Selimut hitam di angkasa di atas langit Surabaya tidak dapat menina bobokan Dharma, di warung kopi yang mulai sepi diiringi musik jazz dari hand phone nya, Dharma masih duduk dan menikmati suasana. Bunyi sendok beradu dengan gelas dari dapur syahdu, menambah harmoni malam itu.
Fragmen 7. Serpihan
Mas Zul datang membawa secangkir kopi hitam untuk saya, sementara di tangannya sudah ada segelas kopi susu favoritnya yang katanya dibuat memakai susu Mbak Murni.
"Masih betah?" tanyanya sambil duduk di kursi depan saya.
Saya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau lagi di sini mah suka lupa waktu, Mas."
Mas Zul tersenyum. Senyum khas dengan bibir yang mirip dengan bibir Ismaya dalam cerita pewayangan.
"Baguslah. Berarti kopi saya bikin orang betah. Nih, gratis buat pelanggan setia ku." Sambil menyodorkan cangkir itu di meja tepat di hadapan saya. Menggeser cangkir lain yang sudah kosong. Beberapa saat kemudian ia menyeruput kopinya. Saya hanya mengangguk kecil lantas berterimakasih.
"Makasih lho mas, jadi ngerepotin lho..."
"Halah, gak apa-apa, sesekali aja lho... Eh, ngomong-ngomong, tadi saya sempat dengar kamu nyebut bara, bara, gitu. Itu nama orang ta? Kalau iya, itu nama yang unik. Tadi pas kamu cerita saya lagi ngelayanin pembeli, jadi gak sempat nimbrung deh."
Saya mengaduk kopi pelan.
"Rahasia tapi nih..."
"Lho, rahasia?"
"Bara itu sebetulnya Ranger Merah Mas".
"Halah, Power Ranger itu... hehehe..." Senyum khas nya Mas Zul membuat Suasana lebih hangat.
"Oke, kalau gitu mau nyeritain lagi cerita tadi apa gimana nih?"
Saya menggeleng pelan. "Enggak lah, bosen saya harus ngadain siaran ulang. Saya lanjut aja ke fase setelahnya. Gimana, mau dengerin? Soalnya lanjutan cerita itu, pas di kelas 3 makin seru. Ini Saat dimana saya mulai jatuh cinta lagi soalnya."
Saya menyeruput kopi sambil memastikan mas Zul mau denger atau cuma basa-basi saja.
"Oke deh, ceritakaaaaan... Tapi kalau nanti ada yang pesan, saya tinggal dulu gak apa² ya?"
"Bisa diatur, santai aja.." jawab saya seraya memulai cerita.
"Jadi ceritanya bentrok-bentrok kecil antara geng Bara terus berulang sama geng Sanggiri, barudak Abah. Lama-kelamaan mereka pecah. Sebagian malah bergabung dengan BB, Barudak Bara."
" Walah ada Barudak Bara segala nih..."
"Iya dong, lagi keren-kerennya tuh si Bara waktu itu, hehe..."
"Iya deh Aa. Saya nyimak dulu aja." Katanya dengan medok kas Jawa Timur.
"Oke, Saya lanjut njih ceritanya..." Kata saya sambil melanjutkan cerita.
"Suatu hari, Elia Pratiwi diam-diam memesan sketsa potret dirinya kepada saya. Tanpa sepengetahuan Ricky Kusumah pacarnya yang juga teman saya. Saya melukisnya sungguh-sungguh. Hasilnya cantik. Bukan cantik yang dibuat-buat. Elia memang fotogenik. Badannya tinggi, rambutnya digerai dengan pose yang wow deh. Mungkin Ricky aja gak pernah ngelihat foto yang itu. Tapi jujur nih ya, saya menikmati kecantikannya hanya sebagai seorang pelukis."
Mas Zul mengangguk angguk, lantas menyondongkan badanya ke arah Saya menggoda...
"Yakin professional nih?"
"Iya lah... Ada sih naksir dikit, hehehe... Tapi cuma sedikit."
"Hehehe gak apa-apa lah wajar. Berarti kamu normal. Terus?"
"Terus singkat cerita saya naik kelas 3. Soal Elia kita skip dulu ya... Nah pas masuk kelas tiga itu rupanya kelas diacak. Yang masih satu kelas dengan saya tinggal Irfan, Geri, Dagus, Alis, Norma, dan Ina Dewanti. Yang lain berpencar. Hilmi juga. Baru di kelas tiga itulah saya sama Hilmi benar-benar tercerai. Bayangkan, sejak MTs kami selalu satu kelas."
Mas Zul memandang saya beberapa saat.
