhirnya Bara ambil, dan pada saat pemuda tadi lengah langsung diserahkan pada Irfan sambil melewatinya lantas mengajak ia pulang.
"Ayo Fan, kita pulang!"
"Oh, ayo. Sebentar saya bayar dulu." Kata Irfan seraya berhitung.
Bi Enung yang saat itu menerima uang dari Irfan diberi kode tertentu rupanya, tetapi ia masih kebingungan. Irfan segera mengambil motor dan berangkat bersama Bara menuju pos 2 yang dimaksud tadi. Sementara pemuda itu beberapa saat menunggu, mungkin memastikan bahwa geri tidak disitu. Mungkin menunggu sampai Geri ke luar. Padahal Geri sudah sejak tadi ke luar lewat belakang, menuju pos 2 dengan berjalan kaki sendiri.
Singkat cerita, kini mereka sudah berkumpul di Pos 2, atau kadang mereka menyebutnya markas 2. Markas 2 ini sebetulnya rumahnya Ricky. Anak-anak sering kumpul di sana, bahkan sering menginap dan berangkat ke sekolah dari sana.
Ricky yang menyambut kedatangan Irfan dan Bara langsung menanyakan keberadaan Géri. Mereka sendiri tidak yakin, tetapi malah tertawa.
“Hahaha, belum sampai juga ya dia?” tanya Irfan.
“Dia tadi aku suruh jalan ke sini, Rick,” sahut Bara.
“Lha terus?” tanya Ricky heran.
“Udah, tunggu aja. Nanti juga nongol,” lanjut Bara. “Tadi ada cowok, anak kuliahan atau mungkin pengangguran, pakai F1 datang nyariin Geri. Si Geri sendiri habis berantem sama si Cucuk.”
"Ada masalah apa si Cucuk?
"Gak tau juga tuh. Dia belum cerita."
“Terus siapa cowok itu?”
“Gak tahu juga lagi. Tapi kelihatannya emosi. Daripada Geri kena masalah lagi, ya aku sama Irfan langsung improv aja.”
“Iya, Rick… ngeri kok,” tambah Irfan.
Dari kejauhan terdengar suara motor Vega R milik Hilmi mendekat. Setelah memarkirkan motornya di halaman, ia langsung menyalami mereka, lalu duduk di teras, menyandar pada tiang rumah sambil tetap mendengarkan musik dari headset yang tersambung ke walkman-nya.
"Kalian pada kenapa sih? Serius amat." Tanya Hilmi sambil mengangguk-anggukan kepalanya mendengar alunan musik Nirvana, band andalannya. Sesekali ia ikut bernyanyi.
"Au ah." Kata Irfan.
"Udah biarin aja." Sahut Ricky. "Atau jangan-jangan cowok itu si Kuya yang lagi deketin Cici Ra?" Tanya Ricky curiga.
"Nah, bisa jadi. Kita tunggu saja si Geri, Nanti kita interogasi dia."
"Iya bener. Gitu aja" Irfan menutup pembicaraan mereka.
Si Hilmi masih ngangguk-nganguk merem melek. Kali ini ditambah kaki dan tangannya tidak bisa diam, bergerak-gerak saperti seseorang yang sedang main drumb. Sesekali terlihat memperagakan pemain melodi yang malah terlihat seperti orang yang kejang-kejang.
Irfan menyentil puntung rokok di tangannya, ia terlempar ke arah jalan. Dan dari ujung jalan Geri berjalan sedikit pelan. Ia hanya mengenakan kaos dalam, sementara pakaian putihnya ia genggam dalam keadaan masih basah.
"Woiii... Sialan. Kenapa gak ada yang jemput aku di pinggir jalan hah? Capek tau..." Geri sedikit berteriak sambil kini mempercepat langkahnya mendatangi teman-temannya di teras.
“Nah itu dia orangnya,” kata Irfan sambil menunjuk ke arah jalan.
Geri naik ke teras dengan napas agak berat. Kaos dalamnya menempel pada badanya yang berkeringat itu. Pakaian putih yang tadi ia genggam kini dilempar ke lantai begitu saja.
“Gila kalian. Masa aku disuruh jalan sendiri,” gerutunya sambil duduk selonjoran.
Bara hanya tersenyum. “Masih mending kamu selamat, Ger. Udud dulu tuh, biar tenang...”
Hilmi yang dari tadi tenggelam dalam musiknya, membuka satu sisi headset. “Anjir… kenapa kamu Ger? Abis mandi di got?”
Semua orang akhirnya tertawa.
Ricky mencondongkan badan, matanya mengarah ke pakaian putih yang penuh bercak merah. “Itu bajumu merah-merah kenapa?”
Geri diam sebentar. Tangannya mengusap wajah, lalu menarik napas panjang.
“Diem dulu Rick. Mending ambilin air putih dulu deh. Haus ini...” jawabnya.
“Lah, tadi yang nyariin kamu ke warung itu siapa?” Tanya Irfan. “Pake F1. Mukanya udah emosi, murka tak tertahan.”
Geri langsung menoleh cepat. “itu si Kuya!”
“Nah kan benar kan... Rick, beneran si Kuya!” Bara sedikit berteriak, Supaya terdengar sama Ricky yang sedang mengambilkan air putih ke dalam. “Makanya aku suruh kamu cabut duluan tadi. Kalau enggak, kamu bisa ribut dua kali.”
Suasana seketika hening. Hilmi pun kini benar-benar melepas headset-nya.
“Ger…” sambil memberikan segelas air putih, Ricky menepuk pelan tiang di sampingnya. “kamu abis ngapain sih?”
Sambil minum Geri mengangkat tangannya ke arah Ricky, memberi isyarat menahan dulu pertanyaan-pertanyaan teman-temannya itu. Kemudian ia menyimpan gelas itu di sampingnya, lantas melirik satu per satu wajah di depannya.
“Penasaran ya? Hehehe...” tanyanya sambil bercanda. Gigi depannya yang hitam terlihat saat ia tertawa seperti itu.