"Berarti Hilmi ini teman lama ya?"
"Iya mas. Udah dari MTs saya sekelas terus lho..."
"Oh gitu. Kebayang deh. Baik, lanjut!"
"Sejak kelas diacak, ritme hidup saya ikut berubah. Orang-orang membentuk kelompok baru. Pos 2 masih ramai. Warung bi Enung masih ramai juga nambah ramai malah. Tiga kantin di belakang sekolah juga tetap penuh. Tidak ada yang berubah... Tapi semuanya terasa berbeda."
Saya memandangi permukaan kopi yang masih hangat.
"Saya tetap dikenal. Tetap disapa. Tapi di dalam diri, ada ruang kosong yang seperti sedang menunggu seseorang... atau mungkin sesuatu."
Mas Zul masih menyimak.
"Geng tetap jalan seperti biasa. Hanya saja saya mulai sering pulang bersama teman-teman baru. Kadang kalo pas lagi malas pulang saya duduk sendirian di pinggir lapangan basket menjelang sore. Elia ikut club basket juga soalnya, he..."
"Nahh kan, katanya itu di skip dulu..."
"Iya-iya... Gara-gara sampeyan sih, jadi keinget si Elia terus saya. Serius mas, saya suka duduk aja nikmatin suasana. Ya kayak sekarang ini. Kadang lagi duduk gitu Ricky nyamperin. Mungkin duduk sambil nunggu pacarnya. Huh..."
"Biasa saja lho... Kok pake huh segala?
"Iya, iya, saya biasa saja. Tapi mas, waktu itu saya memang lebih sering betah sendiri."
"Lha ngapain? Bertapa sambil nyari jawaban gitu?" tanya Mas Zul.
Saya menggeleng pelan.
"Belum. Waktu itu saya bahkan belum tahu persis pertanyaannya."
"Oke. Terus tadi tuh, habis kelas diacak itu gimana?"
"Ceritanya kan kantin Bi Enung tetap jadi markas utama kami. Nah, tapi sekarang kami punya markas lain. Wartel Dera. Wartelnya tepat di depan sebuah hotel kecil di dekat pasar. Jadi kita juga lumayan sering nongkrong di sana."
"Wartel ya? Arek kok tongkrongannya wartel rek, rek... hehehe..."
"Iya mas. Zaman itu kan HP belum kayak sekarang. Wartel bukan cuma tempat nelepon. Lama-lama malah jadi tempat nongkrong."
Saya mengambil sebatang rokok,
"Hampir setiap sore kami ngumpul di sana. Gitaran. Dengerin radio. Kadang nelepon penyiar radio cuma buat nitip salam buat kenalan di udara atau request lagu. Sekarang kedengarannya sepele, tapi dulu itu hiburan yang luar biasa kan mas?"
Mas Zul ikut tersenyum.
"Iya, aku juga ngalamin itu."
"Generasi sekarang gak bakal tahu keasyikan kita dulu ya, hahaha..."
"Kayaknya sih begitu."
"Saya ingat persis renyahnya suara almarhum téh Indie penyiar Style Radio yang suka saya telepon. Di darat saya baru kenal téh Indi malah setelah saya lulus kuliah, hehehe..."
Saya menyesap dulu rokok yang tadi saya keluarkan diantara bibir dan hidung Saya. Sesaat kemudian menyulutnya lalu melanjutkan cerita.
"Kok malah bahas lulus kuliah sih?"
"Eh enggak. Cuma keinget aja. Oke kita balik ke masa sekolah. Di masa itu saya lebih sering main ke rumah Ricky."
"Yang pacarnya Elia tadi?"
"Iya. katanya gak usah bahas itu?"
"Lho ini kan cuma memastikan."
"Oh ngono....oke... Saya cerita dulu dikit nih mas. Ricky itu ayahnya tinggal di Bandung. Ibunya sudah meninggal sejak SD kalau gak salah, tetapi katanya ayahnya gak akan nikah lagi sebelum Ricky Lulus SMA. Nah karena dia piatu dan gak punya saudara di Bandung, akhirnya selama SMP sampai SMA dia tinggal di rumah bibinya di Tasik. Di rumah itulah saya kenal sama sepupunya. Namanya Tika."
Saya berhenti sejenak.
"Nah, mulai masuk nih..."
"Apanya nih?"
"Ya itu Tika tadi."
"Oh... Sek ta lah... Saya lanjut dulu..."
"Iya, lanjut!" Mas Zul mengiyakan.
"Tika sering ikut nongkrong sama kami. Kadang datang bareng teman-temannya, Dari wartel itulah saya mulai kenal anak-anak sekolah lain. Ada Endil yang sekarang jadi anggota TNI di Provinsi, Ada Molé yang sekarang jadi pengusaha tembakau, dan beberapa orang lagi."
"Berarti pergaulanmu makin luas waktu itu ya..."
"Iya lah mas. Waktu itu kadang kami pindah nongkrong ke depan terminal. Dekat telepon umum yang pakai koin. Seringnya mah bukan karena penting mau nelepon siapa. Cuma gaya-gayaan anak SMA saja."
Mas Zul tertawa kecil.
"Namanya juga anak muda."
Saya ikut tersenyum.
"Tika orangnya gampang akrab, sedikit ceplas ceplos, loyal sama teman, tapi selera humornya agak rendah sih. Tapi saya baru sadar, ternyata doi pandai menyembunyikan sesuatu"
"Wah, menyembunyikan apa nih?"
"Sandal jepit." Jawab Saya bercanda. "Ya rahasia lah..."
Saya hisap perlahan kretek yang tadi saya sulut.
"Di usia SMA, di Balik kerudung yang selalu dikenakan saat bersekolah, rupanya dia suka merokok dan minum-minuman keras."
"Lho, Ricky gak tahu?"
"Iya. Ricky gak tahu. Waktu itu yang tahu cuma saya. Kalau lagi di Wartel Dera dan Ricky lagi gak ada, Tika suka ngajak saya ke belakang."
"Di belakang wartel?"
"Iya. Ngerokok sambil ngobrol."
"Cie, malah berduaan sama Neng Tika nih... Ngobrol apa aja biasanya?"
"Macam-macam mas. Kadang soal sekolah, teman, cita-cita, kadang juga soal keluarga."
Saya menarik napas pelan.
"Makin sering ngobrol, saya makin sadar kalau Tika masih menyimpan rahasia lain yang menjadi beban berat buat dia."
"Ayahnya jarang pulang. Lebih sering tinggal di rumah istri-istri mudanya. Waktu itu ayahnya punya empat istri. Dulunya beliau kerja di TELKOM. Saya gak tahu bagaimana kehidupan keluarganya secara utuh. Yang saya tahu, Jika sedang bersama saya, ia sering berkeluh kesah dan sering merasa sendirian."
"Punya Istri empat? luar biasa..."
"Iya, empat Mas!"
Mas Zul semakin menyimak, sesekali ia pun menghisap rokoknya yang sama-sana kretek.
Saya melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Suatu sore mas, setelah cukup lama berbagi cerita. Lebih tepatnya ia yang banyak cerita sih, Tika ahirnya bercerita tentang sesuatu yang selama ini benar-benar dia pikul sendirian."
Saya menunduk beberapa saat, kemudian menghisap kretek saya dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan.
"Dia pernah menjadi korban kekerasan seksual."
Warung mendadak terasa sunyi. Mas Zul menyimak kisah yang saya tuturkan dengan lekat.
"Katanya, waktu ada iring-iringan yang melibatkan siswa-siswi dari beberapa sekolah, dia diajak temannya Ani kenalan sama cowok sekolah lain. By the way Tika gak satu sesekolah Sama saya ya mas."
"Oh, terus?"
" Nah, terus setelah kenalan, Ia diajak ke kebun teh di Taraju. Disana katanya dia diajak ke sebuah rumah, milik teman barunya itu tadi. Katanya rumah tersebut jarang ditinggali. Singkat cerita mereka minum-minum disana. Nah Tika dicekoki minuman, walaupun dia suka minum juga, tapi saat itu dia minum terlalu banyak sampai mabuk berat. Nah saat ia mabuk berat itulah lima siswa dari sekolah lain tadi memperkosanya secara bergiliran. Temannya Ani tadi gak tau dimana. Katanya mereka terpisah. Entahlah. Kan saya juga cuma dapet cerita ya..."
Mas Zul meletakkan gelasnya lalu mengelus dada.
"Astaghfirullooh..."
"Saya juga kaget, Mas. Marah. Sedih. Campur aduk."
Saya menghela napas.
"Lalu saya diberitahu juga kalau Tika rupanya punya pacar seorang bandar miras, obat-obatan, bahkan ganja. Soal kekerasan seksual itu Tika gak ngomong ke pacarnya. Malah pacaran sama bandar sekaligus pengedar kayak gitu bikin Tika makin frustasi. Tika berkali-kali minta putus. Tapi selalu gagal."
"Wah tragis ini. Lalu soal ini Ricky tahu?"
"Soal apa nih, soal pacaran sama bandar narkoba atau soal pemerkosaan?"
"Ya soal keduanya lah."